FAZER LOGINDi sebuah dunia di mana cahaya dan kegelapan berperang tanpa henti, lahirlah seorang gadis dengan takdir yang tidak pernah ia pilih. Terasing, terikat pada rahasia yang bahkan ia sendiri tak pahami, Ayundria harus melangkah ke dalam pusaran perang, sihir, dan pengkhianatan. Bisikan dari masa lalu memanggilnya. Mahkota yang hilang menantinya. Namun setiap langkah mendekatkannya pada kenyataan pahit: untuk menyelamatkan dunia, ia mungkin harus menghancurkannya. Dunia hanya punya dua pilihan: hidup bersamanya atau binasa karenanya.
Ver mais❄️❄️❄️ Langkah Ayundria berat tapi matanya terus menyala penuh rasa ingin tahu. Hutan di luar Kesunyian seperti dunia lain yang tak pernah ia bayangkan. Pohon-pohon menjulang setinggi menara dengan batang transparan, mengalirkan cahaya biru dari dalamnya, seperti urat nadi raksasa. Ratusan kunang-kunang sebesar kepalan tangan berputar dalam spiral di udara, membentuk pola yang berubah-ubah—kadang bunga, kadang naga, kadang wajah-wajah asing yang menatap Ayundria. Ia terkesiap, mundur setengah langkah. “Tenang saja,” kata Bill dengan nada sok tahu. “Itu cuma Spirit Glowflies. Mereka suka main sulap dengan cahaya. Kadang membentuk wajah mantan kekasihku juga. Sangat mengganggu.” Ayundria menatapnya tak percaya. “Kau punya mantan kekasih?” Bill menyeringai, petir kecil berloncatan di antara jarinya. “Sepuluh ribu tahun umurku, kau kira aku biara biksu? Tentu saja aku punya. Tapi mereka selalu berakhir membenciku, entah karena aku terlalu tampan, atau terlalu pintar, atau terlal
❄️❄️❄️ Hening membungkus hutan. Es yang Ayundria ciptakan masih berkilau pucat, membekukan bayangan hitam dalam pose aneh, seperti patung grotesk hasil karya seniman gila. Nafas Ayundria memburu, dadanya naik-turun cepat, lututnya hampir tak kuat menopang tubuh. “Tidak… tidak mungkin aku melakukan semua ini,” gumamnya, suaranya nyaris bergetar. Bill, dengan wajah lebam dan baju penuh sobekan, menyeret kakinya mendekat. Alih-alih wajah tegang, ia malah menyeringai lebar. Dengan dramatis, ia meraih pundak Ayundria, menatapnya seolah ia baru saja menyelamatkan dunia. “Dengar baik-baik, nona kecil,” Bill menahan jeda, lalu berbisik dengan suara bergetar. “Kau baru saja membuatku terlihat jelek di depan monster bayangan!” Ayundria berkedip. “Apa?” Bill tiba-tiba merosot ke tanah, berbaring seolah sedang sekarat. Ia meletakkan tangan di dadanya, mendesah panjang. “Dua abad aku bertarung melawan naga, penyihir jahat, bahkan roh pemakan jiwa, tapi sekarang, seorang gadis dengan ra
❄️❄️❄️ Langkah Ayundria terasa ragu saat ia meninggalkan jejak terakhir dari Hutan Kesunyian. Tanah di bawah kakinya lebih lembut, rerumputan berpendar seolah tiap helainya menelan cahaya bintang dan memantulkannya kembali. Malam menjelang, tapi tidak ada gelap di sini. langit melukiskan warna ungu, emas, dan biru yang bergulung seperti riak samudra. “Aku…” Ayundria mendesah pelan, suaranya tercekat. “Aku bahkan tidak tahu harus menatap ke mana dulu.” Bill berjalan di sampingnya dengan gaya seenaknya. Ia menenteng tongkatnya di bahu seperti tombak mainan, mulutnya bersiul nyaring mengikuti irama yang tidak jelas. “Terserah kau, Putri Salju. Mau menatap ke langit, ke tanah, atau ke arahku. Semuanya sama-sama indah.” Ayundria menoleh cepat, wajahnya memerah. “Kau menyebalkan.” Bill terkekeh puas. “Ah, akhirnya ada yang jujur padaku.” Tiba-tiba sekawanan makhluk melintas di depan mereka. Ayundria menahan napas—bukan burung, bukan kupu-kupu, melainkan ikan bercahaya. Tubuhnya
❄️❄️❄️ Udara pagi menyelimuti Hutan Kesunyian dengan kabut tipis berkilau. Cahaya matahari menembus celah pepohonan raksasa, menciptakan pilar-pilar cahaya seperti tiang istana. Ayundria berjalan pelan di samping Bill, jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, melainkan kagum. Seumur hidupnya, dunia hanya sebatas dinding batu menara. Tapi kini, matanya dibanjiri warna-warna yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Burung-burung kecil dengan bulu seperti pecahan kristal beterbangan, meninggalkan jejak cahaya di udara. Bunga liar berwarna ungu lembut tumbuh di akar pohon, mekar dengan kelopak yang bergetar seolah sedang bernapas. Dari balik semak, seekor kelinci berbulu perak muncul, menatap Ayundria dengan mata bundar berpendar biru, lalu meloncat ringan, meninggalkan jejak bercahaya di rerumputan. Ayundria tertegun, bibirnya sedikit terbuka. “Indah sekali…” Bill menoleh padanya, senyumnya nakal. “Oh, itu? Itu hanya menu pembuka. Kau belum lihat hidangan utama.” “Hidan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.