로그인Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk. Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan. Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri. Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan? Sebuah pilihan yang tampak sederhana, tapi bisa mengubah segalanya
더 보기"Senjani, saya ingin menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan."
Kalimat itu menghantam telingaku seperti petir di siang bolong. Seketika, jantungku berdebar tak terkendali. Di hadapanku, Althaf duduk di depan meja kerjanya. Meja kayu besar itu tampak rapi, hanya ada setumpuk berkas, sebuah pena perak, dan secangkir kopi yang asapnya sudah mulai menghilang. Lampu meja memantulkan cahaya hangat ke wajahnya, membuat garis rahangnya terlihat semakin tegas. Beliau — dosen yang terkenal dingin, misterius, dan jarang berbicara — diam-diam menjadi favorit di kampus karena ketampanannya yang membius kaum hawa. Dan kini, pria itu menatapku dengan sorot mata yang sulit kutebak, seolah ingin membaca pikiranku... atau mungkin, masa depanku. Aku menelan ludah, mencoba memastikan telingaku tidak salah menangkap. "Ma—maaf, Pak?" suaraku terdengar ragu, bahkan di telingaku sendiri. Althaf menyandarkan punggungnya pada kursi, menyilangkan jari-jarinya di atas meja. "Saya serius, Senjani," katanya tenang, seakan yang baru saja ia ucapkan bukanlah sesuatu yang mampu mengguncang dunia seorang mahasiswi biasa sepertiku. Aku ingin tertawa, atau mungkin marah. Tapi yang keluar justru hanya tatapan kosong. Otakku bekerja keras mencari penjelasan... karena jelas, ini bukan pembicaraan yang wajar antara dosen dan mahasiswinya. "Mungkin ini terdengar mengejutkan untukmu, Senjani. Tapi saya serius dengan apa yang saya katakan." Suaranya tenang, namun penuh keyakinan. "Saya tahu kamu sedang kesulitan finansial. Ibumu sakit dan membutuhkan biaya besar untuk perawatan di rumah sakit. Pekerjaan sambilan yang kamu jalani tidak cukup untuk menopang hidupmu dan keluargamu. Karena itu, saya menawarkan kesepakatan pernikahan ini padamu." Aku memberanikan diri menatap matanya. Sorot tajam itu sama sekali tidak menyiratkan keraguan. "Maaf, Pak... saya masih belum mengerti dengan jelas. Maksud Bapak, saya dan Bapak... menikah?" tanyaku, suaraku hampir bergetar. "Benar, Senjani," Suaranya tenang, nyaris tanpa jeda, seolah kata-kata itu sudah lama mengendap di benaknya. "Saya ingin mengajak kamu menikah. Ini akan menjadi win-win solution untuk kita berdua. Saya sedang mencari calon istri... dan kamu sedang berada di jurang kesulitan finansial." Kata-katanya jatuh di telingaku seperti batu ke permukaan air—menciptakan riak yang lama tenggelam, tapi menyisakan getar di dadaku. Pernikahan? Dengan dosenku sendiri? Rasanya absurd. "Tapi... Pak—" suaraku terputus, bukan karena tak ingin bicara, tapi karena lidahku kelu, tak tahu harus memulai dari mana. "Saya beri kamu waktu satu minggu untuk berpikir, Senjani." Nada bicaranya seperti keputusan final yang sulit untuk dibantah, "Saya akan memberimu uang bulanan dan mahar pernikahan. Uang itu bisa kamu gunakan untuk melunasi hutang ayahmu... dan untuk biaya pengobatan ibumu." Hatiku terasa diremas. Kata-kata itu menyentuh titik paling rapuh dalam hidupku. Ayah... Ibu... wajah mereka berkelebat di kepalaku. Tangan Ibu yang lemah di ranjang rumah sakit. Tatapan kosong Ayah yang semakin hari semakin larut dalam kebiasaan buruknya. Tatapan Althaf datar, nyaris tanpa emosi. Seolah yang ia ucapkan bukan tawaran yang akan mengubah seluruh hidupku, melainkan hal remeh seperti mengucapkan selamat pagi. Nafasku terasa sesak. