Belliza berhenti tepat di hadapan Myrrathis. Ia mendongak menatap pria itu, gerakan kecil yang selama ini menjadi bahasa sunyi di antara mereka.Myrrathis menunduk perlahan, menatap kedua mata Belliza bergantian. Dalam sorot itu, ada rindu yang berputar, tertahan, dan kalau dibiarkan tumpah, dunia akan menghukum mereka berdua."Maaf,"Satu kata itu lolos begitu saja dari bibir Belliza. Suara yang serak, seperti menahan banyak hal di belakangnya.Belliza menunduk. "Aku tidak pernah bermaksud melukaimu," lanjutnya, lebih pelan. "Aku tidak pernah berniat membuat hidupmu semakin berat."Myrrathis menggeleng kecil. Satu tangan terangkat ke pipi Belliza, sentuhannya pelan, lembut, seolah ia takut Belliza akan menghilang jika disentuh terlalu keras."Itu bukan salahmu," ucapnya lembut. "Jangan meminta maaf atas kesalahan orang lain."Belliza terdiam, dan ketika ia mengangkat wajah, jarak mereka nyaris menghilang. Hidung mereka saling bersentuhan di bawah cahaya bulan yang lembut."Aku merind
Zuletzt aktualisiert : 2026-05-27 Mehr lesen