“Dik Nathan sudah pulang?”Diiringi batuk penuh dahak, suara yang tak asing itu terdengar oleh Nathan yang baru akan merapikan sayur untuk dijual di pasar esok pagi.“Eh, Nyonya Eleanor. Sedang apa Anda di sini?” Nathan segera menghampiri wanita tua di sana, berusaha memapahnya.Wanita tua itu, Eleanor, menolak dipapah, “Aku tidak apa-apa, Dik Nathan. Ini baru selesai menyusun berkas-berkas,” ujar pemimpin Edelweis Group itu.Nathan menelan ludah, “Nadia ... keluyuran lagi, ya?” tanyanya ragu-ragu.Eleanor mengibaskan tangan, menyanggah.“Aku menyuruhnya mengurus beberapa keperluan di luar. Kamu tahu sendiri aku sudah tidak bisa banyak aktivitas karena penyakit yang makin parah ini,” ujar Eleanor diiringi tawa.“Begitu, ya ....” Nathan mengembuskan napas, “Sebagai suami, seharusnya aku mengantarnya.”Ganti Eleanor yang mengembuskan napas, “Kamu sudah terlalu sibuk menemani para petani. Toh, kamu tidak pernah mau dibantu sebagai bentuk balas budiku hari itu.”Nathan tidak membalas, men
Terakhir Diperbarui : 2026-08-13 Baca selengkapnya