Se connecterBella rela mengorbankan karier dan mimpinya demi menjadi istri yang sempurna. Saat suaminya lebih memilih mempercayai wanita lain, Bella memutuskan pergi dan tanpa sengaja menemukan kebahagiaan bersama Aiden, pria yang diam-diam mencintainya selama bertahun-tahun. Ketika sang suami akhirnya menyesal dan memohon Bella kembali, semuanya sudah terlambat—karena kali ini, Bella benar-benar sudah bahagia.
Voir plusAku gak jadi pulang. Livia pingsan di kantor. Aku antar dia dulu ke rumah sakit.
Bela menghela napasnya panjang saat membaca pesan yang masuk di ponselnya. Livia. Lagi-lagi nama itu. Padahal hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Bella dan suaminya—Natan—yang kelima, tapi lagi-lagi sang suami lebih mementingkan wanita lain dibanding dirinya. Ibu jarinya memutih karena mencengkeram tepi ponsel terlalu kuat. Ia memejamkan mata sejenak, lalu memaksakan sebuah senyum tipis, saat rasa kecewa itu kembali datang. "Mungkin memang kondisinya darurat," bisik Bella pada keheningan ruangan. Suaranya serak, memantul pelan di dinding-dinding tinggi rumah Andrexa. "Nathan cuma membantu staf." Ia meraih korek api, memantik api kecil, lalu menyalakan lilin di atas kue. Nyala api kekuningan itu bergoyang pelan, memantulkan bayangan wajahnya yang pucat. Bella memejamkan mata, menghirup udara lambat-lambat, lalu meniup lilin itu sendirian. Bersamaan dengan padamnya api, setitik air mata akhirnya lolos, menetes tepat di atas ukiran krim putih. Tiba-tiba, denting bel berbunyi dari pintu utama, mengejutkannya. Bella membeku. Jantungnya berdesir pelan, mungkinkah Natan berubah pikiran? Mungkinkah suaminya cuma sedang mengujinya? Bella buru-buru menyapu air mata di pipinya dengan punggung tangan. Ia merapikan gaunnya, mengulas senyum terbaik yang biasa ia tampilkan, lalu melangkah cepat menuju lorong depan. Pintu jati tebal itu ditariknya perlahan. Tetapi, bukan Natan yang berdiri di sana. Melainkan sosok seorang pria jangkung berjas hitam rapi berdiri di bawah sorot lampu teras. Bahunya yang lebar menutupi sebagian pemandangan jalanan di belakangnya. Raut wajahnya tenang, dengan sepasang mata tajam yang menatap Bella tanpa berkedip. "Aiden?" gumam Bella, suaranya tertahan di tenggorokan. Aiden William Wesley—kakak angkatnya Bella yang dulu pernah ditinggalkan—menatap mata Bella yang sedikit memerah. Tatapannya beralih tipis ke arah sudut bibir Bella yang dipaksa tersenyum. "Apa aku mengganggu?" tanya Aiden. Suaranya dalam dan berat, tidak ada intonasi terburu-buru. "Enggak, sama sekali enggak," sahut Bella cepat, membelalakkan mata agar sisa air matanya mengering. "Masuk, Ai. Di luar dingin." Aiden melangkah masuk, menyisakan jarak dua jengkal yang sangat sopan dari tubuh Bella. Langkah kakinya yang mantap terhenti begitu matanya menangkap meja makan di ruang tengah. Makanan yang tertata rapi, lilin yang baru saja padam, dan dua porsi steak yang mulai mendingin. Pandangan Aiden kembali pada Bella. Tidak ada pertanyaan liar yang keluar dari mulut pria itu, tetapi tatapannya menyiratkan pemahaman yang sempurna. Pria itu mengerti sepenuhnya apa yang baru saja terjadi. Aiden merogoh bagian dalam jasnya, mengeluarkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua. "Ini berkas balik nama aset peninggalan orang tua kamu," kata Aiden tenang, menyerahkan map itu ke tangan Bella. "Semua urusan notaris sudah selesai hari ini. Aku cuma mau memastikan ini sampai ke tangan kamu langsung." Bella menerima map itu, memeluknya di dada. "Makasih banyak ya, Ai. Harusnya kamu nggak perlu repot-repot datang malam-malam begini, kan bisa besok di kantor." "Kebetulan aku lewat daerah sini," alibi Aiden datar, padahal jarak kantornya di kawasan Sudirman sama sekali tidak sejalan dengan rumah ini. Bella mengangguk-angguk kecil, mencoba mengalihkan suasana. "Kamu sudah makan? Di meja ada sup krim jamur... aku baru aja bikin. Kalau kamu mau—" "Bella," potong Aiden pelan. Suara pria itu membuat kata-kata Bella terhenti di udara. Aiden tidak melihat ke arah meja makan lagi. Ia menatap Bella lurus-lurus. "Aku harus balik ke kantor. Masih ada rapat malam ini." "Oh... begitu ya? Ya sudah, hati-hati di jalan ya, Ai." Aiden berbalik menuju pintu, tetapi langkahnya tertahan tepat di lorong dekat bufet kaca. Matanya memiring sedikit, menangkap sebuah bingkai foto pernikahan Bella dan Natan yang terpajang di sana. Di sudut kaca bingkai itu, terdapat retakan tipis, seperti bekas benturan halus yang sengaja ditutupi, namun tetap menyisakan garis cacat yang nyata. Aiden memalingkan wajahnya kembali, lalu menoleh sedikit ke arah Bella yang berdiri di belakangnya. "Bella," panggil Aiden halus. "Ya?" "Kalau suatu hari kamu butuh seseorang untuk mendengar..." Aiden jeda sejenak, menatap lekat mata cokelat wanita itu. "Telepon aku. Kapan saja." Bella mematung di tempatnya. Senyum tipisnya kembali terukir, kali ini lebih tenang. "Makasih, Aiden. Tapi aku baik-baik saja. Natan cuma lagi ada urusan mendadak." Aiden tidak membantah. Ia hanya mengangguk tipis. "Aku jalan dulu." Pintu depan tertutup rapat, menyisakan helaan napas panjang Bella yang terdengar amat berat di koridor yang sepi. Bella melangkah kembali ke ruang makan. Ia mendudukkan dirinya di kursi yang sama. Tatapannya hampa, memperhatikan asap sup krim yang kini telah sepenuhnya menghilang, berganti dinginnya udara pendingin ruangan. Lilin di atas kue ulang tahunnya sudah berubah menjadi puing benang hitam yang mati. Drttt! Ponsel di atas meja bergetar pendek. Layarnya menyala, menampilkan pendar cahaya terang di tengah temaramnya ruangan. Foto profil Natan muncul di layar atas. Namun, bukan panggilan suara atau permintaan maaf yang datang. