Mag-log inDi sebuah dunia di mana cahaya dan kegelapan berperang tanpa henti, lahirlah seorang gadis dengan takdir yang tidak pernah ia pilih. Terasing, terikat pada rahasia yang bahkan ia sendiri tak pahami, Ayundria harus melangkah ke dalam pusaran perang, sihir, dan pengkhianatan. Bisikan dari masa lalu memanggilnya. Mahkota yang hilang menantinya. Namun setiap langkah mendekatkannya pada kenyataan pahit: untuk menyelamatkan dunia, ia mungkin harus menghancurkannya. Dunia hanya punya dua pilihan: hidup bersamanya atau binasa karenanya.
view moreDi tengah hutan yang tak pernah dikenal oleh para pengelana, berdiri sebuah menara batu menjulang, kelabu dan anggun, seakan menyatu dengan pepohonan yang mengelilinginya. Menara itu tidak tampak menyeramkan, tapi juga tidak sepenuhnya ramah. Menara itu seperti bagian dari hutan itu sendiri, diliputi kabut tipis yang tak pernah benar-benar hilang.
Hutan Kesunyian—begitu hutan itu dikenal dalam bisikan-bisikan tua—bukan sekadar hutan biasa. Pepohonannya menjulang terlalu tinggi, daunnya berkilau kehijauan dalam gelap, dan sesekali tampak cahaya samar menari di antara batang-batang besar, seperti bintang yang salah tempat. Burung jarang terdengar di sana, dan bila ada angin bertiup, suaranya terdengar seperti bisikan. Menara itu menjulang dari dasar bukit kecil, batu-batunya dilapisi lumut dan bunga liar yang berwarna ungu pucat. Dari kejauhan, tampak seperti peninggalan zaman kuno, namun di dalamnya, ada kehidupan sederhana. Di balik jendela bundar paling atas, seorang gadis dengan rambut panjang menjuntai ke lantai duduk bersandar, menatap keluar dengan mata penuh cahaya keingintahuan. Ayundria. Rambutnya berkilau bagai benang emas, jatuh begitu panjang hingga menyapu lantai. Ia sering memandang hutan di sekeliling menara itu, seakan berharap ada sesuatu di balik kabut dan pepohonan yang enggan menceritakan rahasia mereka. Bagi Ayundria, menara itu adalah rumah, sekaligus penjara. Namun, hari itu, hutan terasa berbeda. Kabutnya lebih pekat, dan udara membawa aroma asing yang tak pernah ia cium sebelumnya. Ia menyipitkan mata, mencoba mencari tahu, tapi Hutan Kesunyian selalu pandai menyembunyikan rahasianya. “Ayundria.” Suara lembut, tapi tegas terdengar dari balik pintu kayu bundar yang melengkung sempurna, seorang perempuan masuk, membawa nampan berisi roti hangat dan sup harum. Lyla. Rambutnya hitam, panjang dan sedikit beruban, terikat rapi di belakang kepala. Matanya menyimpan keteduhan, tapi juga sesuatu yang sulit ditebak, seperti sebuah rahasia yang ia simpan erat. Tangannya cekatan, namun gerakannya selalu berhati-hati, seolah setiap langkahnya harus diperhitungkan. Ayundria menoleh, senyumnya cerah. “Ibu, hutan hari ini tampak berbeda. Kabutnya lebih tebal, seakan ada sesuatu di baliknya.” Lyla meletakkan nampan itu di meja bundar kayu. Tatapannya singgah sebentar ke luar jendela sebelum ia kembali menatap Ayundria. “Hutan selalu berubah. Itulah sifatnya. Jangan terlalu lama menatapnya, Ayundria. Kau bisa tersesat bahkan hanya dengan pandangan.” “Tersesat?” Ayundria tertawa kecil. “Aku bahkan belum pernah melangkah keluar dari sini.” Lyla mendekat, merapikan helai rambut Ayundria yang berkilau di bawah cahaya sore. “Dan itu sebabnya kau aman. Dunia luar penuh bahaya yang tak bisa kau bayangkan.” Ayundria menunduk sejenak, lalu berkata lirih, “Tapi aku ingin tahu, Ibu. Aku ingin melihat apa yang ada di balik hutan ini.” Ada keheningan singkat. Tatapan Lyla melembut, tapi ada ketegangan yang tersirat dalam sorot matanya. “Ada saatnya, Ayundria. Tapi belum sekarang.” *** Malam di Hutan Kesunyian berbeda dengan malam di tempat lain. Gelapnya begitu pekat, seolah menelan seluruh cahaya. Suara burung malam, gesekan ranting, dan bisikan angin kerap bercampur, membentuk harmoni yang aneh, antara menenangkan sekaligus menakutkan. Ayundria