Azzam tidak langsung menjawab. Ia menatap Hana beberapa detik, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak mudah diucapkan. Napasnya ditarik perlahan, lalu dilepas dengan tenang. “Jalani aja dulu, Hana,” ucapnya lembut. Nada suaranya berbeda dari sebelumnya—tidak datar, tidak dingin. Ada ketenangan yang anehnya justru menenangkan.Hana mendengus pelan. “Nyuruhnya gampang,” gumamnya, meski kakinya tetap melangkah mengikuti Azzam.Begitu memasuki gedung utama rumah sakit militer, aroma antiseptik langsung menyergap. Lantai mengilap, dinding putih bersih, serta langkah-langkah cepat para tenaga medis menciptakan suasana disiplin yang terasa kaku. Hana berjalan sedikit di belakang Azzam, matanya sibuk memperhatikan sekitar. Beberapa prajurit yang berpapasan memberi hormat padanya—dan setiap kali itu terjadi, Hana diam-diam melirik.Oh… ternyata dia cukup “orang penting” ya… batinnya.“Ayo,” ucap Azzam singkat tanpa menoleh, seolah tahu perhatian Hana mulai ke mana-mana. Hana langsung tersada
Ler mais