Begitu kecurigaan timbul, perasaan itu akan terus merambat ke mana-mana. Ghava mulai memperhatikan setiap detail saat bersama Marcel. Anak laki-laki berusia enam tahun itu memang tampak lebih pucat dibanding anak seusianya, tetapi jauh dari kondisi sekarat.Dia masih bisa berlari, melompat, dan bermain. Masih bisa merengek manja demi sepotong kue. Masih bisa duduk ngambek di depan toko mainan dan menolak pergi.Hal yang benar-benar membuat Ghava yakin adalah sebuah kejadian tak terduga.Hari itu, Renata membawa Marcel ke markas untuk menemuinya. Saat bermain, anak itu tidak sengaja membentur lututnya sampai terluka. Sambil membersihkan lukanya, dokter militer di ruang medis bertanya santai, "Golongan darah anak ini apa? Lukanya memang kecil, tapi untuk berjaga-jaga tetap perlu dicatat."Ghava menjawab tanpa berpikir, "A, sama seperti aku."Dia ingat Renata pernah berkata bahwa dirinya bergolongan darah O.Ayah bergolongan darah A dan ibu bergolongan darah O hanya mungkin memiliki anak
Read More