MasukMenjelang hari pernikahannya, Hana Safira dicampakkan sepihak oleh Raka Pratama, pria berseragam polisi yang pernah ia perjuangkan dengan sabar. Keputusan itu bukan hanya menghancurkan hati Hana, tapi juga melukai harga diri keluarganya. Saat Hana berusaha bangkit dari luka dan menata hidup lewat usahanya sendiri, takdir justru mempertemukannya dengan Kapten dr. Azzam Wiratama, seorang dokter TNI yang tenang dan penuh empati. Namun, kehadiran Azzam membawa rahasia besar—ia adalah masa lalu terindah kakak Hana, luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Di antara cinta yang datang setelah kehancuran, masa lalu yang kembali mengetuk, dan penyesalan yang terlambat, Hana dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya. Apakah cinta kedua benar-benar ditakdirkan untuknya… atau justru menjadi luka baru yang lebih dalam?
Lihat lebih banyakHolly's POV
Punch. Blood. Another punch. More blood. I fidgeted nervously, trying to subdue the imminent urge to throw up. The sight of blood was playing around with the food I had eaten earlier and yet I kept on looking just like the rest of the students and outsiders, my face scrunched up in disgust. This was definitely nothing close to fun. This was just another harsh way of inducing nightmares.
“Are you having fun?” Alex, my roommate and personal bodyguard, shouted above the ongoing roar, tagging at my arm, a look of pure glee on her porcelain face. Why did I let her talk me into this? I could have been cuddled up in my bed covers crying over some sad movie right now.
“If seeing people punching each other to each other to death is the definition of having fun, then I’m totally having fun,” I shouted back.
“See? I knew you’d like it,” It was either my touch of sarcasm was lost on her or she was trying not to let me ruin the night for her. Either way, she was just being Alex.
My brows scrunched up, when the one who was clearly winning jabbed his opponent on the stomach, making him spit out more blood as he fell on the boxing ring. A loud painful groan rippled from his throat. I was pulled away from the sickening sight by the vibration of my phone from my inner jacket pocket. Alex was clearly having fun judging from how loud her voice sounded. I struggled through the mass of cheering sweaty bodies and after what seemed like ages I managed to walk out of the underground house-or whatever it was. I let out a sigh of pure relief the moment the clean air flowed through my nostrils refreshing me. This was so much better than the smoky, druggy and sweat mixed air in that boxing zone. The phone had long stopped ringing when I fished it out of my pocket.
“Shoot!” Three missed calls from my mother.
I was dead, officially.
I walked a few paces away from the excited screaming of the crowds, before redialing her number. The moment it went through she picked up.
“Holly Barbara Washington! Why were you not answering my calls?” she was predictably pretty much mad.
“I was in the library,” that was the only lie I could come up with.
“You know, I almost flew to Roxen City because of you. You only transferred there a week ago. Don’t make my blood pressure shoot up like that, ever again,” She warned in a dangerously lowered tone.
“I’m sorry. It won’t happen again,” I promised.
“It better not,”
“Okay. So why did you call mum?” I asked.
“I just wanted to say goodnight to my daughter,”
“Goodnight too mum,”
“Take care of yourself baby,” baby. I was not ten anymore for pitts sake.
“I will,”
She cut off the call as I sighed. I was turning twenty next month and my mother still called me every single night to say goodnight and make sure I was alright. My gaze flirted to the underground dungeon. I definitely didn’t want to go back in there. Some more screaming and my eardrums will get busted. Making a final decision I turned around and was about to start walking when I rammed into a mass of muscles. Rubbing my forehead and groaning simultaneously, I raised my gaze and almost wished I hadn’t. Dark brown eyes stared back at me mirroring the shock in my own eyes. It was impossible. This had to be a fucking nightmare haunting me while I was awake.
“Holly?” he was the first one to recover. So it was not some nightmare I would be waking up from soon?
