Share

Hubungan Terlarang Di Kampus
Hubungan Terlarang Di Kampus
Author: Sera

Bab 1

Author: Sera
Namaku Vina, usiaku dua puluh enam tahun dan aku adalah seorang dosen mata kuliah fisiologi di salah satu universitas di kota ini.

Sebenarnya, saat memilih jurusan ini dulu, aku sudah membayangkan akan ada saat-saat yang canggung.

Namun, setelah perkuliahan dimulai, yang membuatku merasa malu bukanlah istilah-istilah medis yang teknis, melainkan para mahasiswa laki-laki yang sedang meledak hormon masa pubertasnya.

Aku memiliki bentuk tubuh yang membuat sesama wanita iri dan didambakan pria. Tinggi badanku 170 cm dengan berat 60 kg, tapi kaki dan pinggangku tergolong ramping, sementara volume tubuhku seolah terpusat pada bagian dada yang menonjol.

Setiap kali mengajar, aku selalu menarik banyak perhatian. Meski pihak kampus mewajibkan penggunaan jas lab putih, jas itu tetap tak bisa menyembunyikan lekuk tubuhku.

Sore itu, seluruh kampus sedang padat jadwal kuliah dan kelas pun penuh sesak oleh mahasiswa. Begitu bel pulang berbunyi, kerumunan orang mulai membanjiri pintu keluar dan aku pun ikut terdorong di antara mahasiswa.

Kondisi lorong bahkan lebih padat lagi. Kebetulan di lantai ini banyak ruang kelas sementara lorongnya sempit, sehingga aku terjebak di tengah kerumunan dan hampir tak bisa bergerak, hanya bisa pasrah mengikuti arus orang dari belakang. Tepat saat sampai di sudut tangga, tiba-tiba ada dorongan kuat dari belakang. Aku tersentak dan tubuhku terhimpit ke arah dinding.

Baru saja ingin menoleh untuk melihat apa yang terjadi, tiba-tiba aku merasakan sebuah tubuh yang kekar menempel erat di punggungku.

Karena arus orang di tangga terlalu padat, aku tertahan kuat di tembok. Sementara mahasiswa di belakangku, karena terdorong, dia menindihkan seluruh tubuhnya padaku. Melalui kemeja tipis yang kukenakan, aku bisa merasakan dengan jelas garis otot dadanya, tapi yang lebih jelas lagi adalah bagian bawahnya yang menegang. Orang-orang dari lantai atas terus turun, membuat desakan itu semakin menekan tubuhnya menempel padaku dan bagian itu tepat mengenai pantatku yang montok.

Dia sepertinya menundukkan kepala, hembusan napas hangatnya menerpa tengkukku. Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma lembut deterjen dan aroma hormon khas pria muda dari tubuhnya.

Aku dan kekasihku sudah menjalin hubungan bertahun-tahun. Dia empat tahun lebih tua dariku. Jika dibandingkan dengan masa awal kami tinggal bersama yang begitu menggebu, sekarang karena kesibukan kerja, dia seolah semakin kehilangan staminanya.

Bahkan saat dia kelelahan bekerja, dia sering tidak menyentuhku dalam waktu yang lama. Sementara itu, tubuhku yang masih muda sedang berada dalam masa-masa penuh gairah. Kurangnya kepuasan dari kekasihku, ditambah dengan sentuhan fisik dan napas hangat hari ini, membuat tubuhku terasa semakin sensitif.

Kerumunan terus bergerak dan dia agak menyesuaikan posisinya di belakangku, bergeser dari area pantat ke tengah.

Setiap gerakan menimbulkan gesekan pada tubuh kami. Arus orang membuat dia berulang kali menabrak bagian belakangku dan bagian bawahnya pun perlahan berubah, menjadi semakin besar dan keras, menekan kuat di balik lapisan kain yang tipis.

Aku bisa merasakan wajahku mulai memanas. Seiring dengan pergerakan kerumunan yang semakin intens, sensasi ini terasa semakin merangsang. Aku merasa seperti gunung berapi yang akan meletus, tapi hujan yang kutunggu tak kunjung tiba. Dan sekarang, di lorong tangga yang sesak ini, seorang mahasiswa asing dengan mudahnya menyulut api di dalam diriku.

Karena tiba-tiba salah langkah, aku terhuyung ke belakang dan bersandar tepat di tubuhnya. Satu tangannya menahan pinggangku, sementara tangan lainnya malah menyentuh celana dalamku.

Dia menggerakkan tangannya sedikit, lalu segera menariknya kembali. Tapi, aku bisa merasakan dengan jelas cairan lengket yang keluar dari tubuhku menempel di jarinya.