duduk di ambang jendela bundar menara, kedua kakinya menggantung, rambut emas panjangnya mengalir turun sampai menyentuh lantai. Bulan yang samar-samar terselip di balik kabut menyorot wajahnya, membuat matanya yang berwarna biru muda tampak berkilau. Ia menatap jauh ke arah hutan, matanya penuh tanda tanya. Bagi Ayundria, dunia hanya selebar jendela menara ini. Ia tahu pepohonan, burung, hujan, dan kabut. Tapi ia tak pernah tahu bagaimana rasanya berjalan di jalanan kota, mendengar suara pasar, atau mencicipi makanan selain yang dimasak ibunya. “Ibu selalu bilang dunia di luar penuh bahaya,” gumamnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin. “Tapi bukankah aku tidak tahu apa-apa justru lebih berbahaya?” Ia berdiri, melangkah ke rak kayu di sudut ruangan, lalu menarik sebuah buku lusuh yang sampulnya hampir terkelupas. Buku itu ia temukan bertahun-tahun lalu, terselip di antara perabot lama di loteng. Tak ada yang tahu asalnya, bahkan Lyla pun tak pernah memberitahunya. Ayundria membuka halaman buku yang sudah rapuh. Di dalamnya, ada gambar kota dengan menara-menara menjulang tinggi, orang-orang berkerumun di jalan, dan pasar penuh warna. Di bawahnya tertulis satu kata samar. Aethoria. “Aethoria…” Ayundria menyebutnya pelan, lidahnya seakan terbata karena kata itu terasa asing namun akrab. Ia membayangkan berjalan di jalanan kota itu, mendengar teriakan pedagang, dan merasakan sinar matahari langsung di wajahnya tanpa terhalang jendela menara. Bibirnya tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Di luar sana, hutan bergeming. Kabut semakin tebal, menutupi pandangan. Tapi jika ada yang jeli, di antara rimbun pepohonan, dua cahaya merah samar tampak menyala. Seperti mata yang memperhatikan dari kejauhan. Ayundria tak menyadarinya. Ia masih sibuk menatap gambar kota itu, hatinya dipenuhi kerinduan yang tak bisa ia ungkapkan pada siapa pun. Tangannya menyentuh gambar kota itu, “Suatu hari, aku ingin melihat dunia dengan mataku sendiri.” Angin malam meniup masuk, menggetarkan lilin kecil di meja. Api bergoyang, dan sesaat Ayundria merasa seakan menara berbisik lirih padanya. Malam semakin larut. Ayundria akhirnya menutup buku tua itu dan meletakkannya kembali di rak kayu. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Namun ada sesuatu yang berbeda malam ini, dan ia bisa merasakannya. Biasanya, Hutan Kesunyian akan dipenuhi suara-suara alami: serangga, burung malam, atau ranting patah diterpa angin. Tapi sekarang suara-suara itu menghilang. Ayundria merapatkan selendang tipis ke tubuhnya. Ia berdiri kembali di jendela, menatap ke luar. Kabut makin tebal, menutup hampir seluruh hutan. Namun di sela kabut itu, ia melihat sesuatu bergerak cepat seperti bayangan. “Ah, mungkin cuma rusa,” bisiknya, mencoba meyakinkan diri. BUUM! Sebuah bunyi keras terdengar dari bawah menara, seolah sesuatu yang berat menghantam tanah. Ayundria terlonjak, jantungnya berdegup kencang. Ia berlari ke arah pintu kayu besar yang menuju balkon kecil. Tapi di bawah sana, hanya ada kabut. Namun kabut itu seakan berputar, membentuk lingkaran samar, dan dari lingkaran itu terdengar suara seperti hembusan napas. “A… apa itu?” Ayundria berbisik, suaranya gemetar. Lilin di dalam kamar padam tiba-tiba. Gelap menyelimuti ruangan, hanya menyisakan cahaya pucat bulan yang menembus kaca patri di jendela. Ayundria mundur selangkah, punggungnya menempel ke dinding. Lalu ia mendengar sesuatu. Bukan dari luar, tapi dari dalam menara. Suara langkah kaki, pelan, tapi jelas, bergema dari tangga bawah. “Ibu?” panggilnya, mencoba meyakinkan diri. Tapi tak ada jawaban. Ayundria menatap ke arah pintu kayu yang menghubungkan kamarnya dengan tangga. Suara langkah itu berhenti tepat di balik pintu. Sunyi. CREEEAAK... Detik berikutnya, pintu kayu berderit sedikit, meski tak ada tangan yang menyentuhnya. Ayundria menutup mulutnya, menahan teriak. Matanya melebar. Brak! Sekejap kemudian, pintu itu menutup kembali dengan keras, membuat dinding bergetar, bersamaan dengan suara langkah kaki yang hilang begitu saja. Ayundria jatuh terduduk di lantai, tubuhnya gemetar. Ia tak tahu apa yang baru saja terjadi, tapi satu hal yang jelas, malam ini bukan malam yang biasa. Dan dari luar menara, di balik kabut, sepasang mata merah menyala lebih terang, menatap ke arah jendela Ayundria. Ayundria masih duduk di lantai, napasnya terengah. Ia mencoba berdiri, tapi lututnya gemetar. Dengan tangan bergetar, ia menyalakan kembali lilin yang padam. Api kecil itu menari, memantulkan cahaya lembut ke dinding batu yang dingin. Namun api itu seperti takut menyala penuh. Lidah apinya menciut, kadang hampir padam, seolah ada sesuatu di udara yang menekannya. Ayundria menatap lilin itu lama-lama. Perasaannya kacau. “Apa aku berhalusinasi? Atau memang ada sesuatu di luar sana?” gumamnya pelan. Perlahan, ia melangkah lagi ke jendela. Kabut masih tebal, dan lingkaran aneh yang tadi berputar kini menghilang. Hanya ada bayangan pepohonan yang samar. Hening. Sampai tiba-tiba, ia mendengar suara. Sebuah suara rendah, nyaris berbisik, terhanyut bersama kabut. “Menara ini terlalu rapuh untuk melindungi mu.” Ayundria menegang. Ia menempelkan tubuh ke jendela, mencoba mencari arah suara itu. Tapi yang terlihat hanya kabut. “Siapa di sana?!” teriaknya, meski suaranya pecah. Tak ada jawaban. Ayundria menelan ludah, lalu mundur perlahan. Namun saat ia berbalik, ia mendapati sesuatu yang membuatnya terhenti. Lilin di meja padam lagi, tapi kali ini bukan karena angin. Api kecil itu berubah menjadi kilatan biru, yang menyambar udara sejenak, lalu padam total. Seakan ada listrik yang mengalir sebentar di udara. Ayundria membeku. Jantungnya serasa melompat. Apa itu tadi? Api biru? Petir? Sekilas, sebelum lilin itu padam sepenuhnya, ia sempat melihat bayangan di dinding—siluet seorang pria tinggi, berdiri tegak dengan tongkat di tangan. Tapi saat ia menoleh, tak ada siapa pun di sana. Ayundria terhuyung ke belakang, tangannya mencari pegangan di kursi. Nafasnya semakin cepat. “Tidak mungkin, aku pasti sedang bermimpi.” Namun di dalam hatinya, ia tahu itu bukan mimpi. Itu adalah pertanda. Dan entah siapa sosok yang tersembunyi dalam kabut itu, satu hal pasti—malam ini adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah segalanya. Termasuk hidupnya.Aethoria kembali bernapas. Untuk pertama kalinya setelah berabad-abad, langit tidak retak, tidak merah, tidak bergemuruh oleh raungan purba. Aurora yang dulu penuh amarah kini menari lembut, biru dan hijau, seolah menyapu luka yang ditinggalkan. Di istana yang runtuh setengahnya, para tetua dewan berdiri dalam kebisuan. Mereka menyaksikan retakan besar yang dulu membelah cakrawala kini tertutup oleh cahaya biru yang lembut. Tidak ada satu pun yang bersuara, karena mereka tahu, harga dari semua ini adalah sesuatu yang tak bisa mereka gantikan. Di desa-desa, orang-orang yang selamat menatap langit dengan air mata. Anak-anak yang dulu gemetar ketakutan kini berani berlari lagi, memegang tangan orang tua mereka. Dunia masih hancur, tapi dunia juga selamat. Di Arkai Bawah, tepat di tengah reruntuhan obelisk, sebuah cahaya kecil berdenyut perlahan, seperti detak jantung yang tidak pernah mati. Tidak ada tubuh, tidak ada sosok, hanya cahaya. Namun setiap kali angin berhembus melewati rer
