เข้าสู่ระบบNathaniel ‘Ejawantah’ Yudhatama, 30 tahun, seorang serabutan di pinggir kota. Istrinya menuntut cerai dan memilih menikah dengan sahabatnya sendiri. Nathan pun diusir dari rumah mertua tanpa membawa apapun. Karena terdesak keadaan, ia menghubungi orang kepercayaan dan memintanya untuk membuka kembali akun Bank Internasional di luar negeri. Ternyata Nathan adalah pebisnis sekaligus pewaris dengan kekayaan bersih mencapai ratusan triliun rupiah. Hari itu juga, datang 5 bibi yang cantik dan seksi menghampiri Nathan. Mereka membantu Nathan membalaskan dendam pada orang-orang yang telah meremehkannya.
ดูเพิ่มเติม“Dik Nathan sudah pulang?”
Diiringi batuk penuh dahak, suara yang tak asing itu terdengar oleh Nathan yang baru akan merapikan sayur untuk dijual di pasar esok pagi.
“Eh, Nyonya Eleanor. Sedang apa Anda di sini?” Nathan segera menghampiri wanita tua di sana, berusaha memapahnya.
Wanita tua itu, Eleanor, menolak dipapah, “Aku tidak apa-apa, Dik Nathan. Ini baru selesai menyusun berkas-berkas,” ujar pemimpin Edelweis Group itu.
Nathan menelan ludah, “Nadia ... keluyuran lagi, ya?” tanyanya ragu-ragu.
Eleanor mengibaskan tangan, menyanggah.
“Aku menyuruhnya mengurus beberapa keperluan di luar. Kamu tahu sendiri aku sudah tidak bisa banyak aktivitas karena penyakit yang makin parah ini,” ujar Eleanor diiringi tawa.
“Begitu, ya ....” Nathan mengembuskan napas, “Sebagai suami, seharusnya aku mengantarnya.”
Ganti Eleanor yang mengembuskan napas, “Kamu sudah terlalu sibuk menemani para petani. Toh, kamu tidak pernah mau dibantu sebagai bentuk balas budiku hari itu.”
Nathan tidak membalas, mengingat balas budi yang dimaksud Eleanor yang sudah berbalik.
“Yah, jujur saja, aku sangat berharap kamu bisa meneruskan Edelweis Group bersama Nadia, sih,” ujar Eleanor lagi, memecah lamunan Nathan.
Namun Nathan tetap tidak membalas, membiarkan Eleanor menengadah dalam diam.
“Aku tidur dulu, ya. Nanti kalau Nadia sudah pulang, buatkanlah dia makan malam. Setidaknya kamu bisa memanjakannya dengan masakanmu yang enak itu,” goda Eleanor seraya tertawa kecil.
Nathan akhirnya tersenyum, “Aku akan buatkan untuk Anda juga sebelum berangkat besok.”
Eleanor hanya tersenyum balik, lantas berlalu.
Suami Eleanor telah meninggal beberapa tahun lalu. Sejak itu, ia hanya tinggal bersama Nadia dan beberapa pelayan. Namun meski hanya berdua, mereka masih bisa mempertahankan Edelweis Group dengan baik hingga saat ini.
Yang hebat, Edelweis Group sendiri begitu terkenal di kancah nasional—dan perusahaan besar itu utamanya hanya dijalankan oleh Eleanor dan Nadia.
Namun lamunan Nathan di antara menata sayuran harus terhenti ketika deru mesin mobil terdengar dari halaman depan. Waktu ternyata berjalan cepat. Saat ini sudah pukul satu dini hari.
‘Siapa juga yang datang ke kediaman Keluarga Edelweis lepas tengah malam begini?’ pikir Nathan seraya mengendap-endap pergi ke halaman depan.
Benar saja, mobil yang kini sedang parkir di halaman depan tanpa mematikan mesin itu ialah Ferrari hitam mengkilap yang tak asing.
Perlu beberapa waktu hingga pintu mobil Ferrari hitam itu terbuka. Mengejutkannya, yang keluar dari sana adalah Nadia. Istri Nathan itu pun mengenakan pakaian yang cukup terbuka.
