Share

Bab 2

Penulis: Richy
Diam-diam aku melirik ke arah ayah tiriku. Dari balik celananya, terlihat jelas ada sesuatu yang berubah jadi tegang dan menonjol, terlihat sangat kuat dan ganas.

Tatapanku rupanya nggak luput darinya. Sekilas saja, dia seakan sudah paham apa yang sedang aku rasakan.

Dia duduk di sampingku, posisinya menyerupai pria dalam film yang sedang kami tonton.

“Lusi, kamu kelihatan sangat kacau sekarang. Sudah mulai kerasa, yah?”

Baru saat itu aku tersadar, tubuhku gemetar, wajahku memerah, dan tanpa aku sadari bajuku juga terangkat sedikit. Aku tampak sama kacaunya seperti tokoh wanita di layar TV.

Aku gigit bibirku, nggak mampu berkata apa-apa.

Suara Gilbert, ayah tiriku kemudian melembut.

“Nggak apa-apa, di sini cuma ada kita berdua. Kamu mau apa, aku akan turuti kamu … ini rahasia kita. Sekarang, gimana perasaanmu? Kamu … mau apa?”

Wajahku semakin panas, suaraku bergetar pelan.

“Aku … rasanya aneh … kayak mau .…”

“Mau apa?”

“Kayak mau … digitukan .…”

Dia tersenyum tipis.

“Anak baik .…”

Dengan perlahan, dia buka dua kancing bajuku yang terasa sesak. Saat itu juga dada putih seperti salju langsung menyembul keluar. Terlihat begitu saja di depan ayah tiriku, aku menunduk, nggak berani menatapnya. Rasa malu dan gugup campur jadi satu.

Aroma pria dewasa seketika selimuti napasku. Aku perhatikan tangannya perlahan sentuh aku, merasa gugup sekaligus bersemangat.

Hasrat tubuhku nggak kasih aku ruang untuk berpikir lagi, tubuhku terasa lemah, seolah kehilangan tenaga untuk menolak.

Aku biarkan ayah tiriku buka bra-ku, lidahnya telusuri pola di pusat dadaku yang lembut dan merah muda.

‘Oh, gatal banget.’

“Ah, ini… aneh sekali … ini perasaan apa .…”

“Tenang, aku ajarin kamu. Ini namanya “enak”, dan nanti, kamu akan merasa lebih “enak” lagi.”

Tapi nggak cuma itu saja. Dia ulurkan tangannya yang besar dan kuat, taruh itu di bawah rokku.

Dengan lembut dia gosok bolak-balik di sepanjang celah tubuhku yang dalam.

Dalam sekejap, sensasi asing itu penuhi seluruh tubuhku, rasanya aku hampir meledak.

Gimana bisa rasanya begitu nikmat! Aku belum pernah rasakan hal seperti ini sebelumnya, ringan, melayang, seolah ada di tempat yang jauh dari kenyataan.

Sekarang aku mulai ngerti, kenapa ibu sering keluarkan suara seperti itu di malam hari.

Napas panjang hampir lolos dari bibirku, tetapi aku tahan itu. Di hadapannya, aku merasa terlalu malu.

Aku tahan sensasi itu, berusaha tetap diam. Namun semakin aku tahan, sensasi itu justru semakin kuat.

Kedua kakiku bergerak tanpa sadar, coba rapatkan diri, tetapi malah cengkeram lengan ayah tiriku.

Semakin erat aku remas, semakin keras gerakannya.

“Ah … pelan … aku … nggak kuat .…”

Akhirnya, suaraku tetap lolos, lirih dan gemetar, buat aku sendiri terkejut.

Dengar itu, ekspresi ayah tiriku berubah, lebih bersemangat, dia gigit ujung dadaku.

Suara dari film di layar TV terus mengalun, berpadu dengan napasku yang semakin nggak teratur.

Aku rasa seluruh tubuhku terbuka, seolah nikmati setiap sentuhan yang datang.

Lidahnya lembut dan lembap, seperti suhu 37 derajat di mulutku.

Seluruh tubuhku terasa diselimuti kehangatan ini.

Apa seperti inilah rasanya jadi dewasa? Rasanya seperti berdiri di tepi jurang, goyah, berbahaya, namun juga memikat.

Aku mendekat, berbisik pelan di dekat telinganya, “Ayah … ini … apa ini artinya aku sudah dewasa?”

Gilbert tersenyum.

“Yah, kamu belajar dengan cepat. Kamu akan jadi wanita yang menarik … tapi ini saja nggak cukup.”

