Hening.Hanya suara napas kami yang tersisa, berat, tak beraturan - seperti dua orang yang sama-sama kalah dalam perang yang nggak pernah mereka pilih.Revan menatap mataku dengan tatapan penuh sakit dan kecewa, sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya di matanya. Ada luka yang dalam, campuran antara kemarahan dan kepedihan, yang seolah menembus jantungku."Last thing... I need to ask," katanya perlahan, suaranya berat, "do you love him?"Lidahku kelu. Aku menelan ludah, mencoba merangkai kata, tapi tak ada satu pun yang keluar. Aku sendiri tak tahu bagaimana harus menjawab. Perasaanku terhadap Althaf masih membingungkan - apakah ini cinta, atau sekadar ketergantungan, atau rasa takut kehilangan yang membelenggu hatiku. Yang pasti, untuk saat ini, aku merasa takut... takut kehilangan dia.Revan menunggu, diamnya membuat dadaku sesak. Kemudian, ia menghela napas panjang, menunduk, dan suaranya terdengar lebih lembut, namun masih menusuk hati."You don't have to say it. Your silence..
Read more