Nadia seakan pergi bukan untuk mengurus keperluan yang dimaksud Eleanor, melainkan hal lain yang lebih intim.
Nathan sampai menelan ludah melihat penampilan Nadia kala itu, menahan dadanya yang panas.
“Jumpa lagi, Kevin. Terima kasih, ya,” ujar Nadia diiringi lambaian mesra ke bagian dalam mobil.
Brum! Brum!
Bak sebuah balasan, siapa pun di dalam Ferrari hitam itu menggeber mesinnya lagi, memamerkan betapa menderunya suara kendaraannya.
Nadia pun membalas deru itu dengan menggeram menggoda sebelum akhirnya menutup pintu mobil.
Tak selang lama, Ferrari hitam mewah itu terpacu dan meninggalkan Nadia di halaman rumahnya, membuat wanita itu mengembuskan napas.
“Kamu pulang juga, Nadia,” seakan tidak mau membiarkan Nadia langsung beristirahat, Nathan menghampiri istrinya, berusaha menyambutnya.
Reaksi Nadia justru cemberut masam, bahkan menggertakkan gigi geram, “Apa maumu? Ganggu saja orang baru pulang!”
Nathan menahan napas. Bau alkohol tercium pekat dari mulut Nadia, “Maaf ... aku hanya ... aku akan memasak makan malam kesukaanmu dengan sayur yang baru panen. Kamu pasti lapar ...!”
Plak!
“Kubilang jangan ganggu! Dasar!” bentak Nadia lepas menampar wajah Nathan begitu keras, “Urus saja sayur-sayur baumu itu dan biarkan aku istirahat, Pengemis!”
Nathan mendengus, hilang kesabaran, “Begitu, ya. Kamu selelah itu setelah main dengan Kevin.”
Plak! Plak! Plak!
“Kurang ajar! Jangan coba-coba sebut namanya dengan mulut bau busukmu itu!”
Sembari berseru-seru, Nadia terus memukuli Nathan dengan tas jinjingnya yang mahal. Sarkasme Nathan yang tak sengaja lepas tampaknya cukup untuk membuatnya begitu emosi. Saking emosinya, Nadia bahkan tidak sadar sudah membeberkan sendiri kegiatannya sore tadi.
“Memangnya kau tahu apa?! Dia itu jauh lebih kaya darimu! Kau tidak akan pernah bisa sepertinya!! Lebih-lebih, dia begitu perkasa—tidak sepertimu yang lemas hanya dalam dua menit!!” seru Nadia sembari terus memukuli Nathan.
Greb!
Pukulan-pukulan Nadia terhenti begitu seruan barusan selesai. Nathan yang menghentikannya, menggenggam pergelangan istrinya kuat. Ia bahkan sempat membuat Nadia ketakutan.
“Apa ... yang sebenarnya baru kalian lakukan ...??” tanya Nathan dingin.
......