Dia mengusap jari itu ke pahaku, mengoleskan carian itu ke kulitku, sementara tangannya yang lain yang memegang pinggangku mencengkeram dengan lebih erat.

Dia mendekatkan pipinya ke telingaku, hembusan napasnya meniup cuping telingaku.

“Kamu sudah basah… butuh bantuan?”

Suaranya terdengar di telingaku, mengandung nada yang agak menguji.

Aku menggigit bibir dan tak menjawab, tapi tubuhku jauh lebih jujur dari yang kubayangkan. Aku merasa punggungku agak melengkung ke belakang dan pantatku secara tak sabar merapat ke belakang, menyambut gerakannya.

Lampu di tangga agak temaram, suasana sangat bising, tak ada yang menyadari kejadian di sudut ini.

Jarinya berpindah posisi, menyelinap masuk dari samping pinggang. Ujung kemejaku tersingkap sedikit dan ujung jarinya menyentuh kulit pinggangku. Suhu panas dari jarinya membuatku hampir saja berteriak.

“Jangan….”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hubungan Terlarang Di Kampus   Bab 7

    “Waktu itu… kamu….”“Ya, memang hanya buat main-main, kok. Pacarmu nggak bisa memuaskanmu, jadi aku datang untuk memuaskanmu.”“Tapi waktu itu….”Ekspresi kesal di wajah Nathan tampak semakin menjadi, “Emangnya kenapa waktu itu? Awalnya hanya mau sekali, siapa sangka ternyata kamu seliar itu. Jadi, aku hanya bisa temani kamu main selama beberapa bulan ini.”“Jadi, tiga bulan ini bagi kamu hanya main-main?”“Lalu menurutmu?” Dia berjalan ke hadapanku tanpa busana, menatapku dengan angkuh dari atas, “Jangan-jangan kamu kira aku mencintaimu mati-matian? Kalau sudah bosan, ya tinggal ganti saja.”Akhirnya, air mataku menetes.“Aku hanya… mainan untuk mengisi kekosonganmu?” Aku tersenyum pahit.“Karena energimu yang meluap-luap, kamu butuh tempat yang praktis untuk melampiaskannya, begitu?”“Pintar juga,” jawabnya sambil berbalik menuju kamar mandi.“Sudahlah, ada Luna di sini hari ini. Tunggu dia pergi, baru kamu datang lagi.”“Nathan!” Aku menarik lengannya, “Tega sekali kamu memperlakuka

  • Hubungan Terlarang Di Kampus   Bab 6

    Dia masih muda, tenaganya sangat kuat dan setiap kali dia selalu menyiksaku sampai aku memohon ampun, barulah dia mau berhenti. Sementara diriku, di dalam kenikmatan yang terlarang ini, akhirnya menemukan kepuasan yang sudah lama hilang.Namun di dalam hati, aku sadar betul bahwa hubungan ini tak bisa bertahan lama. Aku adalah dosennya dan diriku punya kekasih. Begitu orang luar, terutama pacarku mengetahui hubungan ini, aku akan kehilangan segalanya.Namun setiap kali melihatnya, semua akal sehatku seolah sirna. Kemampuannya telah menaklukkanku sampai ke lubuk hati, bahkan pacarku pun menyadari kalau rona wajahku kini telah berubah.Sore ini, Nathan mengajakku bertemu seperti biasanya, tapi kali ini dia bilang tempatnya sangat spesial.Aku berjalan menuju alamat yang diberikan dan ternyata itu adalah sebuah hotel bertema khusus. Begitu membuka kamar, ternyata di dalamnya terdapat dekorasi ruang kelas, lengkap dengan papan tulis hitam dan layar proyektor raksasa di sampingnya.“Kok… ko

  • Hubungan Terlarang Di Kampus   Bab 5

    “Ah….”Aku tak sanggup menahan desahanku dan segera membekap mulutku sendiri. Peredam suara di kantor itu tak begitu bagus, suara-suara dari luar pun masih bisa terdengar dengan jelas.Dia mendongak, matanya berkilat penuh candaan, “Jangan ditahan, keluarkan saja suaranya.”Usai bicara, dia kembali membenamkan kepalanya, lidahnya menjelajah di tubuhku, sementara tangannya yang lain perlahan menangkup buah dadaku yang satu lagi dan meremasnya dengan lembut.Tubuhku terasa seperti tersengat aliran listrik. Gelombang kenikmatan merambat dari dada ke seluruh tubuh. Tanpa sadar kedua kakiku menjepit rapat, tapi malah berakhir menjepit pinggangnya.“Bu Vina, sudah lama nggak merasa senikmat ini, ‘kan?”Tangannya mulai menjelajah ke bawah, menyingkap rokku dalam satu gerakan, lalu menyusup ke dalam daerah rawa yang sudah basah itu.Aku terlalu malu untuk bicara, hanya bisa menggigit bibir sekuat tenaga agar tak bersuara.“Bu Vina, Kak Calvin sudah lama nggak menyentuhmu, ya?”Jarinya mulai be

