LOGINSeumur hidup, Aira dipaksa menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Namun, saat perusahaan keluarga ayahnya berada di ambang kolaps, ia mendadak dijadikan tumbal yang dijual kepada seorang monster. “Menikahlah dengannya. Setelah itu, kamu boleh mati, yang penting keluarga ini selamat,”. Aira diserahkan kepada Sir V, konglomerat misterius. Pria itu konon mampu menghancurkan sebuah dinasti bisnis hanya dalam waktu satu malam. Bagi Aira, pernikahan ini bukanlah awal kehidupan baru, melainkan vonis mati yang tertunda. Namun, di balik gerbang mansion megah yang ia takuti, kenyataan justru berputar seratus delapan puluh derajat. Saat dunia mengira Aira akan dibuang setelah Sir V bosan, sang tiran itu justru mulai menunjukkan taringnya pada siapa pun yang berani menyentuh istrinya. Pria yang dikenal tak memiliki hati itu kini justru menjadi pihak yang mengejar, terobsesi untuk memenangkan hati gadis polos yang selama ini dianggap sampah tak berharga.
View MoreDi depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.
Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.
“Selamat siang, Nona Aira,” sapa sopir yang menjemputnya dengan sopan. “Perjalanan kita kurang lebih tiga puluh menit.”
Aira mengangguk pelan, sambil meremas rok panjangnya agar tangannya berhenti gemetar.
Mobil bergerak perlahan meninggalkan halaman. Sepanjang lima menit pertama, hanya suara mesin yang terdengar. Aira menatap keluar jendela, melihat rumahnya menjauh, kemudian menghilang.
Dan mungkin terakhir kalinya dia melihat rumah itu.
“Saya dengar, Anda akan bertemu Sir V,” tukas si sopir.
Aira tersentak. “Y-ya…” suaranya hampir tak terdengar.
Hari ini ia memang diperintahkan oleh sang ayah untuk bertemu dengan pria yang dipanggil Sir V, pria paling tersohor di negara ini. Katanya, Sir V akan membantu perusahaan keluarga mereka agar tidak jatuh bangkrut, dengan syarat sebuah pernikahan.
Aira tak bisa menolak meski ingin. Percuma, suaranya tak akan pernah didengar.
“Maafkan saya, Nona, tapi izinkan saya memberi peringatan kecil.” Sopir itu tampak ragu sejenak. “Sir V itu… bukan lelaki biasa.”
Aira merasakan detak jantungnya meningkat.
“Katanya, dia pernah, melempar seorang direktur dari lantai enam gedung perusahaannya sendiri,” lanjut si sopir.
Aira langsung membeku. “A-apa, Pak? Me-melempar dari lantai enam?”
Sopir itu mengangguk berat, seakan tidak menyadari betapa pucat wajah Aira sekarang, ia melanjutkan, “Sir V pernah menghancurkan sebuah perusahaan rival dalam waktu 24 jam. Hanya sehari. Perusahaan itu berdiri selama 30 tahun lebih dan lenyap begitu saja.”
Aira merapat ke pintu mobil, seolah ingin melarikan diri. “Bagaimana… bagaimana bisa?” bisiknya gemetar.
“Bahkan pemerintah pun memilih tidak berurusan dengannya.”
Aira menggigit bibir hingga hampir berdarah. Tangannya gemetar luar biasa. Sebelumnya dia bisa tenang, namun kini Aira tahu kalau dia sengaja dikorbankan pada seorang monster.
Tak lama, Aira tiba di sebuah restoran mewah. Langkah kakinya terasa terlalu kecil untuk lantainya yang dilapisi marmer hitam mengilap. Seluruh area disulap menjadi sunyi, seakan restoran itu telah disewa hanya untuk pertemuan ini.
Seorang pelayan membukakan pintu ke ruangan paling belakang. “Silakan masuk, Nona.”
Aira menunduk sopan, jantungnya berdebar kencang. Setelah menelan ludah, ia masuk. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik pelan yang terasa seperti mengunci takdirnya.
Ruangan privat itu diterangi cahaya kuning redup. Di sana, tepat di ujung meja panjang duduk seorang pria berjas hitam yang rapi, posturnya tegap, wajahnya dingin. Matanya yang tajam langsung menatap Aira begitu ia melangkah masuk.
