Tawa melengking dari sudut ruangan itu seperti cambuk dingin yang menyentak Vivian. Bukan lagi rasa takut yang mendominasi, melainkan amarah membara. Dari balik tirai beludru yang lusuh, Renata muncul, senyumnya penuh kemenangan yang menjijikkan.Renata mengenakan gaun sutra merah marun yang terlalu mewah untuk tempat ini, kontras dengan debu dan keusangan vila. Rambutnya disanggul tinggi, riasannya tebal, berusaha menutupi garis-garis lelah di wajahnya. Matanya, setajam belati, menatap Vivian dengan tatapan merendahkan."Renata," desis Vivian, suaranya tercekat. Tangannya mengepal erat, kuku-kukunya menusuk telapak tangan. "Di mana Juno?"Renata tidak menjawab. Ia malah berjalan mengitari kursi berlengan tua yang ditutupi kain putih, seperti kucing besar yang mengintai mangsanya."Kau selalu terburu-buru, Vivian," katanya lembut, namun setiap kata mengandung racun. Ia menyentuh pinggiran kursi dengan ujung jarinya, seolah menilai nilainya. "Duduklah. Kau pasti lelah setelah perjalana
Last Updated : 2025-12-09 Read more