Sunyi. Tidak ada lagi raungan kosmik, tidak ada lagi dentuman retakan, dan yang paling menyedihkan, tidak ada lagi Bill di sisinya. Ayundria berdiri di tengah puing-puing Arkai Bawah, tubuhnya berlumuran darah dan debu, napasnya tersengal. Di sekelilingnya hanya ada reruntuhan obelisk, cahaya yang padam, dan sisa energi Bill yang masih bergetar samar di udara, seperti kilatan petir yang belum mau hilang. Di ujung sana, Seraphine sudah lama hilang. Kini, Bill pun ikut bersamanya. Ayundria memegang dada kirinya, seolah hendak memastikan jantungnya masih berdetak. Ia ingin menangis, tapi air mata sudah kering. Yang tersisa hanya perih yang menusuk hingga ke tulang. “Kenapa selalu mereka? Kenapa bukan aku?” bisiknya serak, hampir tak terdengar. Tapi suaranya langsung terpantul dari kegelapan, seolah dunia sendiri menjawab dengan kejam. “Karena kau kunci, Ayundria.” Ia menggenggam tanah yang hancur, jemarinya berdarah. Dalam diamnya, ia tahu satu hal bahwa semua pengorbanan itu akan
Hening. Kosmos seakan menguap, hanya meninggalkan ruang kosong yang dipenuhi debu cahaya dan pecahan obelisk yang melayang-layang. Arkai yang dulu megah kini hanya bayangan patah, gunung-gunung runtuh jadi abu, sungai-sungai hilang, dan tanah bergema dengan jeritan jiwa yang tertinggal. Ayundria berdiri terhuyung, wajahnya pucat, rambutnya kusut, dan tangannya gemetar. Sisa es yang masih menempel di ujung jarinya retak perlahan, seakan tubuhnya menyerah untuk terus bertahan. Bill berdiri di sampingnya. Dadanya naik-turun kasar, pakaian compang-camping, darah mengalir deras dari bahunya. Namun matanya tetap menyala, keras kepala seperti baja. “Retakan itu masih ada.” suaranya parau, tapi penuh tekad. Mereka menoleh, dan di hadapan mereka, retakan kosmik masih terbuka. Lebih kecil, tapi berdenyut berbahaya. Seperti luka yang enggan sembuh. Dari celah itu, cahaya dan kegelapan bercampur, berputar, seolah ada sesuatu yang menunggu untuk keluar. Bayangan Archon sempat muncul sekilas,
Keheningan merayapi gua setelah cahaya emas Seraphine padam. Retakan masih berdentum samar, tapi suaranya seperti jauh, seakan ikut merunduk oleh pengorbanan yang baru terjadi. Ayundria terduduk, bahunya bergetar. Air mata terus jatuh, menodai lantai batu yang dingin. Jemarinya masih terulur, seolah berusaha meraih cahaya yang sudah tidak ada. “Dia… dia seharusnya tidak…” Bill berdiri terpaku. Matanya kosong, wajahnya kaku, hanya sedikit gemetar di rahang. Api yang biasanya selalu menyala di dirinya kini padam. Ia menggenggam pedang patahnya, menekan erat hingga darah menetes dari genggamannya. “Kenapa selalu begitu?” bisiknya, hampir tak terdengar. “Satu per satu, mereka jatuh. Dan aku—aku hanya bisa menyaksikan tanpa bisa melakukan apa-apa.” Lalu di udara, sesuatu bergetar, seperti nada harpa yang dimainkan sekali lalu menghilang. Cahaya samar muncul, gema dari jiwa Seraphine yang belum sepenuhnya hilang. Ayundria menegakkan tubuhnya, matanya melebar. “Seraphine?” Senyum samar
Langit Arkai yang retak pecah serentak, seperti kaca raksasa yang dilemparkan palu dewa. Suara gemuruhnya tidak hanya terdengar, tapi juga terasa di dalam tulang. Cahaya merah menyembur keluar, membanjiri dunia bawah dengan semburat seperti darah yang tumpah. Dari celah itu, muncul sesuatu perlaha
Mereka jatuh bukan ke tanah, melainkan ke sebuah permukaan yang terasa seperti kaca hidup. Setiap langkah menimbulkan riak cahaya, seolah bumi itu terbuat dari ingatan yang membeku. Langit, atau apa pun itu di atas kepala mereka, bukanlah langit. Ia berputar seperti samudra tinta yang ditaburi bin
Gelombang kedua datang lebih besar. Kali ini bukan hanya serigala tak berbulu, tapi juga makhluk raksasa seperti manusia tanpa wajah, tubuhnya penuh retakan yang mengeluarkan asap hitam. Suara mereka seperti derit logam berkarat, menusuk telinga. Torren dipukul mundur, kapaknya nyaris terlepas. D
Pagi datang tanpa burung, tanpa kicau, tanpa tanda kehidupan. Hutan yang biasanya ramai kini sunyi, seolah alam sedang menahan napas. Ayundria terbangun lebih dulu. Ia merasakan dingin menusuk, bukan dari udara, melainkan dari dalam tanah. Saat ia menapakkan kakinya, ada getaran samar yang menjala






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu