MasukDi sebuah dunia di mana cahaya dan kegelapan berperang tanpa henti, lahirlah seorang gadis dengan takdir yang tidak pernah ia pilih. Terasing, terikat pada rahasia yang bahkan ia sendiri tak pahami, Ayundria harus melangkah ke dalam pusaran perang, sihir, dan pengkhianatan. Bisikan dari masa lalu memanggilnya. Mahkota yang hilang menantinya. Namun setiap langkah mendekatkannya pada kenyataan pahit: untuk menyelamatkan dunia, ia mungkin harus menghancurkannya. Dunia hanya punya dua pilihan: hidup bersamanya atau binasa karenanya.
Lihat lebih banyakAethoria kembali bernapas. Untuk pertama kalinya setelah berabad-abad, langit tidak retak, tidak merah, tidak bergemuruh oleh raungan purba. Aurora yang dulu penuh amarah kini menari lembut, biru dan hijau, seolah menyapu luka yang ditinggalkan. Di istana yang runtuh setengahnya, para tetua dewan berdiri dalam kebisuan. Mereka menyaksikan retakan besar yang dulu membelah cakrawala kini tertutup oleh cahaya biru yang lembut. Tidak ada satu pun yang bersuara, karena mereka tahu, harga dari semua ini adalah sesuatu yang tak bisa mereka gantikan. Di desa-desa, orang-orang yang selamat menatap langit dengan air mata. Anak-anak yang dulu gemetar ketakutan kini berani berlari lagi, memegang tangan orang tua mereka. Dunia masih hancur, tapi dunia juga selamat. Di Arkai Bawah, tepat di tengah reruntuhan obelisk, sebuah cahaya kecil berdenyut perlahan, seperti detak jantung yang tidak pernah mati. Tidak ada tubuh, tidak ada sosok, hanya cahaya. Namun setiap kali angin berhembus melewati rer
Sunyi. Tidak ada lagi raungan kosmik, tidak ada lagi dentuman retakan, dan yang paling menyedihkan, tidak ada lagi Bill di sisinya. Ayundria berdiri di tengah puing-puing Arkai Bawah, tubuhnya berlumuran darah dan debu, napasnya tersengal. Di sekelilingnya hanya ada reruntuhan obelisk, cahaya yang padam, dan sisa energi Bill yang masih bergetar samar di udara, seperti kilatan petir yang belum mau hilang. Di ujung sana, Seraphine sudah lama hilang. Kini, Bill pun ikut bersamanya. Ayundria memegang dada kirinya, seolah hendak memastikan jantungnya masih berdetak. Ia ingin menangis, tapi air mata sudah kering. Yang tersisa hanya perih yang menusuk hingga ke tulang. “Kenapa selalu mereka? Kenapa bukan aku?” bisiknya serak, hampir tak terdengar. Tapi suaranya langsung terpantul dari kegelapan, seolah dunia sendiri menjawab dengan kejam. “Karena kau kunci, Ayundria.” Ia menggenggam tanah yang hancur, jemarinya berdarah. Dalam diamnya, ia tahu satu hal bahwa semua pengorbanan itu akan
Hening. Kosmos seakan menguap, hanya meninggalkan ruang kosong yang dipenuhi debu cahaya dan pecahan obelisk yang melayang-layang. Arkai yang dulu megah kini hanya bayangan patah, gunung-gunung runtuh jadi abu, sungai-sungai hilang, dan tanah bergema dengan jeritan jiwa yang tertinggal. Ayundria berdiri terhuyung, wajahnya pucat, rambutnya kusut, dan tangannya gemetar. Sisa es yang masih menempel di ujung jarinya retak perlahan, seakan tubuhnya menyerah untuk terus bertahan. Bill berdiri di sampingnya. Dadanya naik-turun kasar, pakaian compang-camping, darah mengalir deras dari bahunya. Namun matanya tetap menyala, keras kepala seperti baja. “Retakan itu masih ada.” suaranya parau, tapi penuh tekad. Mereka menoleh, dan di hadapan mereka, retakan kosmik masih terbuka. Lebih kecil, tapi berdenyut berbahaya. Seperti luka yang enggan sembuh. Dari celah itu, cahaya dan kegelapan bercampur, berputar, seolah ada sesuatu yang menunggu untuk keluar. Bayangan Archon sempat muncul sekilas,
Keheningan merayapi gua setelah cahaya emas Seraphine padam. Retakan masih berdentum samar, tapi suaranya seperti jauh, seakan ikut merunduk oleh pengorbanan yang baru terjadi. Ayundria terduduk, bahunya bergetar. Air mata terus jatuh, menodai lantai batu yang dingin. Jemarinya masih terulur, seolah berusaha meraih cahaya yang sudah tidak ada. “Dia… dia seharusnya tidak…” Bill berdiri terpaku. Matanya kosong, wajahnya kaku, hanya sedikit gemetar di rahang. Api yang biasanya selalu menyala di dirinya kini padam. Ia menggenggam pedang patahnya, menekan erat hingga darah menetes dari genggamannya. “Kenapa selalu begitu?” bisiknya, hampir tak terdengar. “Satu per satu, mereka jatuh. Dan aku—aku hanya bisa menyaksikan tanpa bisa melakukan apa-apa.” Lalu di udara, sesuatu bergetar, seperti nada harpa yang dimainkan sekali lalu menghilang. Cahaya samar muncul, gema dari jiwa Seraphine yang belum sepenuhnya hilang. Ayundria menegakkan tubuhnya, matanya melebar. “Seraphine?” Senyum samar
Langit Arkai yang retak pecah serentak, seperti kaca raksasa yang dilemparkan palu dewa. Suara gemuruhnya tidak hanya terdengar, tapi juga terasa di dalam tulang. Cahaya merah menyembur keluar, membanjiri dunia bawah dengan semburat seperti darah yang tumpah. Dari celah itu, muncul sesuatu perlaha
Mereka jatuh bukan ke tanah, melainkan ke sebuah permukaan yang terasa seperti kaca hidup. Setiap langkah menimbulkan riak cahaya, seolah bumi itu terbuat dari ingatan yang membeku. Langit, atau apa pun itu di atas kepala mereka, bukanlah langit. Ia berputar seperti samudra tinta yang ditaburi bin
Gelombang kedua datang lebih besar. Kali ini bukan hanya serigala tak berbulu, tapi juga makhluk raksasa seperti manusia tanpa wajah, tubuhnya penuh retakan yang mengeluarkan asap hitam. Suara mereka seperti derit logam berkarat, menusuk telinga. Torren dipukul mundur, kapaknya nyaris terlepas. D
Cahaya itu menghilang perlahan, meninggalkan gua dalam keheningan yang memekakkan telinga. Hanya sisa debu bercahaya yang melayang di udara, seperti abu bintang yang jatuh ke tanah hitam. Ayundria terjatuh berlutut, dadanya naik-turun, darah menetes dari pelipis. Tangannya gemetar saat mencoba me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan