Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI

Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI

last updateLast Updated : 2026-03-10
By:  Nuur mommy kembarUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Menjelang hari pernikahannya, Hana Safira dicampakkan sepihak oleh Raka Pratama, pria berseragam polisi yang pernah ia perjuangkan dengan sabar. Keputusan itu bukan hanya menghancurkan hati Hana, tapi juga melukai harga diri keluarganya. Saat Hana berusaha bangkit dari luka dan menata hidup lewat usahanya sendiri, takdir justru mempertemukannya dengan Kapten dr. Azzam Wiratama, seorang dokter TNI yang tenang dan penuh empati. Namun, kehadiran Azzam membawa rahasia besar—ia adalah masa lalu terindah kakak Hana, luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Di antara cinta yang datang setelah kehancuran, masa lalu yang kembali mengetuk, dan penyesalan yang terlambat, Hana dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya. Apakah cinta kedua benar-benar ditakdirkan untuknya… atau justru menjadi luka baru yang lebih dalam?

View More

Chapter 1

Bab 1. Pernikahan yang dibatalkan

“Raka sudah keterlaluan.”

Suara Abi Ahmad Fauzan terdengar berat—bukan teriak, tetapi jelas penuh amarah yang ditahan. Ia berdiri di tengah ruang tamu, mondar-mandir dengan langkah pendek. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.

“Sabar, Abi,” ucap Umi Aisyah Rahman pelan. Ia duduk di samping Hana, menggenggam tangan putrinya erat. “Jangan emosi dulu.”

“Bagaimana Abi mau sabar, Mi?” Ahmad berhenti melangkah. Matanya memerah. “Raka sudah mempermalukan keluarga kita. Dia memutuskan pernikahan ini sepihak, tanpa bicara apa-apa ke Abi.”

Hana menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Dadanya terasa sesak.

“Maafin Hana, Bi,” suaranya gemetar. “Hana nggak pernah niat bikin Abi sama Umi malu.”

Umi Aisyah mengelus punggung tangan Hana, tak melepaskan genggamannya, seolah takut anaknya roboh jika ia lengah sedikit saja.

“Ini semua sudah takdir, Nak,” ucap Umi dengan suara bergetar. “Kita nggak bisa menghindar dari apa yang Allah atur.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi rasanya begitu berat.

Umi Aisyah sudah terlanjur bercerita ke ibu-ibu pengajian. Orang-orang sudah tahu Hana akan menikah. Doa-doa sudah dipanjatkan.

Sementara itu, Abi Ahmad Fauzan—mantan kapten TNI yang terkenal tegas—berdiri dengan dada naik turun. Meski usianya tak lagi muda, tubuhnya masih tegap. Wibawanya tetap sama. Dan hari ini, ia merasa keluarganya dipermainkan.

“Abi ke rumah Raka,” ucap Ahmad tiba-tiba.

Hana langsung mendongak. “Abi…”

Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Abi!” Umi Aisyah buru-buru berdiri, menahan lengan suaminya. “Dengar Umi. Jangan terpancing emosi. Istighfar, Bi. Istighfar.”

Ahmad memejamkan mata. Dadanya naik turun.

“Astagfirullahaladzim… astagfirullah… astagfirullah,” gumamnya pelan.

Ia kembali duduk, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.

“Terus kita harus bagaimana, Mi?” tanyanya, kini dengan nada panik yang tertahan. “Orang-orang sudah tahu Hana mau menikah.”

“Kita terima saja dulu, Bi,” jawab Aisyah lirih. “Ini bukan salah Hana.”

Ahmad menoleh ke arah Hana. Tatapannya keras, tetapi jelas menyimpan kecewa.

“Hana,” ucapnya tegas. “Dari awal Abi memang nggak suka sama Raka. Tapi kamu yang ngotot mau sama dia.”

Hana menangis lebih keras. Kepalanya tertunduk dalam.

“Maafin Hana, Bi… maafin Hana.”

“Cuma karena kamu dianggap nggak sepadan,” lanjut Ahmad, emosinya kembali naik, “dia langsung memutuskan pernikahan ini begitu saja.”

Rahang Ahmad mengeras.

