Suasana pun menjadi canggung.Fannie menundukkan kepala meminta maaf. “Maaf, Bu Melly. Ini salah saya.”“Kak Alex, jangan bertengkar karenaku. Tidak sepadan.”Dia sadar aku marah karena cemburu, tetapi dengan cepat mengubah arah pembicaraan seolah ini adalah soal posisi dan status.Harus diakui, dia memang pintar.Melihat matanya yang mulai memerah, aku malah terkekeh.“Fannie, kamu suka berkuda, kan? Kalau begitu akan kuberi seekor kuda. Dirimu bisa menungganginya kapan pun.”Fannie langsung menatapku, matanya penuh rasa ketidakpercayaan.Aku berkata dingin, “Tetapi ingat statusmu. Kamu hanya seorang asisten. Kalau itu bukan milikmu, jangan diterima.”Alex akhirnya sadar aku benar-benar marah dan segera mencoba menenangkanku.“Melly, maaf ya. Hari ini kan hari jadi kita dan juga ulang tahunmu.”Dia lalu mendekat ke telingaku. “Tetapi tahun ini aku belum menyiapkan hadiah ulang tahun untukmu. Jadi aku berpikir ….”“Aku ingin menghadiahkan diriku sendiri untukmu.”Dia sedikit memiringka
Read More