Kami mendarat di Osron pada keesokan harinya.Temanku yang bernama Lina menemui kami di luar bandara, melihat wajahku dan mata Rian yang sembab, dia tidak bertanya apa pun. Dia hanya mengambil koper dariku, membawa kami ke mobilnya, dan mengantar kami melewati jalanan yang disinari cahaya utara yang dingin.Rumah yang telah dia siapkan untuk kami berada di sebuah kompleks perumahan eksklusif yang berdiri di jalur yang tenang dengan dipenuhi pepohonan gundul dan fasad batu pucat. Saat dia membuka pintu, lampu-lampu menyala serentak.Rian berhenti di pintu masuk.Di ruang tamu berdiri sebuah piano biru tua, sebuah skuter baru, satu set mainan mobil balap dalam kotak, dan kue ulang tahun raksasa, namanya tertulis di atas kue itu dengan lapisan gula putih.Aku berlutut di sampingnya dan tersenyum. “Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf karena terlambat.”Bibirnya bergetar sebelum dia memelukku. “Mama melakukan semua ini untukku?”“Iya.”Aku memegang bagian belakang kepalanya. “Seharusnya Mama
Magbasa pa