“Raka,” sebutnya dengan nada tertahan.

Lalu, tanpa aba-aba, ia berkata, “Kamu harus menikah, Hana.”

Hana dan Umi Aisyah sama-sama mendongak.

“Bi?” suara Aisyah terdengar kaget. “Hana mau menikah sama siapa?”

“Abi yang akan carikan jodoh buat Hana,” jawab Ahmad tegas.

Ia berdiri lagi. Kali ini suaranya dingin.

“Abi nggak terima keluarga Raka memperlakukan kita seperti orang rendahan.”

“Abi… Hana—” Hana mencoba bicara, tetapi suaranya tenggelam oleh tangis.

“Turuti Abi, Hana,” potong Ahmad. Nadanya memang turun, tetapi justru terasa lebih berat. “Abi nggak mau lihat kamu diinjak-injak lagi.”

“Hati Hana belum sembuh, Bi,” suara Hana pecah. Isaknya makin keras. “Hana belum siap menerima orang baru dalam hidup Hana.”

Ahmad menoleh cepat. Wajahnya mengeras.

“Cukup, Hana!” suaranya meninggi. “Kamu mau lihat keluarga kita jadi bahan omongan sekampung? Mau Abi malu di depan para kerabat?”

Hana berdiri. Kakinya gemetar, tetapi ia memaksa tubuhnya tetap tegak.

“Tapi, Bi,” suaranya bergetar, kali ini lebih tegas, “Abi nggak lihat Hana sekarang? Abi nggak lihat Hana hancur seperti apa?”

Dadanya naik turun. Tangannya gemetar menunjuk dirinya sendiri.

“Hana bukan barang rusak yang bisa langsung diganti, Bi!”

Umi Aisyah ikut berdiri. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca.

“Hana…” suaranya lirih. “Umi nggak tahu harus berbuat apa. Tapi Umi minta tolong… jangan lawan Abi kamu sekarang.”

Hana menggeleng keras.

“Nggak, Mi!” teriaknya. Air matanya jatuh deras. “Hana belum siap! Hana hancur, Mi! Hana nggak bisa!”

Kalimat itu belum sempat selesai ketika—

Plak!

Suara tamparan itu menggema di ruang tamu.

Tubuh Hana terhuyung ke samping. Kepalanya terasa berputar. Pipinya panas dan perih, seolah terbakar. Ia terpaku. Tangisnya terhenti seketika—bukan karena lega, melainkan karena syok.

“Abi!” teriak Umi Aisyah histeris. Ia langsung memeluk Hana. “Astaghfirullah, Abi! Kenapa Abi sampai begini?!”

Hana hanya diam. Tangannya gemetar menyentuh pipinya sendiri. Matanya kosong—bukan marah, bukan benci, tetapi hancur.

Ahmad berdiri kaku. Tangannya yang tadi terangkat perlahan turun. Napasnya berat. Dadanya terasa sesak.

Ia menatap putrinya. Untuk sesaat, penyesalan melintas di matanya. Namun gengsi dan amarah lebih dulu menutupinya.

“Abi melakukan ini bukan karena Abi benci kamu,” ucapnya dengan suara keras yang bergetar. “Abi nggak mau lihat kamu diinjak-injak lagi!”

“Dengan cara ini?” suara Hana pelan—sangat pelan—tetapi justru terasa menusuk. “Dengan mukul Hana?”

Umi Aisyah menangis. Tangannya mengusap rambut Hana berkali-kali.

“Maafin Abi kamu, Nak… maafin Abi kamu…” ucapnya terisak.

Ahmad memalingkan wajah. Rahangnya kembali mengeras.

“Keputusan Abi sudah bulat,” katanya dingin. “Kamu akan menikah. Entah kamu siap atau tidak.”

Hana tertawa kecil—tawa yang terdengar aneh, pahit, dan kosong.

“Hana sudah kehilangan Raka, Bi,” katanya lirih. “Sekarang Hana juga kehilangan suara Hana sendiri.”

Ia menoleh ke arah Umi Aisyah.

“Hana capek, Mi.”

“Hana harus menikah,” tegas Ahmad tanpa goyah. “Dia harus menikah dengan pilihan Abi.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status