로그인Menjelang hari pernikahannya, Hana Safira dicampakkan sepihak oleh Raka Pratama, pria berseragam polisi yang pernah ia perjuangkan dengan sabar. Keputusan itu bukan hanya menghancurkan hati Hana, tapi juga melukai harga diri keluarganya. Saat Hana berusaha bangkit dari luka dan menata hidup lewat usahanya sendiri, takdir justru mempertemukannya dengan Kapten dr. Azzam Wiratama, seorang dokter TNI yang tenang dan penuh empati. Namun, kehadiran Azzam membawa rahasia besar—ia adalah masa lalu terindah kakak Hana, luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Di antara cinta yang datang setelah kehancuran, masa lalu yang kembali mengetuk, dan penyesalan yang terlambat, Hana dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya. Apakah cinta kedua benar-benar ditakdirkan untuknya… atau justru menjadi luka baru yang lebih dalam?
더 보기“Raka sudah keterlaluan.”
Suara Abi Ahmad Fauzan terdengar berat—bukan teriak, tetapi jelas penuh amarah yang ditahan. Ia berdiri di tengah ruang tamu, mondar-mandir dengan langkah pendek. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. “Sabar, Abi,” ucap Umi Aisyah Rahman pelan. Ia duduk di samping Hana, menggenggam tangan putrinya erat. “Jangan emosi dulu.” “Bagaimana Abi mau sabar, Mi?” Ahmad berhenti melangkah. Matanya memerah. “Raka sudah mempermalukan keluarga kita. Dia memutuskan pernikahan ini sepihak, tanpa bicara apa-apa ke Abi.” Hana menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Dadanya terasa sesak. “Maafin Hana, Bi,” suaranya gemetar. “Hana nggak pernah niat bikin Abi sama Umi malu.” Umi Aisyah mengelus punggung tangan Hana, tak melepaskan genggamannya, seolah takut anaknya roboh jika ia lengah sedikit saja. “Ini semua sudah takdir, Nak,” ucap Umi dengan suara bergetar. “Kita nggak bisa menghindar dari apa yang Allah atur.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi rasanya begitu berat. Umi Aisyah sudah terlanjur bercerita ke ibu-ibu pengajian. Orang-orang sudah tahu Hana akan menikah. Doa-doa sudah dipanjatkan. Sementara itu, Abi Ahmad Fauzan—mantan kapten TNI yang terkenal tegas—berdiri dengan dada naik turun. Meski usianya tak lagi muda, tubuhnya masih tegap. Wibawanya tetap sama. Dan hari ini, ia merasa keluarganya dipermainkan. “Abi ke rumah Raka,” ucap Ahmad tiba-tiba. Hana langsung mendongak. “Abi…” Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya. “Abi!” Umi Aisyah buru-buru berdiri, menahan lengan suaminya. “Dengar Umi. Jangan terpancing emosi. Istighfar, Bi. Istighfar.” Ahmad memejamkan mata. Dadanya naik turun. “Astagfirullahaladzim… astagfirullah… astagfirullah,” gumamnya pelan. Ia kembali duduk, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. “Terus kita harus bagaimana, Mi?” tanyanya, kini dengan nada panik yang tertahan. “Orang-orang sudah tahu Hana mau menikah.” “Kita terima saja dulu, Bi,” jawab Aisyah lirih. “Ini bukan salah Hana.” Ahmad menoleh ke arah Hana. Tatapannya keras, tetapi jelas menyimpan kecewa. “Hana,” ucapnya tegas. “Dari awal Abi memang nggak suka sama Raka. Tapi kamu yang ngotot mau sama dia.” Hana menangis lebih keras. Kepalanya tertunduk dalam. “Maafin Hana, Bi… maafin Hana.” “Cuma karena kamu dianggap nggak sepadan,” lanjut Ahmad, emosinya kembali naik, “dia langsung memutuskan pernikahan ini begitu saja.” Rahang Ahmad mengeras. “Raka,” sebutnya dengan nada tertahan. Lalu, tanpa aba-aba, ia berkata, “Kamu harus menikah, Hana.” Hana dan Umi Aisyah sama-sama mendongak. “Bi?” suara Aisyah terdengar kaget. “Hana mau menikah sama siapa?” “Abi yang akan carikan jodoh buat Hana,” jawab Ahmad tegas. Ia berdiri lagi. Kali ini suaranya dingin. “Abi nggak terima keluarga Raka memperlakukan kita seperti orang rendahan.” “Abi… Hana—” Hana mencoba bicara, tetapi suaranya tenggelam oleh tangis. “Turuti Abi, Hana,” potong Ahmad. Nadanya memang turun, tetapi