FAZER LOGIN"Pak Argan, jangan baca novel ini!" Menjadikan dosen sendiri sebagai inspirasi novel erotis adalah ide gila. Dan sialnya, novel itu jadi trending 1 di aplikasi hingga Sang Dosen yang killer dan dingin itu jadi pembaca setianya. Pak Argan menatap bibirku sekilas, lalu kembali ke mataku. "Novelmu bagus, tapi alangkah lebih bagus lagi, kamu bisa menghidupkan feelnya, melakukannya denganku!"
Ver mais"Aduh!"
Baru saja aku melangkah terburu-buru di lobi fakultas sambil memeluk erat tumpukan draf skripsi, tubuhku tiba-tiba terdorong mundur dengan keras sehingga draft skripsi yang aku bawa jatuh di lantai.
Rasanya ingin sekali aku marah-marah. Maksudku, siapa sih orang yang jalan di tempat umum tapi matanya terpaku ke layar ponsel? Apa dia pikir lobi kampus ini milik nenek moyangnya?
"Kalau jalan tolong lihat depan dong, jangan..."
Protesku terhenti saat aku melihat sosok yang tinggi, tegap, dan wajahnya... astaga, tampan sekali!
Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan tatapan matanya tajam di balik kacamata berbingkai tipis itu. Dia mengenakan kemeja biru navy yang digulung sampai siku, terlihat rapi dan berkelas, sangat kontras dengan penampilanku yang kucel karena kurang tidur.
Pria itu tiba-tiba berjongkok dan memunguti kertas-kertasku yang berserakan. Dia berdiri, menyodorkan tumpukan kertas itu ke tanganku dengan wajah datar.
"Siapa namamu?"
"Na-Nara, Pak, Nara Anindya."
"Oke, lain kali hati-hati."
Setelah mengucapkan kalimat itu, dia melenggang pergi begitu saja, meninggalkan aku yang masih bengong di tengah lobi.
"Nara! Kamu kenapa berdiri di situ kayak patung selamat datang?"
Tepukan di bahu membuatku berjengit kaget. Fika, teman sekelasku yang paling update soal gosip kampus, sudah berdiri di sampingku dengan wajah sumringah.
"Aku habis tabrakan tadi, Fik. Sama cowok nyebelin yang main hp sambil jalan," jawabku sambil cemberut, merapikan letak kacamata baca dan kuncir rambutku.
"Ah, lupain aja soal cowok nyebelin itu. Kamu tahu nggak? Hari ini katanya ada dosen pengganti buat mata kuliah Ginekologi. Dengar-dengar sih orangnya ganteng banget, Nara! Katanya dia dokter spesialis terkenal yang mau melakukan riset di kampus kita. Dingin, kalem, tipe-tipe
sugar daddy kaya, tapi maskulin banget sumpah!"Fika bercerita dengan mata berbinar-binar, tapi hanya menanggapi seadanya. Jujur saja, pikiranku masih tertuju pada pria di lobi tadi.
Sayang sekali wajah setampan itu harus dimiliki oleh orang yang tidak tahu sopan santun.
"Iya, iya. Semoga saja dia nggak galak ya, Fik. Aku lagi nggak mood dimarahin dosen," sahutku pelan.
"Tenang aja, Nar. Kalau dosennya ganteng, dimarahin juga aku ikhlas kok! Yuk masuk, keburu telat!"
Kami pun berjalan ke ruang kelas dan…
Ternyata, firasat burukku benar-benar kejadian.
Saat pintu kelas terbuka dan dosen pengganti itu masuk, aku nyaris jatuh dari kursiku. Pria yang berdiri di depan kelas dengan aura sedingin kutub utara itu adalah pria yang sama yang menabrakku di lobi tadi!
Namanya Pak Argan.
Begitu dia memperkenalkan diri dengan suara baritone-nya yang rendah, seisi kelas, terutama mahasiswi, langsung senyap. Mereka menatap Pak Argan dengan tatapan memuja, seolah-olah dia adalah idola K-Pop yang nyasar jadi dosen.
"Nara, lihat deh! Itu kan dokter spesialis yang aku ceritain. Ganteng banget kan? Sumpah, aku rela deh disuntik tiap hari kalau dokternya kayak dia," bisik Fika sambil menyenggol lenganku.
"Ganteng apanya? Jutek gitu kamu bilang ganteng?" balasku berbisik, masih menyimpan dendam kesumat gara-gara insiden tadi pagi.
Selama kelas berlangsung, Pak Argan menjelaskan materi dengan sangat detail, cerdas, tapi cenderung kaku karena dia tidak menyelipkan lelucon sedikit pun.
Tatapan Pak Argan menyapu seluruh ruangan seolah sedang mengabsen dosa kami satu per satu. Dan sialnya, beberapa kali tatapannya berhenti di arahku, membuatku buru-buru menunduk pura-pura sibuk mencatat.
Begitu kelas berakhir, seperti dugaan, gerombolan mahasiswi langsung merangsek ke meja depan, tapi Pak Argan menanggapi mereka dengan dingin. Dia membereskan barang-barangnya tanpa menoleh sedikit pun pada kerumunan itu.
"Saya buru-buru. Kalau ada pertanyaan, kirim via email." Dia berjalan membelah kerumunan, lalu menuju pintu keluar. Namun, saat melewati mejaku yang berada di dekat pintu keluar, langkahnya terhenti.
"Kamu anak bimbingan Pak Chandra, kan?" tunjuknya padaku.
"S-saya, Pak?"
"Iya, kamu. Ke ruangan saya sekarang. Bawa draf skripsi kamu. Saya mau lihat sejauh mana progres bimbingan kamu dengan dosen sebelumnya."
Tanpa menunggu jawabanku, dia melenggang pergi, meninggalkan aku yang diam membeku dan seisi kelas langsung menoleh ke arahku.
"Nara! Kamu kok bisa dipanggil ke ruangannya? Kamu kenal Pak Argan?" tanya Fika heboh.
Aku hanya bisa menghela napas panjang, meratapi nasib. "Duh, kayaknya dia dosen pembimbing baruku, yang gantiin Pak Chandra cuti berobat."
"Aku ikut nemenin kamu ke ruangan Pak Argan, boleh?"
"Fik, aku ini mau bimbingan, ga ke mana-mana," pelanku, lalu mengemasi barang-barangku di meja. "Yaudah aku berangkat dulu, takut ntar Pak Argan marah kalau aku telat."
Sesampainya di ruang dosen paling ujun, aku melihat Pak Argan duduk. Dia hanya memberiku kode untuk meletakkan draf skripsiku di meja dengan jari telunjuk, lalu membolak-baliknya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Oke, Nara. Saya sudah baca sekilas." Dia menutup draf skripsiku dan meletakkannya di meja, lalu menatapku dengan jemari bertautnya di atas meja. "Jujur saja, skripsimu kurang layak."
Jleb.
Sakit rasanya.
Aku tahu, aku bukan mahasiswa jenius, tapi aku selalu rajin mengerjakan tugas. Dibilang mengecewakan secara langsung begini rasanya sakit sekali.
"Relevansi topik kamu dengan perkembangan medis era sekarang sangat kurang. Datanya usang, pendekatannya terlalu konservatif, dan yang paling parah, novelty atau kebaruan dari penelitian ini masih kurang kuat. Kalau kamu paksakan maju sidang dengan materi ini, saya jamin kamu akan dibantai habis-habisan oleh penguji."
"Jadi, saya harus bagaimana, Pak? Saya harus ganti judul?" tanyaku lirih, menahan tangis.
Pak Argan menyandarkan punggungnya di kursi, lalu menghela nafas berat. "Begini saja, saya sedang melakukan riset mendalam tentang gangguan seksual. Saya sarankan kamu ambil topik yang bersinggungan dengan itu. Coba kamu cari referensi tentang hiperseksualitas."
Mataku membelalak kaget. "Hi-hiperseksualitas, Pak?"
"Kenapa? Kamu kaget? Itu fenomena medis yang baru-baru ini terjadi, Nara. Banyak penderitanya menderita dalam diam karena stigma masyarakat. Kamu teliti aspek psikologis dan dampaknya. Kalau kamu setuju, saya bisa bantu bimbing kamu sampai lulus semester ini."
Aku hanya bisa merenung, mengingat topik itu terlalu vulgar untuk gadis polos sepertiku yang bahkan pacaran saja belum pernah. Tapi, tawarannya untuk membimbing sampai lulus sangat menggiurkan karena aku butuh lulus secepatnya!
"B-baik, Pak. Saya... saya akan coba cari referensinya," jawabku pasrah, lalu pamit pergi.
***
Malamnya, aku menyeret langkah gontai menuju kamar kos. Begitu masuk kamar dan melempar tas ke kasur, mataku tertumbuk pada selembar kertas tagihan yang terselip di bawah pintu.
Surat peringatan tunggakan uang administrasi kampus. Angkanya membengkak drastis dari semester kemarin karena denda keterlambatan. Aku terduduk lemas di lantai. Kepalaku pening memikirkan dari mana aku harus mencari uang sebanyak ini dalam waktu singkat.
Selama ini, aku mengandalkan royalti dari menulis novel di platform daring untuk biaya hidup dan pengobatan Ibu di kampung.
Dua novel terakhirku gagal total.
Rating-nya jeblok, pembacanya sepi. Editor bilang, tren pasar sekarang sudah bergeser. Pembaca ingin cerita dewasa yang panas, liar, dan penuh gairah. Sedangkan tulisanku? Datar, kaku, dan terlalu biasa.
"Gimana aku bisa nulis adegan dewasa kalau pegangan tangan sama cowok aja nggak pernah?" gumamku frustrasi.
Beban di pundakku rasanya makin berat.
Uang kos bulan ini harus dibayar karena aku sewa per enam bulan, biaya obat Ibu tidak bisa ditunda, dan sekarang skripsiku harus diulang dari nol dengan topik yang membuatku merinding.
"Arghhh! Kenapa sih, hidup kok susah banget!"
Tanpa sadar, tanganku meraih bantal guling di kasur dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah dinding sebagai pelampiasan emosi. Guling itu menghantam dinding rapuh kosku dengan keras, tepat mengenai poster boyband Korea kesayanganku.
Kreeek...
Poster itu robek, plesteran dinding di baliknya rontok, dan... tunggu dulu.
Ada sesuatu di sana.
Karena penasaran setengah mati, aku mendekatkan wajahku ke dinding dan mengintip melalui lubang kecil itu. Rupanya dinding pembatas antara kos dua jutaanku dan apartemen mewah di sebelah memang sudah lapuk.
"Aaaah, Argan... slower, Baby, agak sakit... ahhh!"
Gadis itu benar-benar nggak punya rem, desahannya lepas banget kayak lagi karaokean di kamar mandi, tanpa peduli tetangga sebelah.
Lalu, terdengar suara balasan dari prianya. "Sht up, Baby, a-aku, aku mau…"
"Ba-Ba-Baby! Oh my God... aaaah!"
Namun, mataku seketika membelalak lebar saat melihat ada dua sosok manusia yang sedang bergulat panas di atas ranjang king size di tengah ruangan itu. "Mustahil. I-itu… itu kan, Pak Argan?"
