เข้าสู่ระบบMenjelang hari pernikahannya, Hana Safira dicampakkan sepihak oleh Raka Pratama, pria berseragam polisi yang pernah ia perjuangkan dengan sabar. Keputusan itu bukan hanya menghancurkan hati Hana, tapi juga melukai harga diri keluarganya. Saat Hana berusaha bangkit dari luka dan menata hidup lewat usahanya sendiri, takdir justru mempertemukannya dengan Kapten dr. Azzam Wiratama, seorang dokter TNI yang tenang dan penuh empati. Namun, kehadiran Azzam membawa rahasia besar—ia adalah masa lalu terindah kakak Hana, luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Di antara cinta yang datang setelah kehancuran, masa lalu yang kembali mengetuk, dan penyesalan yang terlambat, Hana dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya. Apakah cinta kedua benar-benar ditakdirkan untuknya… atau justru menjadi luka baru yang lebih dalam?
ดูเพิ่มเติม"Can you please tell me why your master wants to marry me? I don't even know him?" Kate looked at him with her fearful and confused gaze.
She was feeling very nervous.
"Miss, if you want to save Mr. Waston's company, marry our master. This is the only condition our master has for you," he told her.
Kate thought, "How could I marry a man whom I have never met in my life, but he knew she didn't have any other options to save her adopted father's company?"
"I need some time to think about it," Kate felt confused. She was just a college student. Alex stood from the chair and looked at her.
"Miss, you only have one day to think about this deal," Alex handed a card to Kate. "If you change your mind and agree to marry our master, then please call this number." Kate took that card from Alex:
"Thank you."
Alex turned around and left that coffee shop; Kate sat there in a daze; she felt like the entire world was crushing her hard.
Alex came out of the coffee shop and quickly went inside a car. After closing the car door, he turned to the car's backseat.
A handsome man was sitting there. That man lifted his black eyes from his laptop and looked at Alex. His eyes were icy cold; his one look was enough to give someone a severe heart attack.
Alex felt his sharp gaze; he felt very nervous. "Master, Miss said she needs some time to think about it."
The handsome man gave him a wintry smile. "Make all the preparations for tomorrow. She will say yes." he looked at the girl who was standing in front of the coffee shop.
Even if she wanted to refuse, she could not.
He was a legendary man of the S country. Everyone had always regarded him as a male god in this city, In S country. Everyone knows how heartless he could be if anyone dared to challenge him.
If he wanted to own something, nothing could stop him. So now he wants to marry her. How could she escape from him? He was the master who could make anyone fall into his trap, and she was just a little girl who had no idea what he desired from her.
"Okay, master" Alex understood his master's order.
"Go," he said to Alex. So Alex started the car and drove off on the road.
He looked at his master from the front mirror; he knew what his master was thinking. He has been following his master for nearly ten years now. He sighed softly; he knew his master's life would take a new turn from tomorrow.
Kate returned to her hostel room at noon, her thoughts running into the conversation in the coffee shop. When her phone rang, she looked at her phone and noticed a call from her mother, Rachel Weston. She answered it.
"mom"
"Kate, did you meet Mr. Wood?"
"Yeah, Mom, I already met him."
"Kate, what did he say to you?" Is he going to help us?"
"Mom, I'm not sure about it yet, but…."
Rachel Waston cut off her words before she could finish her words.
"Kate, although you're our adopted daughter, we gave you everything that we gave our daughter Sherry all those years. Now we're in deep trouble. Can you please help us?"
These words hurt Kate's heart; even though she knew they never truly cared about her, they owned her life.
Rachel Weston would sell her biological daughter for the money, so why would she be kind enough to spare Kate?
She was a greedy woman. For her, money was everything in her world.
Now their company is in a deep crisis. How could Rachel do nothing to save herself and her so-called image?
"I don't know what you will do, but you have to persuade Mr. Wood to tell his master to help our company, do you understand?
"Okay, Mom, I understand; I will do as you say. Rachel Waston hung up the phone call.
