Jantungku rasanya mau meledak. Aku ingin mendorongnya, tapi begitu tanganku baru saja menyentuh dadanya, aku tersentak oleh suhu tubuhnya yang begitu panas.“Kamu tahu nggak? Dari tadi aku terus terbayang kejadian di tangga itu.” Bibirnya kini sudah menempel di cuping telingaku, “Terbayang aromamu, suaramu dan… tubuhmu yang sensitif.”“Jangan bicara lagi….”“Kamu juga merasakannya, ‘kan?” Tangannya menangkup tanganku, menuntunnya untuk meluncur ke bawah, “Lihat, ini semua gara-gara kamu.”Melalui celananya, aku merasakan kekerasan yang luar biasa. Meski terhalang kain, aku bisa merasakan ukuran dan suhunya. Secara reflek, aku ingin menarik tanganku, tapi dia menahannya dengan sangat kuat.“Bu Vina, bukannya tadi kamu bilang kalau ini harus dibantu?” Napasnya semakin memburu.“Mahasiswanya sedang tersiksa, bukankah seharusnya kamu sebagai dosen harus membantu melepaskannya?”Seharusnya aku menolak, seharusnya aku mendorongnya, seharusnya aku berteriak memanggil orang.Namun, tubuhku se
Read more