Awalnya Winter mengira Maia akan mengajaknya berbelanja saat mereka memasuki mall. Namun dugaannya meleset begitu Maia membawa langkah mereka masuk ke sebuah restoran yang cukup tenang. Mereka berjalan menuju meja yang sudah ditempati seorang pria akhir dua puluhan, penampilan rapi, tubuh terawat, dan aura percaya diri yang langsung terasa. Maia berhenti sejenak untuk merapikan rambutnya, lalu memasang senyum lebar. Senyum yang terasa asing di mata Winter, karena selama ini yang ia lihat dari wanita itu hanya nada tinggi, wajah ketus, dan tatapan tajam yang menyeramkan. Maia meraih lengan Winter, bukan dengan kehangatan seorang ibu, tetapi seperti memastikan Winter tidak melarikan diri. “Adrian, kan?” Maia menyodorkan tangan, senyumnya makin lebar. Setelah itu ia menyenggol Winter, isyarat agar ikut berjabat tangan. “Ini Winter. Anak saya,” kata Maia, suaranya dibuat ceria namun tetap terdengar penuh perhitungan. “Kau pasti pernah melihat wajahnya. Dia ini artis, meski belum pe
최신 업데이트 : 2025-12-24 더 보기