LOGINSeumur hidup, Aira dipaksa menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Namun, saat perusahaan keluarga ayahnya berada di ambang kolaps, ia mendadak dijadikan tumbal yang dijual kepada seorang monster. “Menikahlah dengannya. Setelah itu, kamu boleh mati, yang penting keluarga ini selamat,”. Aira diserahkan kepada Sir V, konglomerat misterius. Pria itu konon mampu menghancurkan sebuah dinasti bisnis hanya dalam waktu satu malam. Bagi Aira, pernikahan ini bukanlah awal kehidupan baru, melainkan vonis mati yang tertunda. Namun, di balik gerbang mansion megah yang ia takuti, kenyataan justru berputar seratus delapan puluh derajat. Saat dunia mengira Aira akan dibuang setelah Sir V bosan, sang tiran itu justru mulai menunjukkan taringnya pada siapa pun yang berani menyentuh istrinya. Pria yang dikenal tak memiliki hati itu kini justru menjadi pihak yang mengejar, terobsesi untuk memenangkan hati gadis polos yang selama ini dianggap sampah tak berharga.
View MoreCapítulo 1
Maria Luíza Duarte Desci as escadas de casa correndo, com um sorriso no rosto e um envelope na mão. Eu queria surpreender o Marco, contar sobre o laudo médico e como os resultados foram bons. A porta de Marco estava apenas encostada. Coloquei a mão na maçaneta e a abri devagar. Meu coração acelerou imediatamente. — Marco? — Uma dor aguda atravessou meu peito. Marco estava ali... completamente nu, sobre outra mulher, que gemia enquanto se agarrava ao pescoço dele. No mesmo sofá onde eu estive ontem, onde ele tentou me tocar, mesmo sabendo que era um dos soldados do meu pai, e eu poderia ser exilada por isso. A cena ficou gravada em minha mente. Ele parecia tão satisfeito com ela. Ouvi seus gemidos de prazer quando ele se afundou entre suas pernas, e aquilo queimou dentro de mim. Amassei o envelope na mão e joguei com força em Marco, e ele se levantou num salto, surpreso. — MALU? CO... COMO VEIO PARAR AQUI? — gritou, ainda nu, enquanto avançava na minha direção. Mas antes que ele pudesse me tocar com aquelas mãos nojentas, eu peguei um vaso de flores e joguei a água sobre os dois, espalhando cacos de vidro pelo chão com o impacto quando lancei contra a parede." — FICA LONGE DE MIM! Bati a porta com força e saí correndo de volta para meu quarto em lágrimas. Eu só queria me sentir livre, só queria um relacionamento saudável, e um namorado que me ama. Mas estava enganada. Marco apenas era um fantoche masculino, “ele me traía!" “Não vou perder o controle, não vou!“ — Disse a mim mesma, olhando pelo espelho. Limpei o rosto, apliquei uma maquiagem leve e decidi passear no jardim como se nada tivesse acontecido. Quando passei pelo escritório do meu pai, meu nome foi mencionado. “Meu pai está planejando uma surpresa para mim?“ Aproximei-me lentamente, colocando meu ouvido perto da porta. Quando eu estava prestes a escutar, num descuido me assustei com uma figura forte e imponente que passou por mim, me fazendo derrubar a bandeja com tudo no chão..." — Presta atenção, porra! — estremeci com a voz grossa e alta, praticamente gritando comigo quando me ajoelhei para juntar os cacos. Ergui a cabeça rapidamente, colocando a mão no peito com o susto. Era um homem lindo, cheirava muito bem, seus olhos azuis chegavam a brilhar, contrastando com seus cabelos naturais e loiros. Pensei que teria um enfarto, mas me lembrei que o diavolo era o anjo mais bonito do céu, e voltei à realidade. — Quem é você? — perguntei e vi que o homem me olhou por dois segundos, bufou e me ignorou. De repente meu pai abriu a porta do escritório, e me deparei com vários homens bem vestidos, de terno e gravata que me olhavam estranho, ao lado do Don. — Filha, esse é Alexei Kim, o Don Antony acabou de fechar um novo acordo, você se casará com ele em três dias — soltei o pedaço de louça da mão, deixando cair. — A... Alexei? — gaguejei, parecendo olhar para o próprio demônio. — M...Mas ele já não tem esposa? — Filha, a esposa de Alexei faleceu no parto. Ele é o novo Don da Rússia, precisa de uma esposa imediatamente — meu pai parecia apenas me informar. — Então, essa substituta seria... eu? — soltei as palavras pausadamente, sentindo algo amargo na garganta. Vingança é um prato que se come frio, não é?Di balik kaca pembatas anti-peluru, Dimitri menunduk, membiarkan air mata membasahi wajahnya yang tirus dan kasar. Kedua bahunya berguncang teramat hebat. Rantai borgol di pergelangan tangannya bergemerincing nyaring setiap kali ia menarik napas."Mama," isak Dimitri. "Maafkan aku. Maafkan aku."Wanita berwajah