Pukulan bertubi-tubi di dada Permaisuri terasa makin menyesakkan. Hentakan kakinya yang keras menggema di sepanjang koridor menuju Kediaman Keuangan Istana. Langkahnya begitu cepat, hingga tusuk konde berhias batu permata yang menyanggul rambut indahnya terlepas dan jatuh membentur marmer. Namun, ia tak memperdulikannya. Di dalam benaknya, hanya ada satu misi: menyelamatkan saudara kandungnya dari murka Raja.Begitu melintasi ambang pintu, mata Permaisuri menangkap pemandangan yang membuat dadanya bergemuruh. Saudaranya sang Kepala Keuangan sedang berlutut pasrah di hadapan Agus, menatapnya dengan pandangan memohon belas kasihan.Tanpa ragu, Permaisuri melangkah cepat, mengabaikan ujung gaun mewahnya yang menyapu lantai. Ia memegang kedua pundak saudaranya, mencoba mengangkat tubuh itu berdiri."Siapa yang memintamu berdiri?!"Suara berat Agus memotong udara seperti tebasan pedang. Permaisuri membeku. Pertanyaan itu bukan sekadar teuran, melainkan tamparan keras yang meruntuhkan harga
Última actualización : 2026-08-26 Leer más