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan detak jantung yang menggila. Namun saat kubuka lagi, tatapannya masih menembusku—mata setenang dan sedalam danau di senja hari. Indah, tapi bisa menenggelamkan siapa saja yang berani mendekat. "Kamu boleh keluar, Senjani" ucapnya menyadarkanku dari lamunanku. "Baik, Pak... saya permisi." balaskuku lirih, nyaris tak terdengar. Langkahku cepat meninggalkan ruangan itu. Setiap langkah terasa seperti menjauh dari satu bencana, tapi juga entah mendekati bencana yang lain. Aroma kopi pahit yang sejak tadi memenuhi ruangan kini menempel di hidungku, mengganggu, membuatku ingin segera menghirup udara luar. Begitu pintu tertutup, aku menghela napas panjang, seolah baru saja lolos dari jebakan yang tak terlihat. Layla sudah menunggu di luar, berdiri sambil menatapku penuh tanya. "Sudah selesai, Sen? Ada masalah apa sampai lo dipanggil dosen kesayangan gue itu? Jangan-jangan gara-gara lo bolos mata kuliah dia kemarin?" suaranya setengah bercanda, setengah khawatir. Ia menyesuaikan langkahnya mengikuti langkahku yang terburu-buru menuju lift. Aku memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan badai yang masih mengamuk di kepalaku. "Bener. Pak Althaf nyuruh gue ngumpulin tugas minggu ini juga," jawabku datar. Mana mungkin aku menceritakan tawaran gila yang baru saja ia lontarkan? Mana mungkin aku membiarkan orang lain ikut menilai dilema yang bahkan aku sendiri tak sanggup menilainya? "Gila... yaudah, hari ini kita mulai observasi ke lapangan aja. Lo, kan, jurnalistik—kena bagian wawancara siapa?" "Wawancara dosen," jawabku pendek, tanpa minat. "Yaudah aman. Besok gue temenin nyusun naskah dan wawancaranya. Sekarang kita makan dulu. Gue lapar!" seru Layla sambil meraih lenganku. Aku hanya membiarkan dia menarikku menuju kafetaria, sementara pikiranku masih tertinggal di ruangan itu. Di antara tatapan datar dan kata-kata dingin seorang Althaf Arsakha Dirgantara—yang entah sejak kapan mulai terasa seperti undangan... sekaligus ancaman. *** Malam merayap masuk perlahan, menelan sisa cahaya di jendela kamarku. Lampu meja belajar menyala redup, menyisakanlingkar cahaya hangat di antara buku-buku dan kertas berserakan. Di luar, suara hujan tipis mengetuk-ngetuk kaca, seperti irama tak sabar yang mengiringi pikiranku. Aku duduk di tepi ranjang, lutut tertekuk, kedua tangan meremas struk obat Ibu yang harus segara aku tebus. Sejak meninggalkan ruangan Pak Althaf tadi, kata-katanya berulang-ulang memutar di kepalaku. Saya ingin mengajak kamu menikah... saya akan memberimu uang bulanan... mahar pernikahan... untuk membebaskan ayahmu... biaya pengobatan ibumu... Napas berat lolos dari dadaku. Bagaimana mungkin satu orang bisa meletakkan beban sebesar ini hanya dengan beberapa kalimat? Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Dalam gelap yang tercipta, aku bisa melihat bayangan Ayah duduk di teras rumah, matanya merah, tangannya gemetar memegang gelas minuman murahan. Lalu wajah Ibu—pucat, lemah, dengan selang infus menusuk punggung tangannya. Dua orang yang begitu kucintai, yang nasibnya kini seperti boneka di tangan takdir. Dan di tengah semua itu... ada Althaf. Dosen yang selama ini hanya kukenal lewat tatapan tenangnya di kelas, yang kini tiba-tiba menjelma menjadi sosok yang mampu mengubah seluruh arah hidupku. Bukan dengan cinta, bukan dengan janji manis... tapi dengan sebuah tawaran yang rasanya seperti pintu keluar dari labirin gelap. Pintu keluar... yang mungkin sekaligus pintu masuk menuju penjara baru. Kupandangi langit malam di luar jendela. Lampu-lampu kota berkedip, seperti mata-mata asing yang mengawasi. Aku bertanya-tanya—apakah benar semua orang punya pilihan dalam hidupnya, atau sebagian dari kita hanya diberi ilusi untuk memilih? Hujan mulai deras. Dan di sela suara air yang menabrak atap, aku mendengar suaraku sendiri—lirih, nyaris tak terdengar—bertanya pada malam, Apakah aku harus menerimanya? Tiga ketukan pelan menyentuh pintu kamarku—seperti hujan pertama yang menyapa kaca, ragu namun tetap jatuh. Sunyi mengikutinya, lalu pintu terbuka perlahan. Ibu berdiri di sana, siluetnya dilatari cahaya lampu lorong. Di tangannya, sepiring nasi goreng mengepulkan uap, mengirim aroma bawang putih dan kecap manis yang merayap ke