MasukAlex, mantan kultivator Dewa yang ditakuti dunia, mati secara misterius. Namun jiwanya kembali dalam tubuh seorang pemuda lemah yang seumur hidupnya dipermalukan orang-orang sekitarnya. Kini, saat ia menapaki jalan untuk merebut kembali ranah Dewa, tiga wanita cantik–masing-masing dengan kekuatan dan rahasianya sendiri–mulai tertarik dan mengelilinginya. Dengan kecerdikan, kekayaan, dan kekuatan yang terus bangkit, Alex bersumpah: yang dulu disebut sampah… akan menjadi penguasa yang tak seorang pun berani sentuh.
Lihat lebih banyakRasa dingin, rasa sakit. Dan gelap tiba tiba masuk kedalam pikirannya secara tiba tiba.
Itulah yang pertama kali dirasakan Alex sebelum seluruh dunianya terguncang. Bukan guncangan fisik, melainkan, kesadaran yang terasa ditarik, diremukkan, lalu dipaksa masuk ke dalam ruang sempit ingatan yang bukan miliknya. Ribuan suara asing berputaran, berbisik-bisik, bercampur dengan jeritan batin seorang anak muda. Alex tersentak dan napas berat membanjiri paru-paru barunya. Deg. Saat kelopak mata terbuka, dunia yang baru terpampang, dan tempat pertama yang dilihatnya bukanlah istana megah yang layak ditinggali oleh seorang kultivator Dewa yang pernah mengguncang langit. Melainkan halaman belakang kampus, dengan tembok kusam penuh coretan vulgar, rumput liar, dan tiga bayangan manusia yang berdiri melingkar. “Bangun juga dia,” suara seseorang terdengar kasar, congkak, dan entah kenapa membuat jari-jari Alex langsung ingin menghancurkan tengkoraknya. Tubuh muda yang kini ia tempati terbaring di tanah, separuh wajahnya terasa bengkak, bibirnya pecah, dan dada terasa sesak akibat tendangan berulang. Luka memar, lemah otot, dan keseimbangan buruk. Kondisi fisik anak ini sungguh menyedihkan. Alex perlahan duduk, menyesuaikan diri dengan tubuh baru sambil memerhatikan ketiga pemuda bertubuh besar yang berdiri di atasnya. Satu dari mereka menginjak tas lusuh milik pemuda ini, menekan-nekan isinya dengan sepatu demi menunjukkan dominasi. “Kau pikir bisa kabur dari kami, hah? Baru ditarik kerah sedikit saja udah pingsan. Dasar sampah kampus,” ejek salah satu dari mereka bernama Abel, kalau memori pemilik tubuh ini tidak salah. Kini memori lain terus berdatangan. Berdesakan masuk ke dalam kepala Alex sepenggal demi penggal. Nama pemilik tubuh asli memiliki nama yang sama dikehidupan pertamanya, bedanya dulu dia adalah kultivator Dewa tanpa tanding, dihormati oleh ratusan ribu kultivator kuat dari berbagai benua. Berbeda dengan sosok Alex tubuh asli yang tubuhnya kini ia pinjam; hanya mahasiswa biasa yang selalu disudutkan, dicemooh, bahkan menjadi bahan lelucon di grup angkatan. Sayangnya ia tidak melawan, tidak membalas, kehidupannya begitu memalukan! Alex langsung menghela napas. Dia telah tersadar, jadi jiwanya masuk ke tubuh seorang pecundang? Ada rasa geli sekaligus iba. Namun bukan iba pada si pemilik tubuh, melainkan pada para pembully yang kebetulan menjadi pihak pertama yang ia temui di dunia baru setelah kematiannya di alam Immortal. ‘Takdir memang membantuku untuk dilahirkan lagi, tapi sayang sekali... Dunia ini bukan dunia kultivator.’ Alex bergumam lirih. Sementara itu, Abel langsung mendekat. “Eh, tatapannya kenapa berubah? Biasanya kau melotot ketakutan kayak anak ayam.” Alex juga menatapnya. Tatapan itu terasa dingin. Sangat dingin. Seolah seorang iblis tengah menemukan target mangsanya. “Buang tatapan menjijikanmu itu... Alex apa kau mengingat, dulu sebelum kami memukulmu, pasti kamu sudah membasahi celanamu itu!” timpal Yuwana dengan sorot mata penuh penindasan mengejek Alex. “Hahahaha! Benar juga, lagi pula kau selalu bersembunyi dibalik tubuh bunga kampus nona Olivia! Kini dia sepertinya tengah sibuk, kau ingin berlindung kemana hah?” ungkap Djanu sembari menarik kerah baju Alex hingga wajah keduanya saling mendekat. Mendengus dingin, Alex segera mendorong paksa tubuh Djanu hingga kerah pakaiannya sobek. Kreeeeet! “Hahahaha! Lihatlah sekarang sepertinya dia sudah punya keberanian untuk melawan kita?!” Mengibaskan pakaian dengan satu tangannya, Alex mulai berbicara. Suaranya terdengar datar. “Melawan kalian? Hanya preman kecil seperti kalian tak pantas mengotori tanganku... Enyah dari hadapanku, atau...” Belum sempat melanjutkan ancamannya, Abel mulai menampar pelan wajah Alex secara perlahan, tapi mungkin cukup untuk memberikan bekas di pipi yang putih. “Kau kira kau punya latar belakang kuat yang membuatmu bisa memerintah kami untuk mundur menghentikan penindasan ini? Alex, bagaimana jika begini saja... Kau berlutut, lalu berjalan merangkak melewati selangkangan kami bertiga, maka kami akan melepaskanmu...” Abel, dan dua temannya mundur, mereka berdiri sembari membuka selangkangan dan tertawa terbahak bahak. “Hahahaha! Ayo anjing penurut cepat merangkak dan mengonggong yang tegas! Biar kami para tuanmu ini bisa merasa puas!” Wajah Alex semakin datar. Di alam kultivator, etika menghormati sesama kultivator adalah kewajiban utama agar tidak menimbulkan permusuhan. Tapi di dunia baru ini, mungkin etika sudah tak berguna lagi. “Kenapa hanya diam? Apa kau seperti tebakanku tadi? Menunggu nona Olivia datang untuk membantumu? Bahkan jika ada dia?! Dia juga harus melakukan hal yang sama sepertimu loh?!” Kembali mendengar nama wanita yang begitu familiar diingatan tubuh asli. Alex mulai melihat gambaran seorang gadis yang selalu membelanya ketika ia ditindas. “Untuk memberi kalian pelajaran... Aku saja sudah cukup... Jangan bawa bawa nama Olivia lagi...” suaranya semakin dingin. “Haiya kalian dengar ungkapannya kan? Sudah tiga tahun, kamu kami tindas. Tapi apa? Bukankah kau selalu bersembunyi dibalik perlindungannya?! Tidak mau berjalan merangkak? Sepertinya hari ini, waktu yang cocok untuk membuatmu masuk rumah sakit!” Abel dan kedua temannya menyeringai dingin, mereka mulai berjalan perlahan kearah Alex. Namun berbeda dengan Alex itu sendiri, saat akan menghentakan kaki diatas permukaan tanah-melompat dan menghajar mereka bertiga. Tapi suara lembut, tapi keras membuat Alex segera mengurungkan niatnya. “Tunggu?!”"Bukan hanya tiga liter, Juanyi. Mungkin seluruh stok darah di tubuh mereka akan terkuras habis karena menahan malu," sahut Alex santai sembari bersedekap, terus meluncur membelah lorong dimensi menuju titik putih yang kian membesar di depannya. * Sementara itu, kembali ke Altar Teleportasi Kota Tiga Pilar. Begitu sisa pendaran cahaya putih dari tubuh Alex lenyap sepenuhnya, keheningan di area tersebut langsung pecah berkeping-keping. Sumpah dan janji manis yang diucapkan beberapa detik lalu menguap begitu saja ke udara. Syuuuts! Wanita dari Klan Yu melesat bagai kilat, kipas hijaunya terkembang, menciptakan bilah-bilah angin tajam untuk memotong jalur pria kekar dari Klan Hu. "Cincin ini milik Klan Yu!" pekiknya, tangannya terulur rakus ke arah tumpuan marmer. "Langkah kaki wanita memang cepat, tapi tinjuku jauh lebih kuat! Enyah kau!" raung pria dari Klan Hu. Tubuh kekarnya meledakkan aura kuning kecokelatan, menghantamkan tinjunya ke lantai altar untuk menciptakan gelo
Mendengar syarat yang diajukan oleh Alex, wanita cantik dari Klan Yu dan pria kekar dari Klan Hu saling bertukar pandang. Melalui pandangan mata itu, sebuah rencana licik dan kesepakatan rahasia terjalin dalam sekejap. Di mata mereka, Alex hanyalah seorang pemuda yang beruntung memiliki warisan luar biasa. Terlebih lagi, fluktuasi energi yang mereka rasakan saat ini hanya menunjukkan ranah kultivasi seorang Manusia Setengah Dewa tahap awal. Bagi dua klan besar yang memiliki fondasi kuat dan dipimpin oleh para ahli yang telah lama berada di puncak ranah tersebut, seorang Manusia Setengah Dewa awal sama sekali bukanlah ancaman yang berarti. " Dia tidak akan pernah bisa lepas dari genggaman kita," batin pria dari Klan Hu dengan seringai yang hampir tidak bisa disembunyikan. "Jika pun, dia berbohong... Kita masih bisa mencarinya, dan membunuhnya sebagai kompensasi..." Wanita dari Klan Yu kembali mengibaskan kipas hijaunya, tawanya terdengar renyah namun dipenuhi dengan bisa kelici
SWUUUUUNG! Langit di atas Kota Tiga Pilar yang awalnya cerah seketika berubah menjadi kelam, seolah-olah tirai malam ditarik paksa di siang bolong. Di tengah pusaran awan hitam yang berputar, sebuah cahaya keemasan yang luar biasa menyilaukan mulai memadat. BOOOOOOOM! Kilatan petir emas menyambar, dan dari balik awan, muncul sebuah manifestasi energi pedang raksasa yang panjangnya mencapai ratusan meter. Pedang itu tergantung secara vertikal, ujungnya yang tajam mengarah tepat ke jantung kota. Tekanan yang dihasilkan begitu besar hingga bangunan-bangunan di sekitar Altar Teleportasi mulai bergetar, dan retakan-retakan kecil mulai merayap di lantai marmer. "I-itu... apa itu?!" Teriak penjaga klan Hu, yang tadi tertawa, kini jatuh terduduk dengan wajah sepucat mayat. "Hanya dengan satu jari... dia memanggil kiamat?!" Penjaga klan Yu bahkan tidak bisa memegang tombaknya; tangannya bergetar hebat hingga senjatanya jatuh berdenting ke lantai. Para pedagang dan kultivator yang tadi
*Di sepanjang jalur utama menuju perbatasan wilayah Selatan, berita tentang pembantaian tangan kanan anggota patroli Klan Shuan telah menyebar secepat kilat melalui jimat komunikasi. Namun, bukannya pengepungan massal yang terjadi, jalanan yang dilewati Alex justru mendadak menjadi sepi.Di atas sebuah bukit batu yang menghadap ke jalan setapak, tiga orang pria tua dengan jubah ungu gelap, itu para Panatua luar Klan Shuan tengah berdiri mematung. Mereka adalah saksi mata yang melihat Alex melintas hanya sebagai garis cahaya emas yang membelah udara."Itu... itu pemuda yang dimaksud?" bisik Panatua Ketujuh, tangannya gemetar saat memegang jimat komunikasi."Jangan bergerak!" cegat Panatua Kelima dengan wajah pucat pasi. "Apakah kau tidak merasakan sisa tekanan udara di jalur yang baru saja ia lewati? Itu adalah residu dari ranah energi Dewa Bumi! Jika kita menghalangi jalannya, bukan hanya tangan kita yang hilang, tapi seluruh garis keturunan kita akan dihapus dari muka bumi!"Ketig
Suasana kembali berubah hening, kini hanya desis Qi Naga yang memenuhi udara.Naga emas gelap di atas Raja Naga mulai melingkar perlahan. Sisiknya berkilau seperti baja hidup. Matanya masih terkunci pada Alex.Raja Naga tersenyum tipis.“Kalau begitu… lihat apakah pedang kecilmu itu mampu menebas n
Lori tidak perlu menyebut namanya. Karena mungkin tuannya, Alex sudah tahu.Wine Clara. Satu tahun lalu.Restoran mewah satu satunya di kota Draken. Pertemuan yang seharusnya tak terlihat. Meja bundar, cahaya redup, dan Clara yang sengaja duduk terlalu dekat karena memang gadis itu tak tahu, bahwa
Suasana yang tadi gemuruh mendadak kembali sunyi. Ancaman Alex belum sepenuhnya hilang dari udara. Tatapan matanya masih menyapu tribun satu per satu. Bukan tatapan marah. Bukan pula haus darah. Melainkan dingin.Dingin seperti seseorang yang benar-benar tidak peduli berapa banyak musuh yang akan l
Tubuh besar Penguasa Blok Satu meluncur seperti karung pasir yang dilempar sembarangan. Ia menghantam dinding arena.DUUUUAAANG!Retakan menjalar panjang. Seluruh Ekspresi penonton ditribun langsung membeku.Aura merah kecoklatan yang tadi mengamuk kini bergetar liar ditubuh Penguasa blok satu iku






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan