Pak Argan membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Jangan bikin saya kecewa lagi. Saya paling benci sama orang yang kerjanya setengah-setengah. Kalau mau main-main sama saya, jangan setengah-setangah. Paham?"Ah, kenapa, sih, kalimat Pak Argan ambigu banget!Otak polosku langsung menerjemahkannya ke mana-mana. Apa maksudnya main? Main skripsi? Atau main yang lain?"P-paham, Pak, malam ini saya siapkan kerangkanya," jawabku panik sambil berdiri tegak, hampir saja menabrak dagunya saking dekatnya posisi kami.Begitu sampai di lorong yang sepi, aku bersandar di dinding sambil memegangi dadaku yang bergemuruh hebat. Bukan cuma karena dia galak dan sadis soal nilai, tapi karena aura dominannya yang terlalu kuat. Tadi, saat dia berbisik di dekat telingaku, bukannya takut, ada bagian kecil dari diriku yang… justru sedikit basah?Bayangan bibir Pak Argan saat berbisik tadi, sorot matanya, kemejanya yang ketat sehingga otot bisepnya terlihat menonjol. Aduh, kenapa malah piktor g
Última actualización : 2026-01-14 Leer más