Aku gak jadi pulang. Livia pingsan di kantor. Aku antar dia dulu ke rumah sakit.Bela menghela napasnya panjang saat membaca pesan yang masuk di ponselnya. Livia. Lagi-lagi nama itu.Padahal hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Bella dan suaminya—Natan—yang kelima, tapi lagi-lagi sang suami lebih mementingkan wanita lain dibanding dirinya.Ibu jarinya memutih karena mencengkeram tepi ponsel terlalu kuat. Ia memejamkan mata sejenak, lalu memaksakan sebuah senyum tipis, saat rasa kecewa itu kembali datang."Mungkin memang kondisinya darurat," bisik Bella pada keheningan ruangan. Suaranya serak, memantul pelan di dinding-dinding tinggi rumah Andrexa. "Nathan cuma membantu staf."Ia meraih korek api, memantik api kecil, lalu menyalakan lilin di atas kue. Nyala api kekuningan itu bergoyang pelan, memantulkan bayangan wajahnya yang pucat.Bella memejamkan mata, menghirup udara lambat-lambat, lalu meniup lilin itu sendirian. Bersamaan dengan padamnya api, setitik air mata akhirnya lo
Última actualización : 2026-08-01 Leer más