Kue krim itu menghantam wajahku tepat saat aku membuka pintu ruang VIP. Seisi ruangan langsung meledak dalam tawa. Chloe duduk di sandaran sofa kulit sambil memegang ponsel sambil tertawa penuh kemenangan."Sudah kubilang, dia pasti datang," katanya. "Bayar sekarang, Wilson."Krim meluncur ke bulu mataku dan turun melewati dagu. Wilson menghampiri dengan senyum lembut, lalu mengusap pipiku memakai serbet."Sial, Vivian. Kamu sampai dandan segala." Tatapannya hampir terlihat menyesal untuk gaunku. Bukan untukku."Kami tadi taruhan. Aku bilang kamu nggak bakal datang. Kalau aku menang, besok aku mau melamar kamu. Tapi ternyata kamu datang, jadi aku kalah. Sepertinya obrolan soal pernikahan kita tunda sampai tahun depan."Setiap hari April Mop, Wilson membantu Chloe membuat lamaran palsu untukku.Tahun lalu, dia berlutut di ruang belakang sebuah klub dengan lilin-lilin di atas meja, sementara setengah teman-temannya merekam. Aku benar-benar berpikir dia akhirnya serius. Lalu, kotak cincin
Baca selengkapnya