Pagi harinya.Sinar matahari menembus jeruji besi, jatuh ke halaman tengah Blok Tujuh. Udara masih terasa dingin, tapi ketegangan sudah menggantung sejak dini hari. Para narapidana berdiri berkelompok, berpura-pura berolahraga, namun mata mereka terus melirik ke satu arah.Alex.Ia sedang melakukan push-up dengan ritme tenang. Punggungnya lurus. Napasnya terlihat stabil. Setiap gerakan presisi, seolah tubuhnya adalah mesin yang tak mengenal lelah.Riko berdiri di samping, mencoba menirukan. Namun keringat sudah membasahi dahinya, napasnya tersengal.“Pelan saja,” ucap Alex singkat tanpa menoleh. “Atur napas.”Riko mengangguk cepat. Namun tiba-tiba…Langkah berat bergema terdengar.DUM. DUM. DUM.Suara itu bukan langkah biasa. Ada tekanan di dalamnya. Halaman yang semula riuh langsung meredup. Beberapa tahanan spontan menyingkir, membuka jalan.Rey Sogun datang.Tubuhnya tegap. Ototnya jelas meski dibalut seragam tahanan. Tatapannya lurus ke depan tepat ke arah Alex. Di belakangnya, en
Baca selengkapnya