Sentuhannya kembali berlanjut, ke bagian yang belum pernah disentuh siapa pun, buat tubuhku bereaksi tanpa bisa aku kendalikan.

Tubuhku gemetar dan napasku kacau, hingga akhirnya hanya bisa terdiam, bagian pribadiku basah dan lengket, basahi tangannya.

"Sensitif sekali, ke depannya pasti banyak pria yang suka dengan kamu. Aku sangat khawatir."

Dia ciumi tubuhku, suaranya jadi serak.

"Jadi sekarang, aku sendiri yang akan ajarin kamu, gimana rasanya benar-benar jadi seorang wanita. Lusi, apa kamu sudah siap?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia di Balik Ruang Gelap   Bab 7

    Gilbert menatapku dengan wajah penuh amarah. Di dekat kakinya ada sebuah belati berkilau di bawah cahaya bulan.Sesaat, dorongan kuat muncul dalam diriku, keinginan untuk lari ke arahnya dan akhiri semua ini.Namun akal sehatku masih menahan.Diam-diam, tanganku bergerak di belakang punggung, tekan nomor polisi.Gilbert kembali bicara, suaranya penuh ejekan, “Kalian ibu dan anak, dari dulu memang ditakdirkan untukku. Aku sudah bosan dengan yang tua, sekarang aku mau yang muda. Kalau kalian mau dengerin aku, aku bisa saja maafkan dan bawa kalian pulang.”Ibuku yang terbaring di tanah berusaha bersuara, suaranya serak.“Nggak! Lusi, lari! Nggak usah pedulikan ibu! Gilbert itu monster, ini semua salah ibu.”Belum sempat Ibuku selesaikan kalimatnya, Gilbert tendang dia tanpa ampun.“Diam! Dasar wanita busuk, jangan ganggu aku!”Lihat itu, dadaku terasa seperti diremas.“Jangan sakiti ibu! Aku akan hapus semua bukti, aku nggak akan laporkan kamu lagi. Tolong, lepaskan kami.”Suaraku bergeta

  • Rahasia di Balik Ruang Gelap   Bab 6

    Ibu tampak masih ragu, namun sejak saat itu, dia mulai perhatikan setiap gerak-gerik ayah tiriku.Tatapannya berubah. Dia mulai peka terhadap setiap suara kecil di rumah.Aku pernah lihat ibuku malam-malam, pastikan pintu kamar mandi terkunci rapat. Bahkan suatu kali, dia diam-diam buka buku harianku.Sore itu, tiba-tiba ibuku tanya, “Belakangan ini, apa Gilbert bersikap aneh?”Aku menggeleng, tetapi bibirku gemetar.Ibuku terdiam cukup lama, lalu berkata dengan suara yang tegas namun lembut, “Kalau dia lakukan sesuatu ke kamu, kasih tahu ibu. Kita akan pergi dari sini!”Kata "pergi" itu buat aku seperti dapatkan kembali kekuatan yang selama ini hilang.Seolah akhirnya ada jalan keluar dari semua ini.Dengan keberanian yang tersisa, aku ceritakan semuanya.Semua yang selama ini aku pendam akhirnya keluar.Wajah ibu langsung berubah pucat, dipenuhi kemarahan dan rasa terkejut.Tanpa ragu, dia ambil HP-nya dan pesan tiket.“Kita pergi sekarang juga. Gilbert itu bukan manusia, dia monster

  • Rahasia di Balik Ruang Gelap   Bab 5

    Setiap kali terbangun dari mimpi buruk, bantal di bawah kepalaku selalu basah oleh keringat dingin.Aku nggak berani nyalakan lampu. Hanya bisa meringkuk di sudut tempat tidur, menutup telinga dengan selimut, seolah dengan begitu aku bisa halangi suara langkah kaki yang mungkin datang dari luar.Sejak saat itu, ayah tiriku jadi semakin berani.Suatu malam, saat aku terbangun dan lewati ruang tamu, aku lihat dia sedang duduk di sofa menatap TV. Namun layar itu gelap, nggak ada tampilan apa pun.Suasana itu buat bulu kudukku meremang.Pernah suatu kali, tali baju tidurku agak longgar. Saat aku membungkuk untuk ambil sesuatu, tiba-tiba dia muncul di belakangku dan pegang pinggangku.“Hati-hati, nanti jatuh,” katanya pelan.Telapak tangannya terasa panas nempel di kulitku.Aku membeku di tempat, nggak mampu gerak, hingga akhirnya dia lepaskan tangannya.“Sekarang kamu sudah dewasa. Harus belajar jaga diri,” tambahnya santai.Kamar mandi berubah jadi tempat yang menakutkan bagiku.Dia serin