sudut-sudut hatiku, membangunkan kenangan masa kecil yang entah kenapa terasa asing. Aku menghapus sisa air mata dengan gerakan gugup, tapi Ibu selalu punya cara membaca wajahku—seperti membaca buku yang sudah dihafalnya puluhan kali. "Kamu dari tadi Ibu panggil... kok diam saja, Nak?" suaranya lembut, tapi di baliknya ada gurat cemas yang sulit disembunyikan. "Ibu udah siapkan nasi goreng buat makan malam. Ayah sama Ibu udah selesai makan." Ia meletakkan piring itu di meja belajarku yang reot—meja yang pernah menjadi saksi tawa kecilku, kini hanya menopang beban kertas dan sunyi. Tangannya, hangat dan penuh bekas kerja, mengusap puncak kepalaku. Aku bersandar di bahunya—bahu yang kurus, namun selalu seperti tembok terakhir saat semua runtuh. "Ibu..." suaraku pecah menjadi serpihan. "Ayah sering nyakitin Ibu... tapi kenapa Ibu masih saja melayaninya? Walau... walau nggak pernah dihargai." Aku menatap matanya—mata yang memeluk luka, namun tak pernah menyerah. Jemariku menyusuri garis-garis di wajahnya, seperti membaca peta hidup yang jalannya penuh tikungan tajam. Ibu tersenyum tipis. Senyum itu seperti malam yang dingin—tenang di luar, membeku di dalam. "Nak... bagaimanapun juga, dia tetap suami Ibu. Dia imam Ibu... surga Ibu ada padanya. Ibu yang memilih dia. Jadi, seburuk apa pun sifatnya... Ibu harus menerimanya." Ia berhenti, menatapku lama, seolah ingin menyalakan kata-kata ini di dadaku agar tak pernah padam. "Ingat, Nak... seburuk apa pun bapakmu, dia tetap bapakmu. Tetap suami Ibu. Itu pilihan Ibu... dan setiap pilihan punya harga yang harus dibayar, meski dengan hati sendiri." Kata-kata itu jatuh di hatiku seperti hujan deras di tanah retak—menyentuh, tapi juga membuat retakan semakin melebar. Suara Ibu berbaur dengan gema suara Pak Althaf dari siang tadi. Apa aku juga akan berjalan di jalan yang sama? Menikah bukan karena cinta, tapi karena pasrah pada takdir yang disodorkan? Bagaimana kalau aku pun kelak tersenyum sambil menyembunyikan perih, menelan malam demi malam tanpa suara? Aku menatap nasi goreng di meja—nasi sederhana, lahir dari tangan yang mencintai tanpa syarat, di rumah yang diam-diam menyimpan badai. Dan di sana, aku tiba-tiba takut... takut pada masa depan, takut pada wajah anakku kelak yang mungkin menatapku dengan mata yang sama sayunya seperti mata Ibu malam ini.Althaf menoleh penuh kasih sayang. Tangannya beralih menangkup pipiku, memaksa mataku bertemu dengan matanya.“Badan kamu juga sudah bagus, Sayang,” ucapnya lembut. “Jangan pernah merasa kurang di depan saya. Kamu sempurna. Tapi nggak apa-apa, kita ubah pola hidupnya perlahan-lahan agar lebih sehat. Kita lakukan ini bukan untuk mencapai standar tertentu, tapi untuk diri kita, agar stamina kita kuat untuk menjalani hari-hari yang panjang ke depan, berdua.”Ia mencium bibirku singkat, lalu bangkit “Ayo ganti baju, Sayang, atau kamu mau saya yang pakaikan kamu?” ucapnya menggoda, matanya mengerling nakal. “Saya sih dengan senang hati melakukannya.”Aku tertawa, merasakan pipiku memanas. Godaan Althaf di pagi hari terasa manis dan benar-benar baru.“Ihh, itu mah memang maunya Mas!” balasku, melempar bantal ke arahnya. “Nanti kita bisa telat lari pagi, dan yang ada Mas malah nge-gym di kamar.”Althaf menangkap bantal itu dengan mudah, ekspresinya pura-pura kecewa. Ia membalik bantal itu, m
Sekitar empat puluh menit kemudian, kami tiba di kawasan elit pusat kota. Althaf memarkir mobilnya dengan sigap di valet parking depan sebuah restoran Jepang modern dengan fasad kayu yang elegan—Kanpai Sushi.Saat kami melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa intim, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik tradisional Jepang yang lembut. Althaf menyebutkan namanya pada resepsionis, dan kami langsung diantar ke sebuah ruangan kecil yang disekat—benar-benar private.Aku duduk di kursi empuk itu, menatap Althaf yang tampak jauh lebih santai—kemejanya tidak lagi terasa kaku. Malam ini, dia benar-benar mengenyahkan persona dosennya.“Selamat datang di date night kita yang pertama, Senjani,” ucapnya, mendorong menu ke depanku dengan senyum menawan.“Date night pertama tanpa kontrak dan tanpa batas waktu,” balasku, tersenyum lega. Aku membuka menu, tapi mataku hanya mencari satu nama.“Saya sudah tahu mau pesan apa.”“Tentu saja. Spicy salmon roll,” tebak Althaf tanpa melihat menu.“Da