justru terasa lebih berat. “Abi nggak mau lihat kamu diinjak-injak lagi.” “Hati Hana belum sembuh, Bi,” suara Hana pecah. Isaknya makin keras. “Hana belum siap menerima orang baru dalam hidup Hana.” Ahmad menoleh cepat. Wajahnya mengeras. “Cukup, Hana!” suaranya meninggi. “Kamu mau lihat keluarga kita jadi bahan omongan sekampung? Mau Abi malu di depan para kerabat?” Hana berdiri. Kakinya gemetar, tetapi ia memaksa tubuhnya tetap tegak. “Tapi, Bi,” suaranya bergetar, kali ini lebih tegas, “Abi nggak lihat Hana sekarang? Abi nggak lihat Hana hancur seperti apa?” Dadanya naik turun. Tangannya gemetar menunjuk dirinya sendiri. “Hana bukan barang rusak yang bisa langsung diganti, Bi!” Umi Aisyah ikut berdiri. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca. “Hana…” suaranya lirih. “Umi nggak tahu harus berbuat apa. Tapi Umi minta tolong… jangan lawan Abi kamu sekarang.” Hana menggeleng keras. “Nggak, Mi!” teriaknya. Air matanya jatuh deras. “Hana belum siap! Hana hancur, Mi! Hana nggak bisa!” Kalimat itu belum sempat selesai ketika— Plak! Suara tamparan itu menggema di ruang tamu. Tubuh Hana terhuyung ke samping. Kepalanya terasa berputar. Pipinya panas dan perih, seolah terbakar. Ia terpaku. Tangisnya terhenti seketika—bukan karena lega, melainkan karena syok. “Abi!” teriak Umi Aisyah histeris. Ia langsung memeluk Hana. “Astaghfirullah, Abi! Kenapa Abi sampai begini?!” Hana hanya diam. Tangannya gemetar menyentuh pipinya sendiri. Matanya kosong—bukan marah, bukan benci, tetapi hancur. Ahmad berdiri kaku. Tangannya yang tadi terangkat perlahan turun. Napasnya berat. Dadanya terasa sesak. Ia menatap putrinya. Untuk sesaat, penyesalan melintas di matanya. Namun gengsi dan amarah lebih dulu menutupinya. “Abi melakukan ini bukan karena Abi benci kamu,” ucapnya dengan suara keras yang bergetar. “Abi nggak mau lihat kamu diinjak-injak lagi!” “Dengan cara ini?” suara Hana pelan—sangat pelan—tetapi justru terasa menusuk. “Dengan mukul Hana?” Umi Aisyah menangis. Tangannya mengusap rambut Hana berkali-kali. “Maafin Abi kamu, Nak… maafin Abi kamu…” ucapnya terisak. Ahmad memalingkan wajah. Rahangnya kembali mengeras. “Keputusan Abi sudah bulat,” katanya dingin. “Kamu akan menikah. Entah kamu siap atau tidak.” Hana tertawa kecil—tawa yang terdengar aneh, pahit, dan kosong. “Hana sudah kehilangan Raka, Bi,” katanya lirih. “Sekarang Hana juga kehilangan suara Hana sendiri.” Ia menoleh ke arah Umi Aisyah. “Hana capek, Mi.” “Hana harus menikah,” tegas Ahmad tanpa goyah. “Dia harus menikah dengan pilihan Abi.”Raka. Hana hanya menatap pesan itu. Beberapa detik ia tidak berani membukanya. Namun akhirnya jarinya menyentuh layar. Hana, aku benar-benar nggak menyangka kamu dan keluargamu akan sejauh ini. Hana mengerutkan kening. Pesan berikutnya masuk. Aku sudah datang baik-baik. Aku sudah meminta restu. Tapi kalian tetap menolak. Dada Hana mulai terasa sesak. Pesan berikutnya muncul. Kalau sejak awal kamu mau membantuku bicara kepada Abi dan Umi, mungkin semuanya nggak akan seperti ini. Hana membeku. Tangannya mulai gemetar. Jadi sekarang dirinya yang disalahkan? Raka bahkan tidak pernah benar-benar meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya. Tidak pernah bertanya bagaimana perasaannya. Tidak pernah menanyakan apakah Hana sudah bisa menerima semuanya. Justru sekarang laki-laki itu menyalahkannya karena tidak mendapatkan restu. Pesan lain masuk. Aku cuma ingin menikahi Nadya. Aku nggak pernah bermaksud menghancurkan keluarga kita. Hana menatap layar den
