Short
Kehamilanku Adalah Penyelamat Anak Wanita Lain

Kehamilanku Adalah Penyelamat Anak Wanita Lain

Oleh:  AntoniaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
20Bab
976Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

"Ghava, kalau Adele tahu kamu buat dia hamil cuma karena mau pakai darah tali pusarnya untuk menyelamatkan anak kita, apakah dia akan marah?" Suara Renata terdengar lembut dan pelan, tetapi setiap katanya seperti jarum yang menusuk gendang telinga Adele. Detik berikutnya terdengar suara Ghava tanpa sedikit pun emosi, "Dia nggak berhak marah. Itu memang sudah seharusnya dia lakukan." "Dulu dia mati-matian naik ke ranjangku dan maksa aku menikahinya. Malah seharusnya dia merasa beruntung kalau anak yang dikandungnya itu bisa berguna." Adele bersandar di dinding yang dingin. Lembar hasil pemeriksaan kehamilan terlepas dari sela jarinya lalu jatuh melayang ke lantai.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

"Ghava, kalau Adele tahu kamu buat dia hamil cuma karena mau pakai darah tali pusarnya untuk menyelamatkan anak kita, apakah dia akan marah?"

Suara Renata terdengar lembut dan pelan, tetapi setiap katanya seperti jarum yang menusuk gendang telinga Adele.

Detik berikutnya terdengar suara Ghava tanpa sedikit pun emosi, "Dia nggak berhak marah. Itu memang sudah seharusnya dia lakukan."

"Dulu dia mati-matian naik ke ranjangku dan maksa aku menikahinya. Malah seharusnya dia merasa beruntung kalau anak yang dikandungnya itu bisa berguna."

Adele bersandar di dinding yang dingin. Lembar hasil pemeriksaan kehamilan terlepas dari sela jarinya lalu jatuh melayang ke lantai.

Saat itu, terdengar suara anak kecil yang masih polos, bernada manja dan penuh keriangan. "Papa, kapan kita pulang? Aku mau makan kue yang waktu itu Papa beli."

Suara Ghava akhirnya terdengar hangat dan lembut. Suara seperti ini tidak pernah didengar Adele sebelumnya.

"Oke, Papa belikan sekarang."

Suara langkah kaki mendekat ke arah sini.

Adele berbalik, lalu masuk ke tangga darurat dengan tergesa-gesa. Dia tidak berani naik lift karena takut bertemu mereka. Dia berpegangan pada pagar sambil menuruni tangga selangkah demi selangkah. Kakinya lemas sekali, perut bawahnya terasa nyeri samar.

Jadi, ternyata Ghava dan Renata memiliki seorang putra sebesar itu.

Jadi, ternyata Ghava bisa berbicara dengan nada selembut itu.

Sedangkan selama tujuh tahun pernikahan mereka, Ghava bahkan tidak pernah sekali pun merayakan ulang tahunnya.

Tahun pertama, Adele menunggu sampai tengah malam dan memasak semeja penuh makanan. Saat Ghava pulang larut malam dan melihat lampu ruang tamu masih menyala, pria itu hanya mengernyit lalu berkata, "Lain kali jangan tunggu aku. Tugasku banyak."

Tahun ketiga, dia demam hingga 39 derajat dan menelepon Ghava. Saat itu, Ghava berada di markas dan hanya berkata, "Cari dokter," lalu langsung menutup telepon.

Adele pergi sendiri naik taksi ke rumah sakit dan menjalani infus sampai tengah malam.

Hari itu saat perawat membantunya mencabut jarum infus, perawat itu berkata pelan, "Mana keluargamu? Kenapa membiarkanmu datang sendirian?"

Adele hanya tersenyum dan berkata tidak apa-apa, dia bisa sendiri. Dia selalu berpikir, seiring waktu semuanya akan membaik. Sifat Ghava memang dingin, tetapi di dalam hati Ghava pasti ada dirinya. Kalau tidak, untuk apa Ghava menikahinya?

Setiap kali, Adele selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa sifat Ghava memang dingin dan tidak pandai mengungkapkan perasaan. Berhubung Ghava bersedia menikahinya, setidaknya berarti di hatinya masih ada tempat untuk Adele.

Sampai akhirnya, Adele hamil. Dia pikir ini adalah titik balik. Dia pikir anak ini bisa mencairkan kecanggungan tujuh tahun di antara mereka.

Ternyata bukan.

Anak Renata sakit dan membutuhkan kecocokan darah tali pusar.

Dirinya ini hanyalah wadah, sedangkan anaknya hanyalah alat.

Dengan pikiran kosong, Adele pulang ke rumah.

Pukul tujuh malam, Ghava kembali. Saat melihat Adele duduk di sofa, langkahnya sempat terhenti sesaat. "Gimana hasil pemeriksaan hari ini?"

Adele mengangkat kepala dan menatap punggung tegap pria itu. "Ghava."

Pria itu berbalik.