kaukasia itu, Helena, menempelkan kedua telapak tangannya yang keriput di atas permukaan kaca."Tidak, tidak ada yang perlu dimaafkan," tangis Helena. Ia menatap wajah putranya dengan kepedihan. "Mama yang salah. Mama yang seharusnya meminta maaf padamu, Dimitri. Mama tidak bisa melindungimu. Mama membiarkanmu menanggung dendam yang bukan milikmu."Dimitri menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia mendongak, menatap ibunya dengan mata merah."Aku meninggalkan Mama," racau Dimitri di sela isak tangisnya. "Aku mengabaikan panggilan telepon Mama. Aku nekad datang ke Jakarta demi mengejar pengakuan dari seorang kakek yang bahkan tidak pernah tahu aku hidup. Aku sangat bodoh. Aku mengor
Bibir Dimitri yang kering bergetar pelan, sebelum akhirnya sebuah tawa penuh kepahitan meledak. Rantai borgol di pergelangan tangannya bergemerincing sewaktu bahunya berguncang."Halo?" kekeh Dimitri dengan suara serak yang memuakkan, menatap Aira dengan kebencian. "Hanya itu? Setelah semua yang kamu dan suami iblismu itu lakukan padaku, kamu datang hanya untuk berbasa-basi?"Aira tidak terpancing. Ia duduk tenang. "Aku datang untuk melihat keadaanmu, Dimitri. Dan untuk menyelesaikan satu urusan terakhir yang masih mengikat kita berdua.""Menyelesaikan urusan?" potong Dimitri cepat. Matanya berkilat beringas. "Apalagi yang mau kamu selesaikan, Aira?! Apalagi yang mau kamu ambil dariku?! Rumah Menteng sudah jatuh ke tangan pesuruh itu! Seluruh harta Guntur sudah masuk ke kantongmu! Rekeningku dibekukan! Aku sudah membusuk di tempat jahanam ini! Apalagi yang kamu inginkan?!""Aku tidak pernah berniat mengambil apa pun yang bukan hakku. Semua yang terjadi padamu saat ini adalah hasil dar
Pagi yang cerah di awal bulan Desember terasa begitu hangat, setelah tiga bulan berlalu sejak badai besar mereda."EJ! Sayang, pelan-pelan larinya! Nanti kamu menabrak meja, Nak!" seru Aira, setengah berlari menyusuri lorong berlantai marmer.Si kecil EJ kini sudah genap berusia satu tahun. Ia tampak berlari lincah dengan kaki-kaki mungilnya. Balita cantik yang mengenakan gaun katun bermotif bunga matahari itu tertawa kegirangan, menoleh ke belakang untuk melihat ibunya yang kewalahan mengejar."Nona EJ! Ya ampun!" seru Nora yang ikut berlari kecil dari arah berlawanan, mencoba mencegat laju si balita.EJ memekik girang. Ia tiba-tiba berbelok tajam ke arah pintu kamar utama yang terbuka separuh, mencoba menghindari hadangan Nora.Namun, sebelum tubuh mungil itu berhasil menerobos masuk, Adriel sudah lebih dulu menangkapnya dari ambang pintu. Adriel mengangkat tubuh putrinya tinggi-tinggi ke udara, membuat EJ kembali tertawa yang nyaring."Mau lari ke mana jagoan kecil Papa, hm?" goda
Aira berdiri diam bersandar pada kusen pintu kaca balkon yang terbuka separuh. Ia membiarkan angin pagi membelai helai-helai rambut hitam panjangnya yang tergerai. Ia menatap jauh ke hamparan langit. Pagi ini, langit ibu kota tampak begitu cerah dan bersih, seolah badai yang sempat mengguncang telah disapu bersih tanpa menyisakan awan sedikit pun.Aira menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan.Klek.Suara putaran kenop pintu kamar mandi yang terbuka membuyarkan lamunan Aira. Ia memutar tubuhnya perlahan.Adriel melangkah keluar dari balik pintu kaca buram tersebut. Ia baru saja selesai mandi. Langkah kaki Adriel melambat saat matanya menangkap siluet sang istri.Aira berdiri di ambang balkon, bermandikan pendaran cahaya keemasan pagi yang membuat gaun satin gadingnya seolah bercahaya. Wajah cantik istrinya itu tampak begitu damai.Adriel mendekat tanpa bersuara.Aira tidak beranjak dari tempatnya. Ia hanya memiringkan kepala, menyunggingkan senyuman manis sewaktu melihat su
Uap hangat membubung tinggi di dalam kamar mandi mewah Presidential Suite tersebut. Bathtub marmer berukuran raksasa itu telah terisi penuh dengan air hangat yang beraroma essential oil mawar dan cendana. Di luar dinding kaca, lampu-lampu Jakarta masih berkedip.Aira duduk di pangkuan Adriel, pungg
Restoran privat itu berada di lantai paling atas, sengaja dipesan oleh Leonidas Varmadeo untuk bisa menghabiskan istirahat siang dengan makan siang bersama. Leonidas duduk di tengah, di sisi kanan ada Alexander. Sementara di sisi kiri, Catarina yang paling antusias dengan kebiasaan macam ini.“Kali
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka ove
Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris










![Belongs to The Billionaire Brothers [INDONESIA]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore