เข้าสู่ระบบMenjelang hari pernikahannya, Hana Safira dicampakkan sepihak oleh Raka Pratama, pria berseragam polisi yang pernah ia perjuangkan dengan sabar. Keputusan itu bukan hanya menghancurkan hati Hana, tapi juga melukai harga diri keluarganya. Saat Hana berusaha bangkit dari luka dan menata hidup lewat usahanya sendiri, takdir justru mempertemukannya dengan Kapten dr. Azzam Wiratama, seorang dokter TNI yang tenang dan penuh empati. Namun, kehadiran Azzam membawa rahasia besar—ia adalah masa lalu terindah kakak Hana, luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Di antara cinta yang datang setelah kehancuran, masa lalu yang kembali mengetuk, dan penyesalan yang terlambat, Hana dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya. Apakah cinta kedua benar-benar ditakdirkan untuknya… atau justru menjadi luka baru yang lebih dalam?
ดูเพิ่มเติม"Galacia, may bisita ka." a warden called me na kakapasok lang dito sa banyo kung saan ako kasalukuyang tumutulong sa paglilinis.
"S-sige po," I said at tumigil muna sa pagmomop ng sahig. Dumiretso ako sa sink at doon naghugas ng kamay. Pawisan pa ako, at mabaho na ngunit hindi ko na iyon ininda. Baka magalit pa ang warden sa tagal kong paghahanda.Pinunasan ko lang ang pawis gamit ang towel na nakakabit sa balikat ko. I tied my hair again just to be well fixed. After preparing, napabuntong-hininga pa ako bago magpasyang humarap na sa bisita ko daw.It might be my attorney. Siya lang naman ang bumibisita sa'kin.Paglabas ko ng selda ay sinalubong ako ng warden na tumawag sa'kin. She guided me to the place and after reaching there, I roam my eyes around only to find my visitor.My eyes stopped roaming as my heart increased its beat upon seeing the man I adore before.Naitutop ko ang aking bibig at halos maluwa ang mga mata habang dali-dali siyang nilapitan."W-why are you here?!" I called his attention with disbelief plastered in my face.His eyes finally landed on mine. I can't figure out what he was thinking. Naroon ang pangungulila, pag-aalala, pagsisisi, galit, at lungkot sa kaniyang mata.Did I see that right? Tama 'yong nabasa ko sa mga mata niya, diba?Kumunot ang noo ko nang binago niya ang kaniyang ekspresyon, ang kaninang mga ekspresyon kong nakita ay tila nawala na parang abo at binago ng malamig niyang aura."I said, why are you here? What the fvck are you doing here?!" gigil kong sabi, I don't want him to see me here. I just don't like the idea of him visiting me here."Don't be too hard, Ms. Galacia. Take a sit first," napamaang ako. "Why? As if naman magtatagal pa ako?" taas kilay kong tanong.Bumuntong-hininga siya, napaatras naman ako nang bigla siyang tumayo at lumipat sa direksiyon ko, para akong nanlambot nang hawakan niya ang balikat ko at pwersang pinaupo.His touch...fvck! Just one touch and my body immediately betrayed me! Ang kapal ng mukha ko para manlambot agad sa simpleng paghawak niya?! Damn it, self! What a traitor!"A-ano bang gusto mo? You know you can't be here, are you insane?" nakasalubong kong kilay habang pinapanood siyang bumalik ulit sa lugar niya kanina."I'm here for a business proposal." aniya na nakatingin ng malalim sa mata ko, agad ko iyong iniwasan dahil para niya akong hinahalukay."H-huh?" I stutter dahil hindi ko makuha ang sinabi niya."I have a proposal for you." nangunot na naman ang aking noo at hindi malaman kung anong isasagot."I can get you out from this freaking hell jail, I can help