“Anda tahu sendiri bagaimana sifat lima wanita itu ketika menyangkut diri Anda,” suara Tsurugi masih terdengar dari ponsel Nathan.Nathan tertawa kecil mendapati kelima wanita kian mendekatinya, “Aku bisa melihatnya.”“Maafkan saya, Tuan Muda,” ujar Tsurugi lagi.“Tsurugi tidak berubah, ya. Selalu minta maaf,” ujar Nathan, “Tapi tidak apa-apa. Aku akan mengurus sisanya. Terima kasih,” ujarnya meyakinkan.“Kembali kasih, Tuan Muda. Saya akan menunggu Anda bersama Tuan Besar di rumah utama,” Tsurugi memutus panggilan dengan Nathan.Pas sekali Tsurugi menutup panggilan, kelima wanita yang tadi turun dari mobil dan berjalan mendekat akhirnya tiba di hadapan Nathan, berbaris dan menunduk dengan tangan di dada sekompak barisan parkir mobil masing-masing.“Kami datang untuk menjemput Anda, Tuan Muda Nathaniel,” ujar kelima wanita kompak.Nathan mengembuskan napas, “Kalian juga tidak berubah sama sekali,” ujarnya maklum.“Maaf lancang, tapi Anda salah jika beranggapan demikian, Tuan Muda.”N
Kevin tertawa cekikikan mendengar julukan Nathan kepadanya, “Lalu, apa yang kau lakukan di sekitar sini? Mengais rumput untuk dijual di pasar besok pagi?”“Bukan urusanmu,” balas Nathan singkat, lantas kembali berjalan menjauh.Semasa kuliah di ibukota dengan identitas yang disembunyikan, Kevin Pratama adalah sosok yang pernah menjadi sahabat Nathan. Sayang titel itu hanya topeng.Begitu tahu Nathan bukan siapa-siapa, Kevin jadi kerap merendahkan dan bahkan memperbudaknya.Namun Nathan memilih bertahan. Ia tidak bisa hanya mengandalkan reputasi yang tidak berhubungan dengan kuliah. Ia bahkan sampai mengganti namanya di dunia bisnis menjadi Count Ejawantah begitu tahu latar belakang Kevin.Iya, Kevin Pratama juga seorang pebisnis, pemula yang melejit karena bakat, keberuntungan, dan orang dalam.Pun tampaknya meski beberapa tahun berlalu, sikap Kevin terhadap Nathan tidak berubah.“Hei, aku sudah bilang soal sopan santun, kan? Jangan pergi saat diajak bicara, dong. Bisalah kita mengobr
“Jangan berani menampakkan diri Anda di sekitar sini lagi, Tuan Nathan. Ini perintah Nona Nadia.”Suara salah satu satpam terdengar mengancam. Nathan pun dilempar begitu saja ke luar kediaman Keluarga Edelweis malam itu. Resmilah Nathan kembali ke jalanan.Nathan pun kembali sendiri.Ia bahkan tidak membawa apa-apa.Lagi-lagi, Nathan tampaknya harus menerima fakta bahwa hanya Eleanor yang menerimanya di rumah keluarga itu.“Meski begitu, aku tidak akan diam saja setelah tahu ternyata kau berpura-pura di depan Nyonya Eleanor demi keegoisanmu, Nadia,” gerutu Nathan.Meski kesakitan, Nathan tetap memaksakan diri untuk menjauh dari kediaman Keluarga Edelweis.Rasanya Nathan terlalu lama bersabarIa sudah muak terlalu lama berada di sekitar rumah besar yang kini menjadi milik Nadia.Drrrtt! Drrrtt!!Namun belum lama Nathan melangkah menjauh, ponselnya bergetar terus menerus. Pikirannya yang sedang menyusun rencana balas dendam jadi terganggu. Maka ia pun merogoh saku dan bersiap meladeni s
[Rest in Peace, Eleanor Edelweis]Papan-papan dengan tulisan serupa menghiasi kediaman Keluarga Edelweis di pinggiran kota itu. Tamu-tamu berdatangan, termasuk para saudara jauh Eleanor. Mereka mengucap belasungkawa.Iya, malam lalu, Eleanor telah berpulang.Kejadiannya sendiri sangat cepat. Ketika Nadia mendatangi kamar sang ibu untuk memberitahukan kepulangannya dan hasil urusan yang diamanahi, ia mendapati napas Eleanor sudah putus-putus. Panik, ia pun membuat seluruh penghuni rumah membawa Eleanor ke rumah sakit terdekat.Sayangnya, begitu sampai di IGD, nyawa Eleanor sudah tidak bisa tertolong.Namun yang paling terpukul atas kejadian ini justru Nathan agaknya. Ia tertunduk diam selama upacara pemakaman. Bahkan saat dicaci oleh para saudara jauh Eleanor pun Nathan tetap terdiam.“Pengemis mengucap belasungkawa untuk saudari kami? Buat apa??”“Keluar sana, Rendahan!”“Satpam, jangan biarkan jasad mendiang saudari kami dinodai olehnya!!”Normalnya, Nathan akan mengeluarkan sarkasme






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.