Nadya pulang dengan hati yang hancur. Sepanjang perjalanan, air matanya tidak berhenti mengalir. Perkataan Hana terus terngiang-ngiang di kepalanya. Aku sudah kehilangan Kakak sejak Kakak memilih Raka. Nadya mengepalkan tangannya. Bukannya merasa bersalah, justru kebencian perlahan tumbuh di dalam hatinya. Ia mulai membenci Hana. Kenapa adiknya tidak mau mengerti? Kenapa tidak ada satu pun yang mau memahami perasaannya? "Aku cuma minta restu..." Suara Nadya bergetar di dalam tangisnya. "Aku cuma ingin menikah dengan orang yang aku cintai." Ia mengusap air mata dengan kasar. "Kenapa semuanya harus dipersulit?" Dalam pikirannya, Abi dan Umi juga semakin tidak adil. Sejak dulu mereka selalu memikirkan Hana. Sekarang pun begitu. Ketika Hana terluka, semua orang sibuk membelanya. Ketika Hana dikecewakan Raka, seluruh keluarga menyalahkan Raka. Sementara ketika Nadya ingin memperjuangkan kebahagiaannya sendiri, tidak ada yang mau berdiri di sisinya. "Ken
Air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya. "Kakak lebih mementingkan ego dan perasaan Kakak sendiri dibandingkan perasaan Hana." "Hana..." "Dan bukan cuma perasaan Hana." Hana mengusap pipinya. "Kakak juga mementingkan keinginan Kakak dibandingkan perasaan Abi dan Umi." Nadya terdiam. "Abi dan Umi terluka karena melihat anak mereka saling menyakiti." Hana menundukkan wajah. "Mereka kehilangan kepercayaan kepada Raka. Mereka marah karena Raka mempermainkan perasaan Hana." Hana kembali menatap Nadya. "Tapi Kakak malah ingin mereka memberikan restu." Nadya menarik napas dalam-dalam. "Kakak cuma ingin menikah dengan orang yang Kakak cintai." "Dan Hana?" Nadya terdiam. "Perasaan Hana bagaimana?" Hening. Hana tersenyum pahit. "Apakah karena Kakak lebih dulu mencintai Raka, berarti rasa sakit Hana jadi nggak penting?" "Nggak begitu." "Lalu bagaimana?" Nadya tidak mampu menjawab. Hana menggeleng pelan. "Itulah masalahnya, Kak." "Apa?" "Kakak
Namun Nadya sudah terlalu mencintai Raka. Cinta itu membuat pikirannya tidak lagi bekerja dengan jernih. Ia tahu Raka salah. Ia tahu Abi dan Umi punya alasan untuk menolak laki-laki itu. Ia juga tahu Hana adalah orang yang paling terluka dalam semua masalah ini. Namun setiap kali membayangkan kehilangan Raka, semua pertimbangan itu seolah menghilang. Nadya mengambil ponselnya. Tangannya sempat berhenti di atas layar ketika melihat satu nama yang sebenarnya paling ingin ia hindari. Hana. Adiknya sendiri. Nadya menarik napas panjang sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Satu kali. Tidak diangkat. Nadya mencoba lagi. Kali ini panggilan tersambung. "Halo?" Suara Hana terdengar datar. Nadya langsung menggigit bibir. "Hana..." "Ada apa, Kak?" Nadya terdiam beberapa detik. "Kakak mau ketemu kamu." "Untuk apa?" "Kita bicara." "Aku rasa nggak ada yang perlu dibicarakan." "Hana, tolong." "Kalau soal Raka, aku nggak mau." Nadya langsung terdiam
Hana masih berdiri beberapa saat di halaman rumah setelah mobil keluarga Azzam benar-benar hilang dari pandangan. Jalan di depan rumah kembali sepi. Hanya suara angin yang menggerakkan daun pohon mangga di samping pagar. Dadanya terasa aneh. Tidak tenang. Ia tidak tahu kenapa kalimat Azzam tad
“Hana… tidak bisa.”Kalimat itu jatuh pelan, tetapi terasa seperti batu yang dilempar ke dalam ruangan yang tenang.Semua orang terdiam.“Hana!” suara Ahmad rendah namun tegas. Matanya melotot ke arah putrinya.Hana langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdetak semakin keras. Ia tahu kalimatnya
Hana duduk di hadapan ayahnya. Jantungnya berdegup tak nyaman. Ia tahu pembicaraan ini pasti akan datang.“Besok keluarga Azzam akan datang ke rumah,” ucap Ahmad tegas. “Abi sudah bicara dengan mereka.”Nama itu terdengar asing.Azzam.Hana menelan ludah.“Kamu siap, Nak?”Pertanyaan itu sebenarnya
Mesin monitor berbunyi pelan dan teratur. Ruangan ICU terasa dingin dan sunyi. Hanya suara alat-alat medis yang terdengar stabil, seolah menjadi pengingat bahwa hidup seseorang sedang dipertahankan dengan segala daya.Hana masih menggenggam tangan ayahnya. Tangan itu terasa dingin, tetapi kali ini






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