  • Hubungan Terlarang Di Kampus   Bab 4

    Jantungku rasanya mau meledak. Aku ingin mendorongnya, tapi begitu tanganku baru saja menyentuh dadanya, aku tersentak oleh suhu tubuhnya yang begitu panas.“Kamu tahu nggak? Dari tadi aku terus terbayang kejadian di tangga itu.” Bibirnya kini sudah menempel di cuping telingaku, “Terbayang aromamu, suaramu dan… tubuhmu yang sensitif.”“Jangan bicara lagi….”“Kamu juga merasakannya, ‘kan?” Tangannya menangkup tanganku, menuntunnya untuk meluncur ke bawah, “Lihat, ini semua gara-gara kamu.”Melalui celananya, aku merasakan kekerasan yang luar biasa. Meski terhalang kain, aku bisa merasakan ukuran dan suhunya. Secara reflek, aku ingin menarik tanganku, tapi dia menahannya dengan sangat kuat.“Bu Vina, bukannya tadi kamu bilang kalau ini harus dibantu?” Napasnya semakin memburu.“Mahasiswanya sedang tersiksa, bukankah seharusnya kamu sebagai dosen harus membantu melepaskannya?”Seharusnya aku menolak, seharusnya aku mendorongnya, seharusnya aku berteriak memanggil orang.Namun, tubuhku se

  • Hubungan Terlarang Di Kampus   Bab 3

    Saat mengucapkan beberapa kata terakhir itu, tatapannya tertuju lurus ke wajahku.Aku pura-pura tak menyadarinya, “Lalu apa jurusanmu saat S1?”“Sama-sama fisiologi, sekarang semester enam.”“Baru semester enam sudah mulai bersiap untuk masuk S2? Cepat sekali.”“Ingin persiapan lebih awal agar lebih aman,” jawabnya sambil tersenyum ke arahku.“Apalagi aku juga pernah ikut kelas Bu Vina, penyampaiannya sangat bagus.”Aku terkejut, “Kamu pernah ikut kelasku?”“Mata kuliah dasar fisiologi manusia yang kamu ajarkan semester ini, aku datang di setiap pertemuan.”Matanya menatapku lekat-lekat, “Penjelasan Bu Vina sangat hidup, terutama bagian tentang siklus respon seksual tadi, banyak detail yang dijelaskan dengan sangat jelas.”Aku bisa menangkap makna tersirat di balik kata-katanya.“Lalu… apa ada pertanyaan spesifik yang mau kamu tanyakan?”Dia mengeluarkan sebuah buku catatan dari tasnya, membukanya, lalu menyodorkannya ke hadapanku.“Bagian mengenai mekanisme respon seksual pria ini, ad

  • Hubungan Terlarang Di Kampus   Bab 2

    Suaraku sangat pelan, nyaris seperti bisikan nyamuk.Bukannya berhenti, dia malah semakin menjadi-jadi dengan menyusupkan tangannya lebih dalam. Telapak tangannya yang kasar menempel di kulitku, menjelajah ke atas, bagian demi bagian. Tangannya yang lain memeluk perut bawahku, membuatku menempel erat pada tubuhnya.Aku memejamkan mata, akal sehat menyuruhku untuk mendorongnya menjauh, tapi tubuhku malah terasa lemas. Kakiku tak bertenaga, jika tidak ditopang oleh pelukannya, mungkin aku sudah terkulai lemas di lantai.Akhirnya, jarinya menyentuh pinggiran renda yang tipis itu. Saat dia merasuk lebih dalam, aku mengeluarkan desahan pelan.“Hm….”Aku segera menggigit bibir, tapi suara halus itu tetap tertangkap oleh pendengarannya. Gerakannya mulai lebih berani, meremas dengan tenaga yang lebih besar, sesekali mencengkeram dan memijatnya.Setelah puas meraba bagian atas, dia seolah belum merasa cukup. Tangannya yang memeluk perutku mulai menjelajah ke arah bawah.Tangan besarnya menyelin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status