LOGINBella rela mengorbankan karier dan mimpinya demi menjadi istri yang sempurna. Saat suaminya lebih memilih mempercayai wanita lain, Bella memutuskan pergi dan tanpa sengaja menemukan kebahagiaan bersama Aiden, pria yang diam-diam mencintainya selama bertahun-tahun. Ketika sang suami akhirnya menyesal dan memohon Bella kembali, semuanya sudah terlambat—karena kali ini, Bella benar-benar sudah bahagia.
View MoreTangan Bella bergetar tipis saat meletakkan layar ponsel pintarnya di atas meja kaca di hadapan Natan. Di atas layar yang terang, foto buram berlatar belakang restoran bernuansa remang itu terpampang nyata. Natan yang sedang tertawa sambil memegang gelas wine, duduk berhadapan dengan Livia.Natan melirik foto itu sejenak, lalu menarik cangkir kopinya tanpa sedikit pun rasa panik atau bersalah di wajahnya.Bahkan sebuah tawa renyah meluncur dari bibir pria itu."Ini yang bikin muka kamu ditekuk dari tadi pagi, Bella?" tanya Natan, suaranya dipenuhi nada meremehkan yang amat kental.Bella menatap suaminya lurus-lurus. "Kamu bilang ada rapat darurat luar kota, Mas. Tapi kamu malah makan malam berdua sama Livia di restoran mewah."Natan meletakkan cangkirnya kembali, menghembuskan napas kasar seolah sedang menghadapi anak kecil yang merepotkan. "Itu makan malam tim setelah rapat dengan klien selesai, Bella. Kebetulan tempat duduk yang tersisa di meja itu ya cuma di depan Livia. Satu mej
Suara dengung mesin pendingin ruangan dan gesekan sepatu berpadu riuh di lorong utama lantai lima gedung Andrexa Group. Bella berjalan perlahan menyusuri koridor marmer yang berkilau, memeluk tas kain berisi kotak bekal makan siang untuk suaminya, hidangan hangat yang ia masak sendiri sejak pagi. Setelah penemuan kotak anting-anting misterius di laci kerja Natan kemarin, Bella berniat memberi kejutan kecil, sebuah usaha terakhir untuk merajut kembali komunikasi mereka yang kian terkoyak.Namun, beberapa langkah sebelum mencapai belokan menuju pintu kantor CEO, langkah Bella mendadak mati.Dari celah dinding kaca yang sedikit terbuka, Bella melihat Livia melangkah pelan sambil memeluk setumpuk berkas tebal di dadanya. Wajah wanita itu tampak pucat, disapu riasan tipis yang memancarkan kesan lelah dan rentan. Saat berada tepat di depan pintu ruangan Natan, jemari Livia tampak melemah.Brak!Tumpukan kertas itu berserakan di atas lantai. Livia seketika berlutut, napasnya tersengal pel
Pagi berganti dengan cahaya samar yang menyusup di celah gorden. Mata Bella terasa berat dan sembap, tetapi kebiasaan selama lima tahun terakhir menggerakkan tubuhnya untuk bangkit lebih awal. Meski semalaman kepalanya dihantam gelisah dan aroma parfum asing di kerah jas Natan masih menempel di ingatannya, Bella tetap melangkah menuju dapur.Tiga puluh menit kemudian, dua porsi roti panggang, telur setengah matang, dan meja makan yang bersih sudah siap. Bella menata semuanya dengan rapi, berusaha mengubur puing-puing kekecewaan semalam.Suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah tangga. Natan turun dengan setelan jas abu-abu gelap yang rapi. Ia melangkah menuju meja makan tanpa sepatah kata pun menyapa, matanya tertuju penuh pada layar ponsel pintar di tangan kanannya.Bella menarik napas pelan, mendudukkan diri di seberang kursi Natan lalu menggeser secangkir kopi hitam panas ke depan suaminya."Mas… kita bisa bicara sebentar?" tanya Bella pelan. Suaranya halus, berusaha mene
Suara pintu utama yang tertutup rapat mengembalikan Bella ke dalam keheningan rumahnya yang dingin. Karbol rumah sakit masih tertinggal samar di ujung penciumannya, tetapi bau sup krim yang telah mendingin di meja makan langsung menyambutnya. Pukul satu dini hari. Bella melangkah ke ruang makan. Tiga hidangan yang ia siapkan sejak sore tadi masih tertata utuh di sana. Daging steak sudah mengeras, sementara lelehan lilin di atas kue cokelat kecil itu telah membeku, meninggalkan sisa benang hitam. Tanpa bersuara, Bella mengambil piring demi piring dan membuang semua masakannya ke dalam tempat sampah. Setiap kali makanan itu terhempas, ada rasa nyeri yang menjalar lambat di dadanya. Saat membersihkan meja kaca, pandangannya tersangkut pada bingkai foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding dekat bufet. Di foto itu, Natan tersenyum tipis, merangkul pinggangnya yang berbalut gaun putih. Bella menatap retakan halus di sudut kaca bingkai itu. Kapan reta
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.