Tepat saat itu, pintu tiba-tiba didorong terbuka dari luar, disusul suara yang sudah sangat tidak asing lagi terdengar. "Aku pulang ...."Detik itu juga, waktu seolah membeku.Ponsel Merry, istriku, merosot jatuh ke lantai dan menimbulkan suara denting nyaring yang memecah keheningan.Ekspresinya berubah dari yang awalnya terkejut, menjadi tidak percaya, hingga kemudian berubah menjadi luka yang sangat dalam."Merry, kenapa kamu ke sini?"Kami buru-buru memisahkan diri, tidak berani menatap langsung mata Merry. Rasa malu dan penyesalan yang mendalam mencengkeram diriku.Raisa mencoba untuk berdiri, tapi gerakannya tampak kikuk dan ragu-ragu.Tubuhnya sedikit gemetar, tangannya secara tidak sadar mengusap lengannya sendiri, seolah sedang mencari ketenangan.Pandangannya akhirnya tertuju pada Merry, dengan tatapan memohon.Namun, seiring tatapannya yang beralih di antara kami berdua, ekspresinya perlahan menjadi kaku.Bibir Merry sedikit bergetar, dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi sua
Read more