"Kita cerai saja."

Udara mendadak hening selama beberapa detik.

Ghava meletakkan gelas airnya, lalu berjalan mendekatinya. Dia menatap Adele dari atas dengan alis sedikit berkerut. "Kali ini kamu bikin keributan apa lagi?"

"Aku nggak bikin keributan." Adele mengangkat kepala menatapnya. "Surat perjanjian cerainya sudah aku siapkan. Aku nggak menginginkan apa pun. Kamu hanya perlu tanda tangan."

"Alasannya?"

"Aku nggak ingin terus menjadi mesin melahirkan." Dia menatap lurus ke mata Ghava. "Aku juga nggak ingin terus menjadi obat penyelamat hidup anak Renata."

Ekspresi Ghava berubah. Garis rahangnya sempat menegang sesaat.

"Jadi kamu mendengarnya."

"Ya." Adele berdiri sehingga dia tidak perlu lagi mendongak menatap pria itu. "Aku mendengar anaknya memanggilmu Papa, mendengar kamu berkata menikahiku hanya karena tanggung jawab, mendengar kamu berkata ... satu-satunya orang yang kamu cintai adalah dia."

"Kalau begitu, kamu seharusnya tahu posisimu." Suara Ghava menjadi dingin. "Cerai itu nggak mungkin. Anak ini harus dilahirkan. Penyakit Marcel nggak bisa menunggu."

"Kalau aku nggak mau melahirkan?

"Kamu nggak punya pilihan." Ghava melangkah maju satu langkah, bayangannya menutupi tubuh Adele. "Adele, selama ini aku sudah membiayai hidupmu, memberimu kehidupan yang nyaman. Kamu harus tahu diri."

Tahu diri ... lagi-lagi kata itu.

Di tahun pertama pernikahan, Adele pernah mencoba membuat bekal, lalu mengantarkannya ke markas. Namun ketika rekan kerja Ghava melihatnya, malam harinya pria itu berkata kepadanya, "Jangan lakukan hal seperti itu lagi. Tahu dirilah sedikit, jangan merepotkanku."

Sejak saat itu, Adele tidak pernah lagi mengantar bekal. Dia pikir tahu diri berarti tidak mengganggu, tidak menuntut, dan diam-diam menunggu.

Baru sekarang dia mengerti. Tahu diri berarti patuh menjadi alat, menjadi pajangan tak terlihat seumur hidup.

"Aku ingin cerai." Adele mengulanginya sekali lagi, suaranya mulai bergetar.

Ghava menatapnya lama sekali. Tatapan itu seperti sedang memeriksa sebuah mesin rusak, penuh penilaian dingin dan ketidaksabaran. Pada akhirnya, dia berkata, "Emosi yang nggak stabil nggak bagus untuk janin. Pergilah istirahat. Besok juga kamu akan baik-baik saja."

Dia berbalik menuju ruang kerja, lalu menutup pintunya.

Adele berdiri terpaku di tempat sambil mendengarkan bunyi kunci yang terkunci pelan. Dia tahu, pria itu tidak akan pernah setuju.

Di mata Ghava, ini hanya salah satu ulahnya lagi, salah satu trik kecil untuk menarik perhatian.

Pria itu akan mendiamkannya selama beberapa hari sampai dia "tersadar sendiri", lalu semuanya akan kembali berjalan sesuai rencana. Melahirkan anak itu, mengambil darah tali pusarnya, lalu menyelamatkan putra Renata.

Lalu, bagaimana dengannya?

Tetap menjadi Nyonya Lunarda, melihat keluarga kecil mereka hidup bahagia, melihat anaknya sendiri diperlakukan seperti bagian dari perlengkapan medis?

Lampu ruang tamu memancarkan cahaya putih yang pucat.

Adele perlahan kembali ke kamar tidur, lalu membuka laci paling bawah di meja samping tempat tidur.

Di dalamnya ada sebuah dokumen.

Surat pemanggilan proyek rahasia dari Institut Riset Laut Dalam Nasional, sebuah tugas rekonstruksi dan pemeliharaan tertutup penuh selama tiga tahun di pangkalan laut dalam dengan lokasi yang dirahasiakan sepenuhnya. Selama masa tugas, seluruh kontak dengan dunia luar akan diputus.

Saat pertama kali menerima surat itu, reaksi pertamanya adalah menolak.

Dia sedang hamil. Dia ingin tetap berada di sisi Ghava dan melahirkan anak ini dengan baik.

Namun, sekarang Adele mengangkat dokumen itu, jemarinya mengusap lambang emas di sampulnya.

Kemudian, Adele mengambil ponsel dan menelepon nomor yang sudah disimpannya selama setengah bulan tetapi tidak pernah berani dia hubungi.

"Pak Rido." Suaranya begitu tenang sampai dia sendiri merasa terkejut. "Soal proyek 'Deep Blue', aku setuju untuk bergabung."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
20 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status