you fight your case. You know I have a power, and having a powerful attorney is just a piece of cake for me." seryosong saad niya na ikinamaang ko lang, hindi malaman kung papaniwalaan ba siya."I already have an attorney—""Your son is with me," doon na tuluyang tumigil ang mundo ko, I shifted my sight to his and I can see how serious he is."W-what are you saying? Diba ayaw mo sa kaniya—""I didn't say that."I couldn't help but slam the table and throw him my death glares."What the heck, ano bang gusto mo?! Why are you helping me?! And why the hell is my son with you?! Hindi mo ako maloloko, nasa magulang ko ang anak ko—""Anak natin," he cut me. "I'm just bringing back what's mine." simple niyang sabi na ikinahawak ko ng mahigpit sa mesa."He's not yours, so bring it back to my parents!" tumaas ang kilay niya."Naghihirap na ang parents mo, tapos gusto mo pa na pati ang anak natin ay maghihirap?""Kaysa naman sumama siya sa isang mayamang tulad mo pero hindi man lang tinatanggap ang responsibilidad bilang isang ama." I can clearly seen in the back of my head how he rejected my son—our son!"Our son is with me, he can't live without his mother. So, I came here to have a deal," naikuyom ko ang aking kamao. Damn it!"What's the deal?" I can't help it, when it comes to my son, nanlalambot ako kaagad, katulad lang sa ama niyang gago."I'll help you get out of here," I froze when he grab my hand and gently caressing it."If only you'll accept me buying and owning you, Ms. CEO."***DISCLAIMERThis is a work of fiction. Names, characters, business, events, and incidents are the products of the author's imagination. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.This is Binibining_Nene, signing in. Happy reading, hearts♡Raka. Hana hanya menatap pesan itu. Beberapa detik ia tidak berani membukanya. Namun akhirnya jarinya menyentuh layar. Hana, aku benar-benar nggak menyangka kamu dan keluargamu akan sejauh ini. Hana mengerutkan kening. Pesan berikutnya masuk. Aku sudah datang baik-baik. Aku sudah meminta restu. Tapi kalian tetap menolak. Dada Hana mulai terasa sesak. Pesan berikutnya muncul. Kalau sejak awal kamu mau membantuku bicara kepada Abi dan Umi, mungkin semuanya nggak akan seperti ini. Hana membeku. Tangannya mulai gemetar. Jadi sekarang dirinya yang disalahkan? Raka bahkan tidak pernah benar-benar meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya. Tidak pernah bertanya bagaimana perasaannya. Tidak pernah menanyakan apakah Hana sudah bisa menerima semuanya. Justru sekarang laki-laki itu menyalahkannya karena tidak mendapatkan restu. Pesan lain masuk. Aku cuma ingin menikahi Nadya. Aku nggak pernah bermaksud menghancurkan keluarga kita. Hana menatap layar den
Nadya pulang dengan hati yang hancur. Sepanjang perjalanan, air matanya tidak berhenti mengalir. Perkataan Hana terus terngiang-ngiang di kepalanya. Aku sudah kehilangan Kakak sejak Kakak memilih Raka. Nadya mengepalkan tangannya. Bukannya merasa bersalah, justru kebencian perlahan tumbuh di dalam hatinya. Ia mulai membenci Hana. Kenapa adiknya tidak mau mengerti? Kenapa tidak ada satu pun yang mau memahami perasaannya? "Aku cuma minta restu..." Suara Nadya bergetar di dalam tangisnya. "Aku cuma ingin menikah dengan orang yang aku cintai." Ia mengusap air mata dengan kasar. "Kenapa semuanya harus dipersulit?" Dalam pikirannya, Abi dan Umi juga semakin tidak adil. Sejak dulu mereka selalu memikirkan Hana. Sekarang pun begitu. Ketika Hana terluka, semua orang sibuk membelanya. Ketika Hana dikecewakan Raka, seluruh keluarga menyalahkan Raka. Sementara ketika Nadya ingin memperjuangkan kebahagiaannya sendiri, tidak ada yang mau berdiri di sisinya. "Ken