Kate was going to have lunch, but now she has lost her appetite. She lowered her head and got lost in her thoughts; Kate did not realize even when someone opened the door,
"Where were you all morning? Amy inquired Kate. Kate came back to her senses and crooked around,
"Oh, Amy, when did you come back?" Kate asked with a smile.
Kate and Amy became friends when they entered college, but they became best friends with time.
"What happened? You looked pale," Amy worriedly asked.
"Nothing, I’m just tired. Kate couldn't tell her the truth.
"Tell me truthfully, did that Walton family say anything to you?" Amy looked at her suspiciously.
Amy knows how that bitchy Waston family has treated Kate over the past few years.
"Amy, don't overthink; they didn't tell me anything. I have a headache; that’s nothing to worry about."
"If you say so, okay, have some rest now; I have classes after lunch." Amy took her bag and left the room.
Kate felt relief that Amy didn't force her to say anything else.
She lay down on her bed and thought about her life.
She could marry a man she never met, but it's not like she has any other options. Kate knew she had to return the debt she owed them.
Kate sighed; she had to sacrifice her freedom and future for her debts.
In a luxurious VIP private room, there were three people inside the room.
These three men looked super handsome. However, these three men have different characteristics.
A man looked playful and easy-going on the right side of the sofa. His name is Adam Richard. S country playboy, even though he never played with women, he was a little flirty.
On the opposite side, a man looked calm, severe, and courteous. His name is Liam Jones.
In the middle, there was the most handsome man. In a black suit, he was the king of the S country's business world, David Xiver.
One look from him was enough to make any woman crazy for him. S Country's people know he is a heartless psycho if anyone tries to challenge him.
He taught them harsh lessons that they wished they were never born. He never cared for anyone other than his friends and hers.
Raka. Hana hanya menatap pesan itu. Beberapa detik ia tidak berani membukanya. Namun akhirnya jarinya menyentuh layar. Hana, aku benar-benar nggak menyangka kamu dan keluargamu akan sejauh ini. Hana mengerutkan kening. Pesan berikutnya masuk. Aku sudah datang baik-baik. Aku sudah meminta restu. Tapi kalian tetap menolak. Dada Hana mulai terasa sesak. Pesan berikutnya muncul. Kalau sejak awal kamu mau membantuku bicara kepada Abi dan Umi, mungkin semuanya nggak akan seperti ini. Hana membeku. Tangannya mulai gemetar. Jadi sekarang dirinya yang disalahkan? Raka bahkan tidak pernah benar-benar meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya. Tidak pernah bertanya bagaimana perasaannya. Tidak pernah menanyakan apakah Hana sudah bisa menerima semuanya. Justru sekarang laki-laki itu menyalahkannya karena tidak mendapatkan restu. Pesan lain masuk. Aku cuma ingin menikahi Nadya. Aku nggak pernah bermaksud menghancurkan keluarga kita. Hana menatap layar den
Nadya pulang dengan hati yang hancur. Sepanjang perjalanan, air matanya tidak berhenti mengalir. Perkataan Hana terus terngiang-ngiang di kepalanya. Aku sudah kehilangan Kakak sejak Kakak memilih Raka. Nadya mengepalkan tangannya. Bukannya merasa bersalah, justru kebencian perlahan tumbuh di dalam hatinya. Ia mulai membenci Hana. Kenapa adiknya tidak mau mengerti? Kenapa tidak ada satu pun yang mau memahami perasaannya? "Aku cuma minta restu..." Suara Nadya bergetar di dalam tangisnya. "Aku cuma ingin menikah dengan orang yang aku cintai." Ia mengusap air mata dengan kasar. "Kenapa semuanya harus dipersulit?" Dalam pikirannya, Abi dan Umi juga semakin tidak adil. Sejak dulu mereka selalu memikirkan Hana. Sekarang pun begitu. Ketika Hana terluka, semua orang sibuk membelanya. Ketika Hana dikecewakan Raka, seluruh keluarga menyalahkan Raka. Sementara ketika Nadya ingin memperjuangkan kebahagiaannya sendiri, tidak ada yang mau berdiri di sisinya. "Ken
