****DylanneAku memejamkan mata, menanti bibirnya menempel ke bibirku. Aku membayangkan bibirnya yang sedikit mengerucut, tapi tak ada apa-apa. Perlahan aku membuka mata dan menatap matanya yang abu-abu. Dia tersenyum sombong, matanya berkilat penuh kelicikan.“Lihat… malu,” katanya, sambil mencubit kedua pipiku.Aku menelan ludah saat dia mundur beberapa langkah, vaginaku mengencang karena sedih.“Silakan masuk dulu.”Aku masuk ke restoran itu, menikmati suasananya yang kecil, nyaman, dan hangat. Bagian luarnya rapi, dengan meja-meja di luar yang menghadirkan nuansa Prancis dan Manhattan yang apik. Restoran itu kosong saat kami masuk, hanya para pelayan yang duduk di sana.Kai mengantarku ke meja yang telah kami pesan dan menarik kursi untukku.“Terima kasih,” kataku sambil duduk.Dia duduk, mengambil menu, dan membacanya sekilas.“Mau makan apa? Aku ikut juga.”“Hm…” aku bergumam, menelusuri berbagai pilihan menu. Aku selalu ingin mencoba croissant. Aku tahu ini konyol karena belum
Read more