Aku hanya bisa berdiri mematung di sana, menyaksikan punggung Revan perlahan menjauh. Saat punggungnya benar-benar hilang dari pandangan, bendungan air mataku pun pecah. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, bahuku terguncang oleh isak tangis yang tertahan. Aku menangis dalam diam, meratapi akhir dari babak yang indah—persahabatan yang harus dikorbankan demi babak baru dalam hidupku. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak tepat di depanku. Pintu mobil terbuka, dan Althaf keluar dengan langkah cepat. Wajahnya yang biasanya tenang kini diliputi kekhawatiran yang jelas. Ia segera menghampiriku. “Senjani? Sayang, ada apa?” tanyanya, suaranya dalam dan cemas, refleks meraih lenganku. Ia menarik lembut tanganku dari wajahku yang basah oleh air mata. “Kenapa kamu menangis? Ada yang menyakitimu?” Aku tidak bisa menahan tangis lagi. Melihat wajahnya yang khawatir justru membuatku semakin lega untuk meluapkan segalanya. “Revan, Mas…” bisikku lirih, menatap matanya yan
Aku memutuskan untuk menunggu di tempat yang lebih nyaman. Aku tidak mau berdiri canggung di gerbang yang ramai kendaraan, jadi aku memilih pindah ke taman kecil di depan fakultas, tempat yang teduh dan sejuk.Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon yang rimbun. Jam menunjukkan pukul empat sore, suasana kampus mulai sepi. Sinar matahari sudah mulai condong, menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan. Udara sore terasa sejuk, beraroma tanah dan dedaunan. Beberapa mahasiswa masih terlihat duduk berkelompok di kejauhan, tapi aku sendirian di bangku ini, merenungi semua yang baru saja kualami.Aku mengeluarkan ponsel, membalas pesannya lagi.[Sent to : Mas Althaf]‘Take your time, Super Althaf. I’ll wait here. Hati-hati di Jalan Cendrawasih ya!’Aku menyandarkan kepala, menikmati ketenangan sore itu, siap menyambut suami yang akan datang menjemputku sebagai suami seutuhnya.Tepat saat aku sedang fokus menatap layar ponsel, mencoba membunuh rasa bosan sambil menunggu, suara langkah pe
Aku menutup mulutku dengan punggung tangan, menekan bagian bawah bibirku. Napasku terengah, berusaha mengambil oksigen tanpa harus menghirup aroma kopi yang kini terasa memuakkan.“Gue juga nggak tahu, Lay,” jawabku, suaraku masih sedikit bergetar. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa ini h
Kuliah terakhir sore itu terasa lebih cepat dari yang kubayangkan. Mungkin karena aku tahu siapa yang akan menjemput dan menungguku setelah ini. Begitu dosen mengakhiri sesi, aku dan Layla langsung bergerak cepat keluar kelas. Kami memilih sudut outdoor kafetaria kampus yang agak sepi, tempat strat
Fajar menyambut. Sinar matahari pagi yang lembut menyusup melalui celah tirai, menerangi ruang tamu yang kini tampak seperti saksi bisu keajaiban yang terjadi pada hidupku. Aku terbangun sendirian di sofa, tapi dengan perasaan yang benar-benar berbeda. Selimut yang hangat masih melingkari tubuhku,
Gerakan-gerakan penuh hasrat itu akhirnya melambat. Setelah dorongan yang memabukkan dan lebih dari satu kali pelepasan intens yang mengguncang sofa, kelelahan total menyelimuti kami berdua. Ini adalah kelelahan yang tercipta dari kepuasan dan keintiman yang mendalam, bukan lagi karena beban pekerj






Selamat datang di dunia fiksi kami - <a href="https://www.goodnovel.com/id/" >Goodnovel</a>. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, <a href="https://www.goodnovel.com/stories/Fantasi-novel" >novel fantasi</a>, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.