  • Rahasia di Balik Ruang Gelap   Bab 4

    Saat aku masih terpaku dalam lamunan, tiba-tiba dia kembali mendekat. Tangannya menyelinap ke dalam kerah bajuku dan cubit itu dengan keras.Aku tersentak kaget, segera tepis tangannya.Dia hanya tersenyum miring, lalu pergi seolah nggak terjadi apa-apa.Aku terdiam. Bingung apa aku harus cerita semua ini ke ibu?Tapi, kalau aku jujur, ibuku pasti akan sangat terluka, bahkan mungkin hubungan mereka akan hancur.Namun jika aku diam, aku tahu ayah tiriku akan jadi tambah agresif.Aku terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.Nggak lama, ibu selesai cuci piring.Aku masuk ke kamar mandi, berniat bersihkan diri.Tubuhku rasanya lengket dan nggak nyaman. Aku ingin rasakan air hangat basuh semua kegelisahan ini. Air mengalir perlahan di tubuhku, sedikit demi sedikit tenangkan pikiranku.Namun tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Karena toiletnya ada di dalam kamar mandi, ayah tiriku masuk begitu saja tanpa rasa canggung. Di hadapanku dia langsung keluarkan alat kelaminnya

  • Rahasia di Balik Ruang Gelap   Bab 3

    Tanpa aku duga, dia tarik celana dalamku dengan kasar.Dalam sekejap, aku rasa seluruh pertahananku runtuh, seluruh bagian bawah tubuhku tersingkap di depan ayah tiriku, seperti telur ayam yang sudah dikupas. Rasa malu menyeruak begitu kuat hingga aku refleks rapatkan kedua pahaku.“Ini .…”Sentuhan dan kedekatan tadi saja rasanya sudah lampaui batas. Sekarang dia juga lepaskan celanaku, gimana bisa aku hadapi ibuku jika seperti ini? Namun tiba-tiba ayah tiriku buka pahaku yang basah dengan ganas, matanya tertuju pada bagian bawah tubuhku."Begitu merah muda dan lembut, begitu kecil, jauh lebih cantik dibanding punya ibumu."Kata-katanya buat aku tertegun, gimana bisa dia bicara nggak tahu malu seperti itu, banding-bandingkan aku dengan ibuku.Aku coba pakai celanaku, tetapi ayah tiriku angkat kakiku, ambil robekan celana dalamku, dan lemparkan itu ke samping.Dia letakkan kakiku di depan hidungnya dan menarik napas dalam-dalam."Wow, kakimu saja harum sekali, tubuhmu pasti lebih haru

  • Rahasia di Balik Ruang Gelap   Bab 2

    Diam-diam aku melirik ke arah ayah tiriku. Dari balik celananya, terlihat jelas ada sesuatu yang berubah jadi tegang dan menonjol, terlihat sangat kuat dan ganas. Tatapanku rupanya nggak luput darinya. Sekilas saja, dia seakan sudah paham apa yang sedang aku rasakan.Dia duduk di sampingku, posisinya menyerupai pria dalam film yang sedang kami tonton.“Lusi, kamu kelihatan sangat kacau sekarang. Sudah mulai kerasa, yah?”Baru saat itu aku tersadar, tubuhku gemetar, wajahku memerah, dan tanpa aku sadari bajuku juga terangkat sedikit. Aku tampak sama kacaunya seperti tokoh wanita di layar TV.Aku gigit bibirku, nggak mampu berkata apa-apa.Suara Gilbert, ayah tiriku kemudian melembut.“Nggak apa-apa, di sini cuma ada kita berdua. Kamu mau apa, aku akan turuti kamu … ini rahasia kita. Sekarang, gimana perasaanmu? Kamu … mau apa?”Wajahku semakin panas, suaraku bergetar pelan.“Aku … rasanya aneh … kayak mau .…”“Mau apa?”“Kayak mau … digitukan .…”Dia tersenyum tipis.“Anak baik .…”Den

  • Rahasia di Balik Ruang Gelap   Bab 1

    Namaku Lusi Zoraya. Sejak kecil, aku tinggal dengan ibu di rumah ayah tiriku.Ayah tiriku, Gilbert Condana, selalu perlakukan aku dengan baik. Dia sering suruh aku makan pepaya, katanya itu bagus untuk perkembangan tubuhku. Setiap hari aku minum semangkuk bubur pepaya, jadi dadaku berkembang dengan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status