ログインAku mencoba menekan perasaan ini, tapi rasanya seperti rumput liar di musim panas ke hujan, makin ditekan, justru tumbuh makin gila.Cinta terlarang ini memang ditakdirkan untuk tidak pernah bisa diungkapkan kepada dunia.Dulu, aku tidak punya keberanian untuk menghadapi hatiku sendiri, tapi sekarang, aku sudah memiliki kekuatan itu.Dia mendengarkan penjelasanku dalam diam, lalu menghela napas panjang dengan kilasan kesedihan di matanya."Ayo, kita cerai."Menatap Merry yang begitu pengertian, aku merasakan penyesalan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Aku tahu aku sudah menyakitinya, menyakiti pernikahan kami yang dulu begitu indah.Tapi, aku juga tahu, aku tidak bisa membohongi perasaanku, tidak bisa terus terjebak dalam pernikahan tanpa cinta ini.Satu-satunya hal yang bisa kuberikan sebagai kompensasi untuknya hanya rumah ini.Kami pergi ke Kantor Catatan Sipil untuk mengurus proses perceraian.Seluruh prosesnya berjalan sangat lancar, tidak ada pertengkaran, tidak ada drama,
Aku menatapnya yang seolah sudah menyerah pada keadaan, hatiku dipenuhi perasaan yang campur aduk.Logikaku mengatakan, aku tidak boleh melakukan kesalahan sekarang.Namun, tubuhku tidak bisa dikendalikan, ada api gairah yang membakar di dalam dadaku.Raisa berbaring di atas ranjang, tubuhnya terlihat sangat menggoda di bawah cahaya lampu.Aku berdiri dan melangkah mendekatinya.Matanya menunjukkan sedikit tantangan, seolah-olah sedang menunggu langkahku selanjutnya.Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menanggalkan pakaianku sendiri dan menindih tubuhnya.Malam itu, hubungan kami mencapai puncaknya, tapi di saat yang sama juga menjadi akhir dari hubungan kami.Saat aku terbangun kembali, hanya ada aku sendiri di dalam kamar itu.Kekacauan dan gairah semalam terasa seperti sebuah mimpi, tetapi saat aku melihat secarik kertas yang ditinggalkan Raisa di atas meja, aku baru menyadari kalau semua itu nyata.Aku mengambil kertas itu. Tulisan tangannya berantakan tapi tegas, setiap barisnya m
Aku mengembuskan napas lega, pecahan botol di tanganku merosot jatuh ke lantai dan menimbulkan suara denting yang nyaring.Kemudian, aku berbalik menatap Raisa. Dia sama sekali tidak tahu apa yang baru saja terjadi, hanya terduduk lemas di lantai karena mabuk berat.Aku menghela napas panjang, menggendong tubuhnya, lalu beranjak meninggalkan bar tersebut.Aku memapah Raisa, tubuhnya terasa berat dan hampir seluruh bebannya bertumpu pada bahuku.Jalanan di malam hari terasa sangat sepi dan sunyi, hanya sesekali suara kendaraan yang lewat memecah keheningan itu.Sejenak aku merasa bingung harus pergi ke mana.Di rumah, hubunganku dengan Merry sudah hancur berantakan seperti itu, tentu saja aku tidak mungkin pulang ke sana.Sedangkan rumah Raisa, aku bahkan tidak tahu di mana lokasinya.Akhirnya, kami hanya bisa pergi ke hotel terdekat. Dengan susah payah, aku mengeluarkan kartu identitas dan uang dari saku untuk mengurus proses check-in.Resepsionis itu menatap kami dengan sorot mata cur
Lampu di bar itu remang-remang dengan musik yang memekakkan telinga. Aku duduk di depan meja bar, minum gelas demi gelas tanpa henti.Mencoba menggunakan alkohol untuk mematikan perasaanku, untuk melupakan tatapan tegas Merry, juga melupakan perasaan yang seharusnya tidak ada pada Raisa.Aku tidak mengerti kenapa takdir harus mempermainkanku seperti ini.Alkohol membuat pikiranku menjadi kabur, sampai akhirnya dunia di depanku mulai berputar, sampai sosok Raisa muncul dalam pandanganku.Dia duduk di sisi lain bar, sendirian, dengan beberapa botol kosong di depannya.Rambutnya agak berantakan dan tatapannya sayu, jelas dia sudah minum cukup banyak.Aku menatapnya, ada perasaan rumit yang muncul dalam hatiku.Dia adalah keluarga Merry, orang yang seharusnya tidak aku cintai.Namun, di saat seperti ini, aku tidak bisa menahan diri untuk berjalan ke arahnya.Suaraku hampir tidak terdengar di tengah keramaian bar, tetapi dia tetap mendongak dengan kilatan terkejut di matanya."Ngapain kamu
Tepat saat itu, pintu tiba-tiba didorong terbuka dari luar, disusul suara yang sudah sangat tidak asing lagi terdengar. "Aku pulang ...."Detik itu juga, waktu seolah membeku.Ponsel Merry, istriku, merosot jatuh ke lantai dan menimbulkan suara denting nyaring yang memecah keheningan.Ekspresinya berubah dari yang awalnya terkejut, menjadi tidak percaya, hingga kemudian berubah menjadi luka yang sangat dalam."Merry, kenapa kamu ke sini?"Kami buru-buru memisahkan diri, tidak berani menatap langsung mata Merry. Rasa malu dan penyesalan yang mendalam mencengkeram diriku.Raisa mencoba untuk berdiri, tapi gerakannya tampak kikuk dan ragu-ragu.Tubuhnya sedikit gemetar, tangannya secara tidak sadar mengusap lengannya sendiri, seolah sedang mencari ketenangan.Pandangannya akhirnya tertuju pada Merry, dengan tatapan memohon.Namun, seiring tatapannya yang beralih di antara kami berdua, ekspresinya perlahan menjadi kaku.Bibir Merry sedikit bergetar, dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi sua
"Lukas! Kamu ...."Raisa memanggil namaku, suaranya terdengar seolah dipaksa keluar dari kerongkongannya."Aku ... ini ibu mertuamu ... bukan istrimu ....""Malam ini anggap saja kamu istriku."Aku tidak ingin kehilangan kesempatan emas ini kalau sampai ragu, jadi aku segera merapatkan tubuhku lagi.Dia meronta sekuat tenaga. Saat aku mencoba mendorongnya ke ranjang, dia memanfaatkan celah itu untuk menekuk lutut dan menendang perutku, lalu mendorong leherku dengan kedua tangannya hingga tubuhku terpental menjauh.Pada saat yang sama, dia memiringkan tubuh untuk meloloskan diri, tapi kedua kakinya gemetar hebat hingga dia hampir jatuh ke lantai."Hati-hati ...."Aku sigap menangkap pinggangnya, kembali menyusupkan tanganku ke dalam roknya, lalu menekannya di atas ranjang tanpa membiarkannya bergerak.Raisa mencakar punggungku dengan keras. "Keluarkan tanganmu.""Nggak mau!"Aku memejamkan mata sedikit, menahan rasa perih yang membakar di punggungku sambil merasakan bokong besar yang ha







