Se connecterMusim dingin benar-benar menyelimuti Osron setelah itu.Kehidupan tidak menjadi lebih mudah.Namun, menjadi lebih jelas.Urusan Institut bergerak cepat. Aku menghabiskan hari-hari dalam rapat tentang kemitraan internasional, strategi mendapat donatur, perencanaan ekspansi, dan kerangka hukum di tiga negara sekaligus.Pekerjaan itu menuntut seperti kehidupanku yang dulu, tetapi perbedaannya sederhana.Setiap jam yang kuberikan untuk pekerjaan ini adalah untuk sesuatu yang telah aku pilih sendiri.Rian juga berubah.Bulan pertama dia masih mendongak setiap kali ada mobil hitam melambat di dekat trotoar. Bulan kedua dia mulai berhenti melakukannya. Menjelang tahun baru dia telah berteman di sekolah, cukup menguasai bahasa Osrogian untuk mengoreksi pengucapanku dengan kesabarannya yang menggemaskan, dan sangat bersemangat dengan kursus pianonya.Suatu malam dia pulang dengan sebuah gambar yang dilipat di tas ranselnya.Gambar itu menunjukkan dua sosok di depan sebuah rumah dengan cahaya ku
William menemukan kami dua minggu kemudian.Dia hampir saja tidak berhasil sampai sejauh itu.Tiga hari setelah panggilan telepon dari Vicky, Sofi meneleponnya sambil menangis tepat setelah matahari terbenam."Papa," bisiknya. "Kepalaku sakit. Apa Papa bisa datang?"Selama berbulan-bulan, suara itu sudah cukup untuk membuatnya bergerak tanpa berpikir panjang. Putrinya Mario, seorang anak yang sudah menanggung satu kehilangan terlalu dini.Kali ini, dia memejamkan mata sebelum menjawab, "Di mana mamamu?""Dia sedang keluar. Dia tidak mengangkat telepon. Tolong datang."Seharusnya dia mengirim dokter. Namun, dia tetap pergi sendiri.Apartemen yang digunakan Viona terasa hangat, terang, dan ramai dengan suara musik ketika dia masuk.Sofi sedang duduk bersila di sofa dengan remot di tangannya. Viona berada di sampingnya, tertawa melihat sesuatu di televisi.Tak satu pun dari mereka tampak sakit."Apa maksudnya ini?" Suaranya begitu tajam memotong suasana di ruangan hingga Viona pun langsun
Sore berikutnya, Vicky Degarda sendiri yang menghubungiku."Selena."Suaranya masih sama, berwibawa hingga semua orang akan patuh mendengarnya. Hari itu, terdengar rasa lelah di balik suaranya yang berwibawa."Apa yang William lakukan itu salah," katanya.Aku tak berkata apa-apa.Vicky melanjutkan, “Rian masih anak-anak. Kau sendirian di kota asing. Kalau kau kembali, aku akan memastikan Viona tak akan pernah berdiri di depanmu lagi. William akan menyerahkan yayasan dan kantor keluarga. Apa pun yang perlu diperbaiki, aku akan memperbaikinya.”Aku memandang ke jalanan Osron di bawah. Rian duduk di meja makan di belakangku, menyusun sesuatu dari balok-balok hitam, sambil bersenandung pelan.Untuk sesaat aku mengerti betapa menggiurkannya tawaran Vicky.Kekuasaan dipulihkan.Posisi dipulihkan.Semuanya dikembalikan.Tapi dia masih belum mengerti apa yang sebenarnya sudah hancur.“Kau pikir aku pergi karena takut memulai dari awal?” kataku. “Tidak sama sekali.”“Lalu kenapa?”“Karena akhir
Bel pintu berbunyi saat William masih menatap kertas-kertas itu.Harapan menghampirinya lebih dulu.Dia sudah berdiri sebelum sempat berpikir, sudah membayangkan langkah Rian yang berlari, sudah membayangkan aku di seberang sana dengan amarah di sorot mataku dan koper masih di tangan.Namun, ternyata Viona yang masuk mengenakan pakaian putih.Dia masih memakai cincin zamrud di jarinya dan senyum khas wanita yang merasa ruangan itu sudah menjadi milik mereka."Kudengar kau meninggalkan rapat," katanya. Lalu dia melihat kertas-kertas itu. "Selena pergi?"William tidak berkata apa-apa.Rasa terkejutnya hanya berlangsung sesaat."Yah," katanya lembut, dan melangkah masuk lebih jauh. "Setidaknya itu menyelesaikan satu masalah."William mendongak.Viona mendekat, suaranya merendah. "Seluruh Karago sudah melihatku di sisimu. Mereka juga melihat cincin itu. Mereka melihat meja utama. Mereka melihat pendaftaran itu. Kalau Selena memang mau pergi, tak perlu melawan atau menyesal. Biarkan saja di
Kami mendarat di Osron pada keesokan harinya.Temanku yang bernama Lina menemui kami di luar bandara, melihat wajahku dan mata Rian yang sembab, dia tidak bertanya apa pun. Dia hanya mengambil koper dariku, membawa kami ke mobilnya, dan mengantar kami melewati jalanan yang disinari cahaya utara yang dingin.Rumah yang telah dia siapkan untuk kami berada di sebuah kompleks perumahan eksklusif yang berdiri di jalur yang tenang dengan dipenuhi pepohonan gundul dan fasad batu pucat. Saat dia membuka pintu, lampu-lampu menyala serentak.Rian berhenti di pintu masuk.Di ruang tamu berdiri sebuah piano biru tua, sebuah skuter baru, satu set mainan mobil balap dalam kotak, dan kue ulang tahun raksasa, namanya tertulis di atas kue itu dengan lapisan gula putih.Aku berlutut di sampingnya dan tersenyum. “Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf karena terlambat.”Bibirnya bergetar sebelum dia memelukku. “Mama melakukan semua ini untukku?”“Iya.”Aku memegang bagian belakang kepalanya. “Seharusnya Mama
Tidak ada yang menyangka kalau aku akan setuju semudah itu.Setelah jamuan makan, William menyusulku di koridor dan meraih pergelangan tanganku."Aku bisa jelasin.""Tentang apa?" tanyaku. "Tentang alasan kau menyerahkan tempatku ke wanita lain? Atau tentang mengapa kau pikir aku akan terus memahamimu selamanya?"Dia menggenggam lebih erat. “Sebelum Mario meninggal, dia memintaku untuk menjaga Viona dan Sofi. Orang-orang yang mengincarnya masih ada di sana. Aku harus melindungi mereka. Aku tidak melakukan ini karena mencintainya.”"Jadi, kau menyembunyikannya dariku?"“Aku tahu kau tidak akan setuju.”Aku menatapnya dan hampir tersenyum.“Kau bukan takut aku akan menolak. Kau tahu ini salah, jadi kau memastikan aku tidak pernah punya pilihan.”Wajahnya mengeras. “Setelah ini selesai, semuanya akan kembali normal. Kau akan tetap menjadi Nyonya keluarga ini.”“Tapi malam ini semua orang melihat siapa yang berdiri di sisi kananmu.”Aku pun berbalik untuk pergi, tetapi Viona mendekati kami
Setelah makan malam, aku memeriksa akun media sosial yang digunakan William untuk urusan keluarga dari komputer ruang kerja. Sebuah unggahan baru muncul.Tidak ada wajah dalam gambar itu, hanya tangan seorang pria yang memasangkan syal hitam di bahu seorang wanita.Itu adalah jam tangan Pates Filip







