Gilbert menatapku dengan wajah penuh amarah. Di dekat kakinya ada sebuah belati berkilau di bawah cahaya bulan.Sesaat, dorongan kuat muncul dalam diriku, keinginan untuk lari ke arahnya dan akhiri semua ini.Namun akal sehatku masih menahan.Diam-diam, tanganku bergerak di belakang punggung, tekan nomor polisi.Gilbert kembali bicara, suaranya penuh ejekan, “Kalian ibu dan anak, dari dulu memang ditakdirkan untukku. Aku sudah bosan dengan yang tua, sekarang aku mau yang muda. Kalau kalian mau dengerin aku, aku bisa saja maafkan dan bawa kalian pulang.”Ibuku yang terbaring di tanah berusaha bersuara, suaranya serak.“Nggak! Lusi, lari! Nggak usah pedulikan ibu! Gilbert itu monster, ini semua salah ibu.”Belum sempat Ibuku selesaikan kalimatnya, Gilbert tendang dia tanpa ampun.“Diam! Dasar wanita busuk, jangan ganggu aku!”Lihat itu, dadaku terasa seperti diremas.“Jangan sakiti ibu! Aku akan hapus semua bukti, aku nggak akan laporkan kamu lagi. Tolong, lepaskan kami.”Suaraku bergeta
Mehr lesen