Tak lama kemudian, aku berbalik dan meninggalkan kediaman itu. Saat langit mulai gelap, ponselku akhirnya berdering. Stefano yang menelepon.“Vanessa, kenapa kamu tiba-tiba pergi? Tadi kamu mau bilang apa soal pernikahan?”Aku menatap lampu-lampu jalan di kejauhan. "Nggak jadi. Jaga saja Kiara. Dia sedang terluka,” jawabku pelan.Stefano terkekeh lembut. "Dia masih kesakitan, dari kecil memang selalu rapuh." Lalu, seolah baru teringat sesuatu, ia menambahkan, "Kamu tadi mau bahas soal pernikahan, kan? Biar Kiara saja yang urus. Dia berbakat dalam hal seperti ini. Dia pasti akan membuat pernikahan kita terlihat indah."“Tapi, aku ....” Belum sempat menyelesaikan kalimat, teleponnya sudah dimatikan. Sudahlah. Sebentar lagi dia juga akan tahu.Sepanjang sore, ponselku terus bergetar. Kiara tanpa henti mengirim foto ke grup keluarga.Foto-foto itu berisi foto Kiara yang mengenakan gaun putih, sementara Stefano berdiri di sampingnya dengan jas. Mereka saling tersenyum di tepi pantai Malakai
Magbasa pa