Lampu kristal di kamar Aira memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Aira berdiri di dekat jendela besar yang tertutup tirai tipis, jemarinya terus memilin ujung blusnya. Ia tidak bisa tenang. Kalimat Adriel di lobi tadi terus bergema di kepalanya, memicu debaran jantung yang nyaris menyakitkan.Aira melangkah menuju meja rias, lalu berbalik lagi menuju sofa, dan akhirnya berhenti di dekat tepi ranjang. Pikirannya melayang pada sosok Selena yang begitu percaya diri dan kata-kata tajam Leonidas tentang ahli waris.Tok, tok, tok.Tubuh Aira menegang seketika. "I-iya, masuk," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar.Pintu terbuka, dan Adriel melangkah masuk. Ia sudah tidak mengenakan jasnya lagi, bahkan kemeja abu-abunya kini dibiarkan terbuka pada dua kancing teratas, memperlihatkan pangkal lehernya yang kokoh. Namun, yang membuat Aira menelan ludah adalah tatapan pria itu."Silakan... silakan duduk, Adriel," ucap Aira kikuk. Ia menunjuk ke arah sofa kecil di sudut kamar, sementar
최신 업데이트 : 2026-02-12 더 보기