登入“Waktu itu… kamu….”“Ya, memang hanya buat main-main, kok. Pacarmu nggak bisa memuaskanmu, jadi aku datang untuk memuaskanmu.”“Tapi waktu itu….”Ekspresi kesal di wajah Nathan tampak semakin menjadi, “Emangnya kenapa waktu itu? Awalnya hanya mau sekali, siapa sangka ternyata kamu seliar itu. Jadi, aku hanya bisa temani kamu main selama beberapa bulan ini.”“Jadi, tiga bulan ini bagi kamu hanya main-main?”“Lalu menurutmu?” Dia berjalan ke hadapanku tanpa busana, menatapku dengan angkuh dari atas, “Jangan-jangan kamu kira aku mencintaimu mati-matian? Kalau sudah bosan, ya tinggal ganti saja.”Akhirnya, air mataku menetes.“Aku hanya… mainan untuk mengisi kekosonganmu?” Aku tersenyum pahit.“Karena energimu yang meluap-luap, kamu butuh tempat yang praktis untuk melampiaskannya, begitu?”“Pintar juga,” jawabnya sambil berbalik menuju kamar mandi.“Sudahlah, ada Luna di sini hari ini. Tunggu dia pergi, baru kamu datang lagi.”“Nathan!” Aku menarik lengannya, “Tega sekali kamu memperlakuka
Dia masih muda, tenaganya sangat kuat dan setiap kali dia selalu menyiksaku sampai aku memohon ampun, barulah dia mau berhenti. Sementara diriku, di dalam kenikmatan yang terlarang ini, akhirnya menemukan kepuasan yang sudah lama hilang.Namun di dalam hati, aku sadar betul bahwa hubungan ini tak bisa bertahan lama. Aku adalah dosennya dan diriku punya kekasih. Begitu orang luar, terutama pacarku mengetahui hubungan ini, aku akan kehilangan segalanya.Namun setiap kali melihatnya, semua akal sehatku seolah sirna. Kemampuannya telah menaklukkanku sampai ke lubuk hati, bahkan pacarku pun menyadari kalau rona wajahku kini telah berubah.Sore ini, Nathan mengajakku bertemu seperti biasanya, tapi kali ini dia bilang tempatnya sangat spesial.Aku berjalan menuju alamat yang diberikan dan ternyata itu adalah sebuah hotel bertema khusus. Begitu membuka kamar, ternyata di dalamnya terdapat dekorasi ruang kelas, lengkap dengan papan tulis hitam dan layar proyektor raksasa di sampingnya.“Kok… ko
“Ah….”Aku tak sanggup menahan desahanku dan segera membekap mulutku sendiri. Peredam suara di kantor itu tak begitu bagus, suara-suara dari luar pun masih bisa terdengar dengan jelas.Dia mendongak, matanya berkilat penuh candaan, “Jangan ditahan, keluarkan saja suaranya.”Usai bicara, dia kembali membenamkan kepalanya, lidahnya menjelajah di tubuhku, sementara tangannya yang lain perlahan menangkup buah dadaku yang satu lagi dan meremasnya dengan lembut.Tubuhku terasa seperti tersengat aliran listrik. Gelombang kenikmatan merambat dari dada ke seluruh tubuh. Tanpa sadar kedua kakiku menjepit rapat, tapi malah berakhir menjepit pinggangnya.“Bu Vina, sudah lama nggak merasa senikmat ini, ‘kan?”Tangannya mulai menjelajah ke bawah, menyingkap rokku dalam satu gerakan, lalu menyusup ke dalam daerah rawa yang sudah basah itu.Aku terlalu malu untuk bicara, hanya bisa menggigit bibir sekuat tenaga agar tak bersuara.“Bu Vina, Kak Calvin sudah lama nggak menyentuhmu, ya?”Jarinya mulai be
Jantungku rasanya mau meledak. Aku ingin mendorongnya, tapi begitu tanganku baru saja menyentuh dadanya, aku tersentak oleh suhu tubuhnya yang begitu panas.“Kamu tahu nggak? Dari tadi aku terus terbayang kejadian di tangga itu.” Bibirnya kini sudah menempel di cuping telingaku, “Terbayang aromamu, suaramu dan… tubuhmu yang sensitif.”“Jangan bicara lagi….”“Kamu juga merasakannya, ‘kan?” Tangannya menangkup tanganku, menuntunnya untuk meluncur ke bawah, “Lihat, ini semua gara-gara kamu.”Melalui celananya, aku merasakan kekerasan yang luar biasa. Meski terhalang kain, aku bisa merasakan ukuran dan suhunya. Secara reflek, aku ingin menarik tanganku, tapi dia menahannya dengan sangat kuat.“Bu Vina, bukannya tadi kamu bilang kalau ini harus dibantu?” Napasnya semakin memburu.“Mahasiswanya sedang tersiksa, bukankah seharusnya kamu sebagai dosen harus membantu melepaskannya?”Seharusnya aku menolak, seharusnya aku mendorongnya, seharusnya aku berteriak memanggil orang.Namun, tubuhku se
Saat mengucapkan beberapa kata terakhir itu, tatapannya tertuju lurus ke wajahku.Aku pura-pura tak menyadarinya, “Lalu apa jurusanmu saat S1?”“Sama-sama fisiologi, sekarang semester enam.”“Baru semester enam sudah mulai bersiap untuk masuk S2? Cepat sekali.”“Ingin persiapan lebih awal agar lebih aman,” jawabnya sambil tersenyum ke arahku.“Apalagi aku juga pernah ikut kelas Bu Vina, penyampaiannya sangat bagus.”Aku terkejut, “Kamu pernah ikut kelasku?”“Mata kuliah dasar fisiologi manusia yang kamu ajarkan semester ini, aku datang di setiap pertemuan.”Matanya menatapku lekat-lekat, “Penjelasan Bu Vina sangat hidup, terutama bagian tentang siklus respon seksual tadi, banyak detail yang dijelaskan dengan sangat jelas.”Aku bisa menangkap makna tersirat di balik kata-katanya.“Lalu… apa ada pertanyaan spesifik yang mau kamu tanyakan?”Dia mengeluarkan sebuah buku catatan dari tasnya, membukanya, lalu menyodorkannya ke hadapanku.“Bagian mengenai mekanisme respon seksual pria ini, ad
Suaraku sangat pelan, nyaris seperti bisikan nyamuk.Bukannya berhenti, dia malah semakin menjadi-jadi dengan menyusupkan tangannya lebih dalam. Telapak tangannya yang kasar menempel di kulitku, menjelajah ke atas, bagian demi bagian. Tangannya yang lain memeluk perut bawahku, membuatku menempel erat pada tubuhnya.Aku memejamkan mata, akal sehat menyuruhku untuk mendorongnya menjauh, tapi tubuhku malah terasa lemas. Kakiku tak bertenaga, jika tidak ditopang oleh pelukannya, mungkin aku sudah terkulai lemas di lantai.Akhirnya, jarinya menyentuh pinggiran renda yang tipis itu. Saat dia merasuk lebih dalam, aku mengeluarkan desahan pelan.“Hm….”Aku segera menggigit bibir, tapi suara halus itu tetap tertangkap oleh pendengarannya. Gerakannya mulai lebih berani, meremas dengan tenaga yang lebih besar, sesekali mencengkeram dan memijatnya.Setelah puas meraba bagian atas, dia seolah belum merasa cukup. Tangannya yang memeluk perutku mulai menjelajah ke arah bawah.Tangan besarnya menyelin







