ANMELDENMenjelang hari pernikahannya, Hana Safira dicampakkan sepihak oleh Raka Pratama, pria berseragam polisi yang pernah ia perjuangkan dengan sabar. Keputusan itu bukan hanya menghancurkan hati Hana, tapi juga melukai harga diri keluarganya. Saat Hana berusaha bangkit dari luka dan menata hidup lewat usahanya sendiri, takdir justru mempertemukannya dengan Kapten dr. Azzam Wiratama, seorang dokter TNI yang tenang dan penuh empati. Namun, kehadiran Azzam membawa rahasia besar—ia adalah masa lalu terindah kakak Hana, luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Di antara cinta yang datang setelah kehancuran, masa lalu yang kembali mengetuk, dan penyesalan yang terlambat, Hana dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya. Apakah cinta kedua benar-benar ditakdirkan untuknya… atau justru menjadi luka baru yang lebih dalam?
Mehr anzeigenNadya menatap Raka dengan wajah penuh harap. "Kenapa kamu tidak mau berusaha meminta restu Abi dan Umi, Raka?" tanyanya. "Bukankah kamu yang ingin menikah denganku?" Raka langsung mengembuskan napas kasar. "Cukup, Nadya." Nadya terdiam. "Aku sudah berusaha," lanjut Raka dengan nada kesal. "Aku datang ke rumahmu. Aku bicara baik-baik. Aku meminta restu." "Terus?" "Yang aku dapat apa?" Raka tertawa sinis. "Penghinaan." Nadya mengerutkan kening. "Abi tidak menghina kamu." "Benarkah?" Raka menatapnya tajam. "Dia mengusirku dari rumah." "Itu karena—" "Karena Hana!" Raka langsung memotong. "Selalu Hana. Apa pun yang terjadi, selalu Hana." Nadya terdiam. Raka melangkah mendekatinya. "Aku sudah mengakui kesalahanku. Aku sudah mengatakan bahwa aku salah mengambil keputusan dulu. Aku juga sudah membatalkan pernikahanku dengan Hana." "Tapi kamu meninggalkan Hana setelah semuanya dipersiapkan." "Aku tidak mencintainya!" Suara Raka meninggi. Nadya t
Malam itu, Raka tidak langsung beristirahat. Setelah percakapannya dengan Desi dan Zainal berakhir, pikirannya terus tertuju kepada Nadya. Ia mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan.Aku ingin bertemu.Beberapa menit kemudian, balasan dari Nadya masuk.Sekarang?Raka mengetik singkat.Iya. Aku ke kosmu.Nadya tidak langsung membalas. Namun beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk.Baik.Tidak lama kemudian, Raka sudah berada di depan kos Nadya. Nadya keluar setelah mendengar suara mobil berhenti di halaman. Wajahnya terlihat lelah. Sejak meninggalkan rumah, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Begitu melihat Raka, langkahnya terhenti."Kamu datang?"Raka mengangguk. "Aku ingin bicara."Nadya memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya membuka pintu pagar. "Masuk."Raka mengikuti Nadya menuju ruang tamu kecil di lantai bawah. Mereka duduk berhadapan, tetapi beberapa saat tidak ada yang berbicara. Nadya menunduk dengan jemari yang saling menggenggam di atas pangkuannya."Bag
Di sisi lain... Raka baru saja tiba di rumah. Ia melepaskan topinya lalu duduk di ruang tamu dengan wajah masih dipenuhi kekesalan. Desi yang sejak tadi menunggu langsung menghampiri. "Gimana? Orang tua Nadya tetap menolak?" tanyanya. Raka mengembuskan napas kasar. "Iya, Bu. Om Ahmad mengusir Raka." Desi mendecakkan lidah. "Memang keluarga itu keras kepala." Raka mengangguk. "Semuanya jadi begini gara-gara Hana." Desi langsung menatap putranya. "Nah, itu baru benar." "Kalau saja Hana dari awal sadar diri, dia pasti sudah mundur." Raka menghela napas. "Hana terlalu baper. Padahal Raka sudah berusaha jujur sebelum menikah." "Iya lah. Daripada menikah tanpa cinta." Desi menggeleng sambil menyilangkan tangan di dada. "Memang salah kamu juga." Raka menoleh. "Kenapa, Bu?" "Ngapain dulu kamu dekat sama Hana?" Desi mendengus. "Dia cuma penjual baju. Sedangkan Nadya calon dokter." "Jelas kamu lebih cocok sama Nadya." Raka mengangguk pelan. "Dulu
Malam mulai turun. Setelah Azzam pamit untuk pulang, rumah itu kembali sunyi.Ahmad masih duduk di ruang tamu. Pandangannya kosong menatap halaman depan.Aisyah keluar dari dapur membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkan salah satunya di hadapan suaminya."Bi... minum dulu."Ahmad mengangguk pelan, tetapi tangannya tidak juga menyentuh cangkir itu.Beberapa saat mereka hanya diam.Suara jangkrik dari luar rumah terdengar semakin jelas.Aisyah akhirnya duduk di samping Ahmad."Masih memikirkan Nadya?"Ahmad menarik napas panjang."Bagaimana Abi tidak memikirkannya?"Suaranya terdengar lelah."Itu anak yang Abi gendong sejak lahir."Aisyah menundukkan kepala.Air matanya mulai menggenang lagi."Umi juga sama."Ahmad mengusap wajahnya kasar."Yang membuat Abi sakit bukan karena Nadya mencintai Raka."Aisyah menoleh."Tapi karena Nadya memilih membela laki-laki itu daripada mempercayai orang tuanya."Kalimat itu membuat air mata Aisyah jatuh."Selama ini... apa kita salah mendidiknya,
Hana masih berdiri beberapa saat di halaman rumah setelah mobil keluarga Azzam benar-benar hilang dari pandangan. Jalan di depan rumah kembali sepi. Hanya suara angin yang menggerakkan daun pohon mangga di samping pagar. Dadanya terasa aneh. Tidak tenang. Ia tidak tahu kenapa kalimat Azzam tad
“Hana… tidak bisa.”Kalimat itu jatuh pelan, tetapi terasa seperti batu yang dilempar ke dalam ruangan yang tenang.Semua orang terdiam.“Hana!” suara Ahmad rendah namun tegas. Matanya melotot ke arah putrinya.Hana langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdetak semakin keras. Ia tahu kalimatnya
Hana duduk di hadapan ayahnya. Jantungnya berdegup tak nyaman. Ia tahu pembicaraan ini pasti akan datang.“Besok keluarga Azzam akan datang ke rumah,” ucap Ahmad tegas. “Abi sudah bicara dengan mereka.”Nama itu terdengar asing.Azzam.Hana menelan ludah.“Kamu siap, Nak?”Pertanyaan itu sebenarnya
Mesin monitor berbunyi pelan dan teratur. Ruangan ICU terasa dingin dan sunyi. Hanya suara alat-alat medis yang terdengar stabil, seolah menjadi pengingat bahwa hidup seseorang sedang dipertahankan dengan segala daya.Hana masih menggenggam tangan ayahnya. Tangan itu terasa dingin, tetapi kali ini






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rezensionen