Aira terpaku. Dia pasti Sir V. Begitu pikirnya.
“Apakah kamu Bianca Hartanto?” tanyanya dengan suara rendah.
Aira tersentak kecil. Apakah Bianca yang seharusnya menikah dengan Sir V?
“Bukan… saya… saya Aira.”
Ruangan menjadi sunyi beberapa detik. Pria itu memiringkan kepalanya, menatap Aira dari ujung rambut ke ujung kaki. Ekspresinya tidak berubah, tetap datar dan tajam.
“Bukan Bianca?” ulangnya pelan.
Aira mengangguk cepat. “Y-ya… saya Aira.”
Pria itu tidak segera membalas. Ia menutup buku kecil yang tadi dibacanya, kemudian menyandarkan tubuh ke kursi. Lalu ia mengambil iPad dari meja.
“Aku menerima daftar lengkap anggota keluarga Hartanto,” katanya datar sambil menggulir layar. “Ada nama Adrian Hartanto. Ada Marissa Wijaya. Ada Bianca Hartanto.”
Aira menegakkan tubuh, tidak paham arah pembicaraan ini.
“Tapi tidak ada nama Aira.” Pria itu menunjukkan layar iPad ke arah Aira. “Namamu tidak muncul dalam silsilah keluarga yang dikirim keluarga Hartanto pada Sir V.”
Aira gemetar. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia memang tidak pernah dianggap, tapi bahkan tidak tercatat?
“Bagaimana bisa?” gumam pria itu. Kali ini tidak hanya bingung, tapi curiga.
Aira menggeleng perlahan. “Saya… saya sendiri tidak tahu, Tuan,” jawabnya gugup. “Saya… anak pertama dari Adrian Hartanto. Ibu saya… Elenora Yasmin. Beliau meninggal saat saya masih bayi.” Aira menggigit bibirnya.
Pria itu menatap Aira lama tanpa berkata apa pun. Ia akhirnya menutup iPad dengan bunyi klik pelan.
“Baiklah,” katanya. “Tapi kamu harus tahu, Sir V sangat benci kebohongan.”
Aira akhirnya mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. Berarti pria ini bukan Sir V?
“Saya… apa yang harus saya lakukan, Tuan…?” tanya Aira dengan suara bergetar.
Pria itu menghela napas. “Saya hanya asisten. Keputusan ada pada beliau.”
Si kecil EJ sudah tertidur lelap di kamar bayinya setelah mendapatkan ASI penuh dari Aira. Kini, suasana hening menyelimuti pasangan suami istri yang sedang bersandar santai di kepala ranjang."Adriel, coba kamu lihat ini..." kekeh Aira pelan, menunjukkan layar ponselnya. "Notifikasinya benar-benar tidak berhenti dari tadi siang. Sekarang pengikutku sudah naik lagi jadi seratus sepuluh ribu!"Adriel menyipitkan mata, menatap layar ponsel Aira. Ia mengambil alih ponsel tersebut dari tangan Aira, meneliti barisan komentar yang membanjiri unggahan foto terbaru."Siapa pria ini?" desis Adriel, sudut bibirnya terangkat membentuk garis sinis sewaktu menunjuk sebuah akun dengan nama pengguna bertanda centang biru.Aira mencondongkan tubuh, meneliti nama akun yang ditunjuk Adriel. "Oh, itu... sepertinya salah satu fotografer mode terkenal yang me-repost videoku tadi siang. Memangnya kenapa, Adriel?""Komentarnya," sahut Adriel singkat. "Kecantikan yang sangat alami, seperti lukisan klasik yan
"Kamu mengerti kan, Aira?" ulang Adriel pelan. "Tolong berjanji padaku untuk menjauhi pria itu."Aira menunduk. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, rasa ragu masih bergejolak hebat. Bagaimana bisa orang sesopan Dimitri punya niat jahat? batin Aira bingung. Mungkinkah informasi dari Marcus ada yang keliru?Namun, saat Aira kembali mengangkat wajah dan melihat raut kecemasan di wajah suaminya, Aira tak berani membantah. Ada rasa takut melukai perasaan Adriel, atau lebih buruk lagi, memancing amarah pria itu jika ia bersikap keras kepala.Aira menghela napas, mengulas senyum kecil."Iya, Sayang... aku mengerti," tukas Aira, menganggukkan kepalanya pelan. "Aku akan menjaga jarak dari Dimitri."Raut kaku di wajah Adriel seketika melunak. Pria itu tersenyum lega, mengecup kening Aira."Istriku pintar," puji Adriel, mengusap lembut puncak kepala Aira. "Aku melakukan semua ini semata-mata karena aku tidak ingin ada satu pun bahaya yang menyentuhmu, Aira.""Aku tahu," sahut Aira pelan,
