Hutan Kesunyian bergemuruh. Suara cabang patah, lolongan panjang, dan dentuman langkah berat mengguncang tanah. Dari kabut hijau pekat yang menggantung di antara pepohonan raksasa, ratusan sosok hitam bermata merah menyala bermunculan. Tubuh mereka seperti asap yang dipadatkan, mencakar tanah dengan kuku panjang yang berkilau. Ayundria terdiam di belakang Bill, jantungnya berpacu tak karuan. Udara terasa dingin, menusuk tulang. Bill, sebaliknya, berdiri tegak di depan, bahunya terguncang kecil, bukan karena takut, melainkan karena ia tertawa. “Ha! Sudah ratusan tahun aku tak disambut meriah begini.” Ia menepuk-nepuk tongkatnya ke tanah, membuat kilat kecil meletup keluar. “Ayundria, kau lihat? Mereka datang dengan rombongan penuh hormat, hanya untukku.” Ayundria memandangnya tak percaya. “Kau masih bisa bercanda? Mereka—mereka itu…” “Monster?” Bill menoleh cepat, mata birunya berkilat liar. “Oh, sayang kecilku, mereka hanyalah bayangan. Dan aku sudah menari dengan bayangan sejak se
Read more