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk, melampirkan satu berkas foto. Dada Bella berdetak kencang secara tidak teratur. Jemarinya yang gemetar menyentuh layar, membuka foto mesra sang suami dengan wanita lain.Tangan Bella bergetar tipis saat meletakkan layar ponsel pintarnya di atas meja kaca di hadapan Natan. Di atas layar yang terang, foto buram berlatar belakang restoran bernuansa remang itu terpampang nyata. Natan yang sedang tertawa sambil memegang gelas wine, duduk berhadapan dengan Livia.Natan melirik foto itu sejenak, lalu menarik cangkir kopinya tanpa sedikit pun rasa panik atau bersalah di wajahnya.Bahkan sebuah tawa renyah meluncur dari bibir pria itu."Ini yang bikin muka kamu ditekuk dari tadi pagi, Bella?" tanya Natan, suaranya dipenuhi nada meremehkan yang amat kental.Bella menatap suaminya lurus-lurus. "Kamu bilang ada rapat darurat luar kota, Mas. Tapi kamu malah makan malam berdua sama Livia di restoran mewah."Natan meletakkan cangkirnya kembali, menghembuskan napas kasar seolah sedang menghadapi anak kecil yang merepotkan. "Itu makan malam tim setelah rapat dengan klien selesai, Bella. Kebetulan tempat duduk yang tersisa di meja itu ya cuma di depan Livia. Satu mej
Suara dengung mesin pendingin ruangan dan gesekan sepatu berpadu riuh di lorong utama lantai lima gedung Andrexa Group. Bella berjalan perlahan menyusuri koridor marmer yang berkilau, memeluk tas kain berisi kotak bekal makan siang untuk suaminya, hidangan hangat yang ia masak sendiri sejak pagi. Setelah penemuan kotak anting-anting misterius di laci kerja Natan kemarin, Bella berniat memberi kejutan kecil, sebuah usaha terakhir untuk merajut kembali komunikasi mereka yang kian terkoyak.Namun, beberapa langkah sebelum mencapai belokan menuju pintu kantor CEO, langkah Bella mendadak mati.Dari celah dinding kaca yang sedikit terbuka, Bella melihat Livia melangkah pelan sambil memeluk setumpuk berkas tebal di dadanya. Wajah wanita itu tampak pucat, disapu riasan tipis yang memancarkan kesan lelah dan rentan. Saat berada tepat di depan pintu ruangan Natan, jemari Livia tampak melemah.Brak!Tumpukan kertas itu berserakan di atas lantai. Livia seketika berlutut, napasnya tersengal pel
Pagi berganti dengan cahaya samar yang menyusup di celah gorden. Mata Bella terasa berat dan sembap, tetapi kebiasaan selama lima tahun terakhir menggerakkan tubuhnya untuk bangkit lebih awal. Meski semalaman kepalanya dihantam gelisah dan aroma parfum asing di kerah jas Natan masih menempel di ingatannya, Bella tetap melangkah menuju dapur.Tiga puluh menit kemudian, dua porsi roti panggang, telur setengah matang, dan meja makan yang bersih sudah siap. Bella menata semuanya dengan rapi, berusaha mengubur puing-puing kekecewaan semalam.Suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah tangga. Natan turun dengan setelan jas abu-abu gelap yang rapi. Ia melangkah menuju meja makan tanpa sepatah kata pun menyapa, matanya tertuju penuh pada layar ponsel pintar di tangan kanannya.Bella menarik napas pelan, mendudukkan diri di seberang kursi Natan lalu menggeser secangkir kopi hitam panas ke depan suaminya."Mas… kita bisa bicara sebentar?" tanya Bella pelan. Suaranya halus, berusaha mene
Suara pintu utama yang tertutup rapat mengembalikan Bella ke dalam keheningan rumahnya yang dingin. Karbol rumah sakit masih tertinggal samar di ujung penciumannya, tetapi bau sup krim yang telah mendingin di meja makan langsung menyambutnya. Pukul satu dini hari. Bella melangkah ke ruang makan. Tiga hidangan yang ia siapkan sejak sore tadi masih tertata utuh di sana. Daging steak sudah mengeras, sementara lelehan lilin di atas kue cokelat kecil itu telah membeku, meninggalkan sisa benang hitam. Tanpa bersuara, Bella mengambil piring demi piring dan membuang semua masakannya ke dalam tempat sampah. Setiap kali makanan itu terhempas, ada rasa nyeri yang menjalar lambat di dadanya. Saat membersihkan meja kaca, pandangannya tersangkut pada bingkai foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding dekat bufet. Di foto itu, Natan tersenyum tipis, merangkul pinggangnya yang berbalut gaun putih. Bella menatap retakan halus di sudut kaca bingkai itu. Kapan reta












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.