Air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya. "Kakak lebih mementingkan ego dan perasaan Kakak sendiri dibandingkan perasaan Hana." "Hana..." "Dan bukan cuma perasaan Hana." Hana mengusap pipinya. "Kakak juga mementingkan keinginan Kakak dibandingkan perasaan Abi dan Umi." Nadya terdiam. "Abi dan Umi terluka karena melihat anak mereka saling menyakiti." Hana menundukkan wajah. "Mereka kehilangan kepercayaan kepada Raka. Mereka marah karena Raka mempermainkan perasaan Hana." Hana kembali menatap Nadya. "Tapi Kakak malah ingin mereka memberikan restu." Nadya menarik napas dalam-dalam. "Kakak cuma ingin menikah dengan orang yang Kakak cintai." "Dan Hana?" Nadya terdiam. "Perasaan Hana bagaimana?" Hening. Hana tersenyum pahit. "Apakah karena Kakak lebih dulu mencintai Raka, berarti rasa sakit Hana jadi nggak penting?" "Nggak begitu." "Lalu bagaimana?" Nadya tidak mampu menjawab. Hana menggeleng pelan. "Itulah masalahnya, Kak." "Apa?" "Kakak
Namun Nadya sudah terlalu mencintai Raka. Cinta itu membuat pikirannya tidak lagi bekerja dengan jernih. Ia tahu Raka salah. Ia tahu Abi dan Umi punya alasan untuk menolak laki-laki itu. Ia juga tahu Hana adalah orang yang paling terluka dalam semua masalah ini. Namun setiap kali membayangkan kehilangan Raka, semua pertimbangan itu seolah menghilang. Nadya mengambil ponselnya. Tangannya sempat berhenti di atas layar ketika melihat satu nama yang sebenarnya paling ingin ia hindari. Hana. Adiknya sendiri. Nadya menarik napas panjang sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Satu kali. Tidak diangkat. Nadya mencoba lagi. Kali ini panggilan tersambung. "Halo?" Suara Hana terdengar datar. Nadya langsung menggigit bibir. "Hana..." "Ada apa, Kak?" Nadya terdiam beberapa detik. "Kakak mau ketemu kamu." "Untuk apa?" "Kita bicara." "Aku rasa nggak ada yang perlu dibicarakan." "Hana, tolong." "Kalau soal Raka, aku nggak mau." Nadya langsung terdiam
Hana masih berdiri beberapa saat di halaman rumah setelah mobil keluarga Azzam benar-benar hilang dari pandangan. Jalan di depan rumah kembali sepi. Hanya suara angin yang menggerakkan daun pohon mangga di samping pagar. Dadanya terasa aneh. Tidak tenang. Ia tidak tahu kenapa kalimat Azzam tad
“Hana… tidak bisa.”Kalimat itu jatuh pelan, tetapi terasa seperti batu yang dilempar ke dalam ruangan yang tenang.Semua orang terdiam.“Hana!” suara Ahmad rendah namun tegas. Matanya melotot ke arah putrinya.Hana langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdetak semakin keras. Ia tahu kalimatnya
Tak lama setelah pintu kamar Hana tertutup, suasana rumah berubah sunyi. Terlalu sunyi. Seolah seluruh dinding ikut menahan napas setelah pertengkaran yang baru saja pecah.Umi Aisyah masih berdiri di ruang tamu. Dadanya naik turun, tangannya gemetar—entah karena marah, sedih, atau takut. Di sofa,
“Raka sudah keterlaluan.”Suara Abi Ahmad Fauzan terdengar berat—bukan teriak, tetapi jelas penuh amarah yang ditahan. Ia berdiri di tengah ruang tamu, mondar-mandir dengan langkah pendek. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.“Sabar, Abi,” ucap Umi Aisyah Rahman pelan. Ia duduk di samping Hana,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.