I was numbed with shock, my thoughts going on a wild ride as my heart picked up speed. He was taller now and his features looking like the art of a very talented artist. His eyes wore the same shocked expression and it was only when he stretched his hand to touch my cheek, did I snap out of my daze.
“Excuse me,” I rushed past him.
“Holly! Wait,” His voice had grown way deeper than I last remembered it.
“S-Stay the hell away from me,” I warned, angling my head one last time to drive my point home.
He didn’t follow me and for once I was grateful for that. As I paced in the room I shared with Alex, I could not bring myself to accept it. Maybe it had just been his hologram. But he called my name. He fucking called my name. After four years of struggling to get over him, he was suddenly here? Tan fucking Harvey was here in Roxen City University. Damn! He really was here and I just collided with him. That night I kept on turning and tossing on my bed, trying to come into terms with everything. Could it be possible I was just imagining things? I badly wanted to believe that. Unable to sleep, I picked my phone video calling Jenny. She was studying Business management in Seoul State University.
“Holly?” Judging from her voice, she was only half alert with her eyes probably half closed. Unlike me who could stay up for hours, she preferred sleeping early.
“I just saw Tan today,” her eyes shot wide open.
“Are you sleep- calling me ?” she questioned after a moment.
“No. I ran into him around forty five minutes ago,”
“Are sure its Tan or was it somebody else who looked like him?”
“It was Tan and he called my name,”
“Wow, that is messed up,” she muttered.
“Not helping. What if he is studying here in RCU?” I asked the inevitable.
“Or he could be as well visiting someone,” she suggested.
“Right. He was obviously visiting someone which means there is zero chance we will meet ever again,” It was more of a consolation to me. God! I badly wanted to believe that.
Raka. Hana hanya menatap pesan itu. Beberapa detik ia tidak berani membukanya. Namun akhirnya jarinya menyentuh layar. Hana, aku benar-benar nggak menyangka kamu dan keluargamu akan sejauh ini. Hana mengerutkan kening. Pesan berikutnya masuk. Aku sudah datang baik-baik. Aku sudah meminta restu. Tapi kalian tetap menolak. Dada Hana mulai terasa sesak. Pesan berikutnya muncul. Kalau sejak awal kamu mau membantuku bicara kepada Abi dan Umi, mungkin semuanya nggak akan seperti ini. Hana membeku. Tangannya mulai gemetar. Jadi sekarang dirinya yang disalahkan? Raka bahkan tidak pernah benar-benar meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya. Tidak pernah bertanya bagaimana perasaannya. Tidak pernah menanyakan apakah Hana sudah bisa menerima semuanya. Justru sekarang laki-laki itu menyalahkannya karena tidak mendapatkan restu. Pesan lain masuk. Aku cuma ingin menikahi Nadya. Aku nggak pernah bermaksud menghancurkan keluarga kita. Hana menatap layar den
Nadya pulang dengan hati yang hancur. Sepanjang perjalanan, air matanya tidak berhenti mengalir. Perkataan Hana terus terngiang-ngiang di kepalanya. Aku sudah kehilangan Kakak sejak Kakak memilih Raka. Nadya mengepalkan tangannya. Bukannya merasa bersalah, justru kebencian perlahan tumbuh di dalam hatinya. Ia mulai membenci Hana. Kenapa adiknya tidak mau mengerti? Kenapa tidak ada satu pun yang mau memahami perasaannya? "Aku cuma minta restu..." Suara Nadya bergetar di dalam tangisnya. "Aku cuma ingin menikah dengan orang yang aku cintai." Ia mengusap air mata dengan kasar. "Kenapa semuanya harus dipersulit?" Dalam pikirannya, Abi dan Umi juga semakin tidak adil. Sejak dulu mereka selalu memikirkan Hana. Sekarang pun begitu. Ketika Hana terluka, semua orang sibuk membelanya. Ketika Hana dikecewakan Raka, seluruh keluarga menyalahkan Raka. Sementara ketika Nadya ingin memperjuangkan kebahagiaannya sendiri, tidak ada yang mau berdiri di sisinya. "Ken
Air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya. "Kakak lebih mementingkan ego dan perasaan Kakak sendiri dibandingkan perasaan Hana." "Hana..." "Dan bukan cuma perasaan Hana." Hana mengusap pipinya. "Kakak juga mementingkan keinginan Kakak dibandingkan perasaan Abi dan Umi." Nadya terdiam. "Abi dan Umi terluka karena melihat anak mereka saling menyakiti." Hana menundukkan wajah. "Mereka kehilangan kepercayaan kepada Raka. Mereka marah karena Raka mempermainkan perasaan Hana." Hana kembali menatap Nadya. "Tapi Kakak malah ingin mereka memberikan restu." Nadya menarik napas dalam-dalam. "Kakak cuma ingin menikah dengan orang yang Kakak cintai." "Dan Hana?" Nadya terdiam. "Perasaan Hana bagaimana?" Hening. Hana tersenyum pahit. "Apakah karena Kakak lebih dulu mencintai Raka, berarti rasa sakit Hana jadi nggak penting?" "Nggak begitu." "Lalu bagaimana?" Nadya tidak mampu menjawab. Hana menggeleng pelan. "Itulah masalahnya, Kak." "Apa?" "Kakak
Namun Nadya sudah terlalu mencintai Raka. Cinta itu membuat pikirannya tidak lagi bekerja dengan jernih. Ia tahu Raka salah. Ia tahu Abi dan Umi punya alasan untuk menolak laki-laki itu. Ia juga tahu Hana adalah orang yang paling terluka dalam semua masalah ini. Namun setiap kali membayangkan kehilangan Raka, semua pertimbangan itu seolah menghilang. Nadya mengambil ponselnya. Tangannya sempat berhenti di atas layar ketika melihat satu nama yang sebenarnya paling ingin ia hindari. Hana. Adiknya sendiri. Nadya menarik napas panjang sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Satu kali. Tidak diangkat. Nadya mencoba lagi. Kali ini panggilan tersambung. "Halo?" Suara Hana terdengar datar. Nadya langsung menggigit bibir. "Hana..." "Ada apa, Kak?" Nadya terdiam beberapa detik. "Kakak mau ketemu kamu." "Untuk apa?" "Kita bicara." "Aku rasa nggak ada yang perlu dibicarakan." "Hana, tolong." "Kalau soal Raka, aku nggak mau." Nadya langsung terdiam
Hana masih berdiri beberapa saat di halaman rumah setelah mobil keluarga Azzam benar-benar hilang dari pandangan. Jalan di depan rumah kembali sepi. Hanya suara angin yang menggerakkan daun pohon mangga di samping pagar. Dadanya terasa aneh. Tidak tenang. Ia tidak tahu kenapa kalimat Azzam tad
“Hana… tidak bisa.”Kalimat itu jatuh pelan, tetapi terasa seperti batu yang dilempar ke dalam ruangan yang tenang.Semua orang terdiam.“Hana!” suara Ahmad rendah namun tegas. Matanya melotot ke arah putrinya.Hana langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdetak semakin keras. Ia tahu kalimatnya
Hana duduk di hadapan ayahnya. Jantungnya berdegup tak nyaman. Ia tahu pembicaraan ini pasti akan datang.“Besok keluarga Azzam akan datang ke rumah,” ucap Ahmad tegas. “Abi sudah bicara dengan mereka.”Nama itu terdengar asing.Azzam.Hana menelan ludah.“Kamu siap, Nak?”Pertanyaan itu sebenarnya
Mesin monitor berbunyi pelan dan teratur. Ruangan ICU terasa dingin dan sunyi. Hanya suara alat-alat medis yang terdengar stabil, seolah menjadi pengingat bahwa hidup seseorang sedang dipertahankan dengan segala daya.Hana masih menggenggam tangan ayahnya. Tangan itu terasa dingin, tetapi kali ini












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan