LOGINKarier Winter Sanders runtuh dalam satu malam akibat skandal yang tak pernah ia rencanakan. Ketika dunia industri menutup pintu, satu-satunya tangan yang terulur justru milik Greyson Hale, aktor papan atas yang dingin dan penuh rahasia. Tawarannya sederhana sekaligus gila: pernikahan. Bagi Greyson, Winter adalah satu-satunya ketenangan dari kecemasan yang menggerogoti hidupnya. Bagi Winter, pernikahan itu adalah jalan bertahan. Sah secara hukum, namun harus dirahasiakan dari dunia. Namun ketika kedekatan berubah menjadi rasa, dan rahasia tak lagi bisa disembunyikan, mereka dihadapkan pada satu pertanyaan, Apa yang terjadi jika pernikahan yang tak pernah diniatkan justru menjadi satu-satunya hal yang ingin dipertahankan?
View MoreSetelah menghabiskan beberapa hari di rumah sakit, Greyson akhirnya diperbolehkan pulang. Kondisinya sudah stabil, meski pergelangan kakinya masih terbalut perban tebal. Setiap langkah yang ia ambil kini harus dibantu sepasang kruk, gerakannya lebih pelan dari biasanya, jauh dari sosok Greyson yang dikenal selalu sigap dan penuh kontrol.Lorong rumah sakit terasa lebih sunyi saat ia melangkah keluar. Ada rasa lega karena bisa meninggalkan bau antiseptik dan suara alat medis, tapi juga ada ketidaknyamanan yang mengendap, ketergantungan, keterbatasan, dan jeda paksa dalam hidup yang biasanya bergerak cepat.Greyson tidak menyukainya. Namun, ia tidak punya pilihan selain menerima.Mereka tiba di apartemen. Mike sigap seperti biasa, membantu Greyson berjalan hingga masuk ke kamar. Setelah memastikan pria itu berbaring dengan nyaman, Mike keluar dan duduk di sofa ruang tamu, menghembuskan napas panjang untuk pertama kalinya hari itu.Tak lama kemudian, pintu apartemen terbuka. Winter muncu
Winter mendongak. Ada dorongan kuat di dadanya. Keinginan untuk melihat Greyson, memastikan dengan matanya sendiri bahwa pria itu baik-baik saja. Namun rasionalitasnya lebih dulu berbicara. Rumah sakit terlalu berisiko. Terlalu banyak mata.Ia menggeleng perlahan.“Aku mempercayakan Greyson padamu, Mike,” ucap Winter akhirnya.Kalimat itu terdengar tenang. Padahal di baliknya, ada kegelisahan yang belum juga reda dan keinginan yang ia paksa untuk tetap disimpan sendiri.***Mike kembali ke rumah sakit. Greyson sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Pria itu setengah bersandar di ranjang, ponsel di tangannya, fokus pada permainan yang sebenarnya tidak benar-benar ia nikmati. Ia hanya sedang membunuh waktu dan kebosanan.Saat pintu terbuka, Greyson sempat melirik ke arah sana. Ada jeda sepersekian detik, harapan kecil yang nyaris tak ia akui. Namun yang masuk adalah Mike.Ekspresi kecewa itu cepat ia tekan, terlalu singkat untuk dibaca orang lain. Greyson mematikan ponselnya dan meletakk
Greyson mengerang pelan. Suara itu nyaris tak terdengar, namun cukup untuk memecah keheningan.Mike langsung bereaksi. Ia berlari menghampiri, menjadi orang pertama yang paling panik di antara kerumunan yang mulai bergerak.“Greyson, jangan berdiri! Jangan dipaksa,” ucapnya cepat, berlutut di hadapan Greyson tanpa peduli debu di celananya.Tangannya gemetar saat hendak menyentuh pergelangan kaki Greyson, lalu ragu. Takut salah, takut memperparah. Mike menoleh tajam ke arah kru.“Panggil tim medis. Sekarang!”Beberapa orang langsung bergerak. Yang lain mundur, memberi ruang. Greyson masih bertumpu pada satu lutut, napasnya berat, keringat bercampur debu menempel di pelipisnya.“Bisa berdiri?” tanya Mike lebih pelan, suaranya turun, cemasnya tak bisa lagi disembunyikan.Greyson menggeleng singkat. Rahangnya mengeras, menahan lebih dari sekadar rasa sakit.“Bukan apa-apa,” gumamnya, entah pada Mike atau pada dirinya sendiri.Namun cara tangannya mencengkram aspal terlalu kuat untuk diseb
Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sunyi di apartemen itu terasa menekan, berbeda dengan sunyi yang biasa ia nikmati. Sunyi kali ini penuh gema nama Winter, suara Winter, dan kata tidak yang diucapkannya dengan tegas.Nyaman, Greyson mengulang kata itu dalam kepalanya. Dia nyaman… tanpa aku dikenal sebagai bagian dari hidupnya.“Aku tidak pernah meminta banyak,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam. “Aku hanya tidak ingin merasa sendirian saat aku bersamamu.”Ia menutup mata sejenak. Bayangan Winter muncul begitu saja, cara perempuan itu menarik napas saat gugup, caranya berpura-pura tenang ketika jelas-jelas sedang ketakutan. Cara ia selalu berdiri di antara ingin dan takut, memilih aman meski harus mengorbankan sesuatu.Ia bangkit setengah duduk, menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Sepatu bayi itu masih ada di tangannya, kini terasa semakin berat.“Kenapa aku membelimu?”“Apa aku berharap sesuatu yang bahkan belum tentu ia inginkan?”Greyson
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.