Air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya. "Kakak lebih mementingkan ego dan perasaan Kakak sendiri dibandingkan perasaan Hana." "Hana..." "Dan bukan cuma perasaan Hana." Hana mengusap pipinya. "Kakak juga mementingkan keinginan Kakak dibandingkan perasaan Abi dan Umi." Nadya terdiam. "Abi dan Umi terluka karena melihat anak mereka saling menyakiti." Hana menundukkan wajah. "Mereka kehilangan kepercayaan kepada Raka. Mereka marah karena Raka mempermainkan perasaan Hana." Hana kembali menatap Nadya. "Tapi Kakak malah ingin mereka memberikan restu." Nadya menarik napas dalam-dalam. "Kakak cuma ingin menikah dengan orang yang Kakak cintai." "Dan Hana?" Nadya terdiam. "Perasaan Hana bagaimana?" Hening. Hana tersenyum pahit. "Apakah karena Kakak lebih dulu mencintai Raka, berarti rasa sakit Hana jadi nggak penting?" "Nggak begitu." "Lalu bagaimana?" Nadya tidak mampu menjawab. Hana menggeleng pelan. "Itulah masalahnya, Kak." "Apa?" "Kakak
Namun Nadya sudah terlalu mencintai Raka. Cinta itu membuat pikirannya tidak lagi bekerja dengan jernih. Ia tahu Raka salah. Ia tahu Abi dan Umi punya alasan untuk menolak laki-laki itu. Ia juga tahu Hana adalah orang yang paling terluka dalam semua masalah ini. Namun setiap kali membayangkan kehilangan Raka, semua pertimbangan itu seolah menghilang. Nadya mengambil ponselnya. Tangannya sempat berhenti di atas layar ketika melihat satu nama yang sebenarnya paling ingin ia hindari. Hana. Adiknya sendiri. Nadya menarik napas panjang sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Satu kali. Tidak diangkat. Nadya mencoba lagi. Kali ini panggilan tersambung. "Halo?" Suara Hana terdengar datar. Nadya langsung menggigit bibir. "Hana..." "Ada apa, Kak?" Nadya terdiam beberapa detik. "Kakak mau ketemu kamu." "Untuk apa?" "Kita bicara." "Aku rasa nggak ada yang perlu dibicarakan." "Hana, tolong." "Kalau soal Raka, aku nggak mau." Nadya langsung terdiam
Hana duduk di hadapan ayahnya. Jantungnya berdegup tak nyaman. Ia tahu pembicaraan ini pasti akan datang.“Besok keluarga Azzam akan datang ke rumah,” ucap Ahmad tegas. “Abi sudah bicara dengan mereka.”Nama itu terdengar asing.Azzam.Hana menelan ludah.“Kamu siap, Nak?”Pertanyaan itu sebenarnya
Mesin monitor berbunyi pelan dan teratur. Ruangan ICU terasa dingin dan sunyi. Hanya suara alat-alat medis yang terdengar stabil, seolah menjadi pengingat bahwa hidup seseorang sedang dipertahankan dengan segala daya.Hana masih menggenggam tangan ayahnya. Tangan itu terasa dingin, tetapi kali ini
Hana masih berdiri beberapa saat di halaman rumah setelah mobil keluarga Azzam benar-benar hilang dari pandangan. Jalan di depan rumah kembali sepi. Hanya suara angin yang menggerakkan daun pohon mangga di samping pagar. Dadanya terasa aneh. Tidak tenang. Ia tidak tahu kenapa kalimat Azzam tad
“Hana… tidak bisa.”Kalimat itu jatuh pelan, tetapi terasa seperti batu yang dilempar ke dalam ruangan yang tenang.Semua orang terdiam.“Hana!” suara Ahmad rendah namun tegas. Matanya melotot ke arah putrinya.Hana langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdetak semakin keras. Ia tahu kalimatnya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น