Pak Argan kembali meliihat bagian yang mendeskripsikan rasa sakit di kepala, tertulis juga kekosongan yang tidak bisa diisi meski sudah berhubungan badan berkali-kali, lalu ada selipan kata hiperseksualitas yang membuatnya melepas cengkeraman di leherku."Kamu nggak tahu apa yang ada di pikiranku, Nara, tapi jujur, saya ini heran. Kamu hanya melihat saya berhubungan badan, tapi kenapa tulisan kamu ini, dari bab 1 sampai bab 2, lalu di kerangka kamu, kamu bisa menggambarkan dengan tepat apa yang saya rasakan semalam?"Aku menelan ludah susah payah. Insting penulisku memang kadang suka kelewat tajam kalau soal mendramatisir keadaan, tapi aku tidak menyangka kalau tebakanku soal perasaan Pak Argan ternyata akurat seratus persen."S-saya... saya cuma menebak, da-dari muka Bapak yang... yang kayak orang kesakitan, bukan kayak orang yang lagi keenakan."Jawaban polosku itu membuat pertahanan diri Pak Argan seolah runtuh sedetik. Bahunya turun sedikit, dia menghela napas panjang dan kasar, l
PRAANG!Di seberang sana, Pak Argan yang tadinya sedang menunduk kesakitan, tiba-tiba langsung menegakkan kepalanya setelah mendengar bunyi di ujung kamarnya. Dia menoleh pelan, sangat pelan, ke arah dinding pembatas, tepat ke arah di mana aku sedang mengintip.Jantungku rasanya berhenti berdetak."Jangan lihat ke sini, jangan, kumohon jangan lihat ke sini... "Tapi doa orang maksiat sepertinya memang susah dikabulkan.Pak Argan bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mendekati dinding itu. Matanya yang tajam menyipit, mencari sumber suara yang tadi mengganggu pendengarannya.Aku ingin lari, ingin menarik kepalaku menjauh, tapi tubuhku kaku seolah dipaku di tempat karena rasa takut membuatku lumpuh total.Pak Argan berhenti tepat di depan lubang kecil itu. Jarak kami sekarang mungkin hanya terpisah beberapa sentimeter dinding beton. Dia mendekatkan wajahnya, meneliti permukaan dinding kamarnya yang tertutup dipenuhi foto, sampai akhirnya matanya menangkap sebuah titik kecil yang tida
Pak Argan membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Jangan bikin saya kecewa lagi. Saya paling benci sama orang yang kerjanya setengah-setengah. Kalau mau main-main sama saya, jangan setengah-setangah. Paham?"Ah, kenapa, sih, kalimat Pak Argan ambigu banget!Otak polosku langsung menerjemahkannya ke mana-mana. Apa maksudnya main? Main skripsi? Atau main yang lain?"P-paham, Pak, malam ini saya siapkan kerangkanya," jawabku panik sambil berdiri tegak, hampir saja menabrak dagunya saking dekatnya posisi kami.Begitu sampai di lorong yang sepi, aku bersandar di dinding sambil memegangi dadaku yang bergemuruh hebat. Bukan cuma karena dia galak dan sadis soal nilai, tapi karena aura dominannya yang terlalu kuat. Tadi, saat dia berbisik di dekat telingaku, bukannya takut, ada bagian kecil dari diriku yang… justru sedikit basah?Bayangan bibir Pak Argan saat berbisik tadi, sorot matanya, kemejanya yang ketat sehingga otot bisepnya terlihat menonjol. Aduh, kenapa malah piktor g
Aku membekap mulutku sendiri saking kagetnya saat mengenali wajah pria yang sedang berada di posisi atas itu adalah dosen pembimbingku yang super galak.Pak Argan yang aku kenal di kampus selalu rapi, dingin, dan menjaga jarak, tapi pria yang aku lihat sekarang sedang bermain dengan kekasihnya.Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana otot-otot punggung Pak Argan menegang saat dia bergerak dengan tempo yang gila, sementara wanita itu terus mendesah dan memanggil namanya tanpa henti."Wah, ini beneran? Sumpah, ini jauh lebih panas daripada film biru yang pernah dikirim sama Fika di grup WA sirkel dia!"Bukannya takut atau merasa bersalah karena sudah mengintip privasi orang lain, otak penulisku justru mendadak bekerja sangat cepat.Ini adalah referensi nyata yang selama ini aku cari-cari untuk novelku, sebuah adegan live action yang benar-benar natural dan tanpa rekayasa sama sekali!Dengan tangan gemetar karena campuran rasa gugup dan semangat yang menggebu, aku segera mengambil notebo












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.