Ujung mata pulpen hitam di jemari Aira melayang, tinggal berjarak satu sentimeter di atas kertas putih tebal itu.Dimitri yang berdiri di samping meja kerja menatap gerakan tangan Aira dengan binar mata yang teramat tenang."Tanda tangan di sebelah sini, Bu Aira..." ucap Dimitri sangat lembut, artikulasinya bagai mantra halus. "Begitu Ibu membubuhkan tanda tangan, hak Ibu atas yayasan ini akan terlindungi secara hukum. Pak Kusuma dan para tetua tidak akan bisa menyentuh posisi Ibu lagi."Aira menarik napas panjang. Bayangan senyuman meremehkan Pak Kusuma berputar di kepalanya. Rasa ingin membuktikan diri, bahwa dirinya mampu melindungi warisan Guntur Ragendra tanpa harus selalu bersembunyi di balik nama besar Adriel, membuat jemari Aira makin mantap menekan pulpen ke bawah.Tok! Tok! Tok!Aira tersentak kaget. Refleks tangannya tertarik kembali ke atas.Maya, asisten administrasi yayasan, berdiri di ambang pintu."M-maaf mengganggu, Bu Aira!" panggil Maya, membungkuk canggung.Aira de
Adriel berdiri di dekat jendela kamar, mengancingkan kembali kemeja kerjanya yang sempat berantakan. Jemarinya merogoh ponsel di dalam saku yang mendadak bergetar."Marcus," panggil Adriel begitu menekan tombol terima."Tuan Adriel, laporan intelijen mengenai identitas mahasiswa magang bernama Dimitri sudah keluar."Adriel menyipitkan matanya tajam, melangkah keluar kamar bayi menuju lorong yang sepi. "Apa yang kamu temukan?""Identitasnya di kampus memang tercatat sebagai mahasiswa pindahan biasa dari universitas luar negeri, Tuan. Namun... seluruh dokumen legalitas, riwayat akademik, hingga paspor miliknya dibuat dengan tidak wajar," terang Marcus cepat. "Seseorang dengan jaringan profesional internasional telah mereka identitas itu secara sempurna. Bahkan sistem verifikasi berkas kampus tidak sanggup melacak silsilah aslinya."Dada Adriel berdesir. "Cari tahu siapa pembuat dokumen itu di Eropa. Aku ingin nama aslinya."Sementara itu, di kantor Yayasan Ragendra, Aira melangkah masuk
Kabut tipis mulai turun merayap di atas jalanan aspal yang sepi, bersaing dengan temaram lampu jalan yang mulai meredup. Setelah menyelesaikan pertemuan bersama Adriel dan Marcus, Alexander langsung menginjak pedal gas, membiarkan mobilnya menderu membelah keheningan kota, menuju satu-satunya tempa
Alur kehidupan di dalam mansion megah itu kini resmi memasuki lembaran baru, menandai berakhirnya masa nifas Aira setelah berminggu-minggu lamanya ia harus beristirahat total.Suatu siang yang cerah, langit Jakarta tampak bersih tanpa awan kelabu. Di dalam gazebo yang dikelilingi oleh hamparan bung
Beberapa hari telah berlalu dan setelah melalui serangkaian pemeriksaan ketat, dokter akhirnya menyatakan bahwa kondisi fisik Aira telah pulih sepenuhnya pasca-melahirkan. Yang paling melegakan, bayi Elenora Jasmine dinyatakan sangat sehat dan siap untuk dibawa pulang.Adriel Varmadeo berdiri di sa
Suara napas teratur dari putri mungil Adriel dan Aira di dalam boks bayi seolah menjadi penawar bagi ketegangan yang baru saja mereda. Adriel Varmadeo masih berdiri mematung di dekat boks bayi.Tatapan matanya perlahan beralih, bergerak melewati sosok Guntur Ragendra yang sedang mengelus jemari cic












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore