LOGINDi dalam ruang bioskop pribadi yang remang-remang, ayah tiriku ajak aku nonton film dewasa, katanya ini adalah hadiah untuk tandai kedewasaanku. Lihat adegan di layar, ada seorang pria dan wanita larut dalam kenikmatan, tubuhku mulai terasa gatal dan gelisah. Nggak sadar, aku rapatkan kedua paha yang telah basah, berusaha tahan sensasi seperti aliran listrik yang menggetarkan. Lihat wajahku yang memerah, ayah tiriku mendekat di antara kedua kakiku, lalu tanpa ragu tarik celana dalamku. “Sayang, biar ayah tirimu ini ajarkan kamu gimana jadi wanita seutuhnya. Kamu akan nurut, kan?” katanya pelan. ……
View MoreGilbert menatapku dengan wajah penuh amarah. Di dekat kakinya ada sebuah belati berkilau di bawah cahaya bulan.Sesaat, dorongan kuat muncul dalam diriku, keinginan untuk lari ke arahnya dan akhiri semua ini.Namun akal sehatku masih menahan.Diam-diam, tanganku bergerak di belakang punggung, tekan nomor polisi.Gilbert kembali bicara, suaranya penuh ejekan, “Kalian ibu dan anak, dari dulu memang ditakdirkan untukku. Aku sudah bosan dengan yang tua, sekarang aku mau yang muda. Kalau kalian mau dengerin aku, aku bisa saja maafkan dan bawa kalian pulang.”Ibuku yang terbaring di tanah berusaha bersuara, suaranya serak.“Nggak! Lusi, lari! Nggak usah pedulikan ibu! Gilbert itu monster, ini semua salah ibu.”Belum sempat Ibuku selesaikan kalimatnya, Gilbert tendang dia tanpa ampun.“Diam! Dasar wanita busuk, jangan ganggu aku!”Lihat itu, dadaku terasa seperti diremas.“Jangan sakiti ibu! Aku akan hapus semua bukti, aku nggak akan laporkan kamu lagi. Tolong, lepaskan kami.”Suaraku bergeta
Ibu tampak masih ragu, namun sejak saat itu, dia mulai perhatikan setiap gerak-gerik ayah tiriku.Tatapannya berubah. Dia mulai peka terhadap setiap suara kecil di rumah.Aku pernah lihat ibuku malam-malam, pastikan pintu kamar mandi terkunci rapat. Bahkan suatu kali, dia diam-diam buka buku harianku.Sore itu, tiba-tiba ibuku tanya, “Belakangan ini, apa Gilbert bersikap aneh?”Aku menggeleng, tetapi bibirku gemetar.Ibuku terdiam cukup lama, lalu berkata dengan suara yang tegas namun lembut, “Kalau dia lakukan sesuatu ke kamu, kasih tahu ibu. Kita akan pergi dari sini!”Kata "pergi" itu buat aku seperti dapatkan kembali kekuatan yang selama ini hilang.Seolah akhirnya ada jalan keluar dari semua ini.Dengan keberanian yang tersisa, aku ceritakan semuanya.Semua yang selama ini aku pendam akhirnya keluar.Wajah ibu langsung berubah pucat, dipenuhi kemarahan dan rasa terkejut.Tanpa ragu, dia ambil HP-nya dan pesan tiket.“Kita pergi sekarang juga. Gilbert itu bukan manusia, dia monster
Setiap kali terbangun dari mimpi buruk, bantal di bawah kepalaku selalu basah oleh keringat dingin.Aku nggak berani nyalakan lampu. Hanya bisa meringkuk di sudut tempat tidur, menutup telinga dengan selimut, seolah dengan begitu aku bisa halangi suara langkah kaki yang mungkin datang dari luar.Sejak saat itu, ayah tiriku jadi semakin berani.Suatu malam, saat aku terbangun dan lewati ruang tamu, aku lihat dia sedang duduk di sofa menatap TV. Namun layar itu gelap, nggak ada tampilan apa pun.Suasana itu buat bulu kudukku meremang.Pernah suatu kali, tali baju tidurku agak longgar. Saat aku membungkuk untuk ambil sesuatu, tiba-tiba dia muncul di belakangku dan pegang pinggangku.“Hati-hati, nanti jatuh,” katanya pelan.Telapak tangannya terasa panas nempel di kulitku.Aku membeku di tempat, nggak mampu gerak, hingga akhirnya dia lepaskan tangannya.“Sekarang kamu sudah dewasa. Harus belajar jaga diri,” tambahnya santai.Kamar mandi berubah jadi tempat yang menakutkan bagiku.Dia serin
Saat aku masih terpaku dalam lamunan, tiba-tiba dia kembali mendekat. Tangannya menyelinap ke dalam kerah bajuku dan cubit itu dengan keras.Aku tersentak kaget, segera tepis tangannya.Dia hanya tersenyum miring, lalu pergi seolah nggak terjadi apa-apa.Aku terdiam. Bingung apa aku harus cerita semua ini ke ibu?Tapi, kalau aku jujur, ibuku pasti akan sangat terluka, bahkan mungkin hubungan mereka akan hancur.Namun jika aku diam, aku tahu ayah tiriku akan jadi tambah agresif.Aku terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.Nggak lama, ibu selesai cuci piring.Aku masuk ke kamar mandi, berniat bersihkan diri.Tubuhku rasanya lengket dan nggak nyaman. Aku ingin rasakan air hangat basuh semua kegelisahan ini. Air mengalir perlahan di tubuhku, sedikit demi sedikit tenangkan pikiranku.Namun tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Karena toiletnya ada di dalam kamar mandi, ayah tiriku masuk begitu saja tanpa rasa canggung. Di hadapanku dia langsung keluarkan alat kelaminnya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.