INICIAR SESIÓNTerbangun sebagai Raja Reko sang pembantai lalim, Agus menolak menjadi iblis dan memilih mempertaruhkan nyawanya demi melindungi rakyat serta selir-selir yang hampir mati kelaparan. Namun di istana bernuansa emas ini, kebaikan adalah dosa yang paling mematikan yang mengundang pengkhianatan dari orang-orang kepercayaan. "Kalian membiarkan mereka membusuk dalam penderitaan, lalu menyebutku tiran saat aku mencoba menghentikan ?!" Sanggupkah Agus meruntuhkan dominasi Permaisuri yang licik sebelum racun dan konspirasi takhta membunuh untuk kedua kalinya?
Ver más"Paduka Reko! Hukuman mati untuk sepuluh tahanan siap dilaksanakan!"
Agus tersentak. Kepalanya berdenyut hebat seperti dihantam gada besi. Ia mengerjapkan mata, berusaha mengusir rasa pening yang mendera. Namun, pemandangan di hadapannya justru membuat jantungnya mencelos. Ia tidak lagi berada di kamar kos kekasihnya yang seorang komikus. Tidak ada lagi tumpukan kertas gambar atau komik terkutuk berwajah seram yang baru saja ia banting ke lantai karena kesal dengan karakter Rajanya yang kejam. Kini, Agus duduk di atas singgasana emas yang dingin. Di bawahnya, puluhan orang berpakaian kuno bersujud dengan tubuh bergetar. "Paduka... Anda sudah siuman?"bisik seorang pelayan wanita dengan suara tercekat, wajahnya pucat pasi. Agus menegang. Paduka Reko?Nama itu... Itu adalah nama Raja tiran di dalam komik yang baru saja ia baca! Belum sempat ia mencerna kegilaan ini, seorang pengawal berzirah besi melangkah maju, berlutut dengan pedang terhunus ke bawah. "Sepuluh tawanan yang mengkritik kepemimpinan Paduka dan Permaisuri telah dibawa ke ruang persidangan. Menunggu perintah Anda untuk dieksekusi." Napas Agus tertahan. Kilasan ingatan dari komik itu berputar di kepalanya—Raja Reko adalah pembantai berdarah dingin. Tanpa berpikir panjang, Agus bangkit berdiri. "Bawa aku ke tempat persidangan." Langkah kaki Agus menggema di koridor kasti yang dipenuhi ukiran klasik yang megah namun terasa mencekam. Setiap kali ia lewat, para pelayan dan prajurit langsung tiarap, membenamkan wajah mereka ke lantai seolah-olah menatap wajah Agus adalah sebuah dosa yang mencabut nyawa. Tiba-tiba, dari arah berlawanan, seorang anak kecil berlari panik hingga menumpahkan mangkuk air di dekat kaki Agus. Seorang wanita paruh baya ibunya langsung menjerit histeris. Dengan tubuh gemetar hebat, wanita itu memeluk putrinya dan bersujud berkali-kali hingga dahinya membentur lantai. "Ampun, Paduka! Ampun! Tolong jangan bunuh putri hamba!"ratap wanita itu, terisak hebat. Agus tertegun. Gila, sekejam apa Raja asli di tempat ini sampai rakyatnya ketakutan setengah mati hanya karena air yang tumpah? "Berdiri,"ujar Agus. Sadar suaranya terdengar terlalu tegas dan membentak, ia mencoba melunakkan tatapannya. "Jangan halangi jalanku. Bawa anakmu ke belakang, dia aman." Wanita itu tertegun, seolah baru saja mendengar singa yang mendadak berbicara bahasa manusia. Dengan tergesa-gesa, ia menggendong putrinya dan mundur ke sudut paling belakang ruangan. Agus melanjutkan langkahnya hingga tiba di kursi pengadilan. Di hadapannya, sepuluh orang dari satu keluarga dirantai dengan tubuh penuh memar dan pakaian koyak. Di sudut ruangan, seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun menangis tanpa suara, menatap ayahnya yang terikat. "Pemangku istana,"panggil Agus pada pria paruh baya di sampingnya. "Apa sebenarnya kesalahan mereka?" "Mereka... mereka telah keliru menyebarkan fitnah dan mengkritik kebijakan upeti Paduka serta Permaisuri, Penguasa Agung,"jawab pemangku istana dengan dahi berpeluh. "Silakan jatuhkan hukuman mati untuk mereka, Paduka." Agus mengepalkan tangannya di balik jubah. Mengkritik upeti dihukum mati? Ini bukan kerajaan, ini pembantaian legal. Agus bangkit dari duduknya. Seluruh ruangan seketika hening, menahan napas. Mereka bersiap melihat darah kembali tumpah di lantai marmer itu. Agus menatap tajam ke arah sepuluh tawanan, lalu mengalihkan pandangannya pada gadis kecil yang menangis. "Aku adalah Raja,"suara Agus menggelegar, mantap dan penuh penekanan. "Dan hari ini, aku memaafkan kalian. Bebaskan mereka semua! Hapus semua dakwaan!" Hening. Satu detik. Dua detik. Hingga kemudian, tangis haru pecah. Sepuluh tawanan itu bersujud sambil menangis histeris, tidak percaya mukjizat baru saja terjadi. Sorak-sorai pelan yang awalnya ragu, perlahan menjelma menjadi gemuruh kebahagiaan di ruang sidang. Para pengawal saling pandang dengan tatapan bingung. Apakah Raja sedang sakit jiwa?pikir mereka. Saat Agus berbalik untuk meninggalkan ruangan, sebuah tarikan lembut di ujung jubahnya membuat ia menoleh. Gadis kecil yang tadi menangis kini berdiri di hadapannya. Dengan tangan mungil yang gemetar namun penuh ketulusan, ia menyodorkan sebuah gelang manik-manik murahan. Agus berlutut, menyamakan tingginya dengan sang bocah. Ia menerima gelang itu dengan tenggorokan seolah tercekat. Senyuman tulus anak itu meruntuhkan sisa-sisa rasa takutnya berada di dunia asing ini.Bisikan di dalam kereta kuda yang melaju kencang itu menghantam kesadaran Permaisuri bak petir di siang bolong. Manisnya aroma kerinduan seketika menguap, berganti menjadi sensasi dingin yang menyergap dada. Kalimat pendek dari mulut pria bertopeng yang kini mendekapnya erat seolah meruntuhkan dinding istana yang selama ini menopangnya."Sayangku, apa maksudmu?" tanya Permaisuri, suaranya gemetar menahan getaran kepanikan yang tiba-tiba menguasai diri.Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Permaisuri, membisikkan sebuah rahasia besar yang sengaja dirancang untuk mengguncang fondasi kerajaan. Mata Permaisuri melebar, pupilnya bergetar hebat. Ia menatap wajah kekasihnya seolah tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar—sebuah pengakuan sekaligus intrik mematikan yang melibatkan nyawa Sang Raja dan takhta yang kini tak berpenghuni.Sementara itu, ketegangan melingkupi Balai Pengobatan Istana. Suasana mencekam menyelimuti ruangan bernuansa kayu tersebut. Pemangku istana berjalan mon
Rasa dingin yang membekukan darah mendadak menjalar ke seluruh tubuh Agus. Di tengah ruangan yang hening, pengawal istana mematung dengan cambuk masih melayang di udara. Tatapannya ragu, bergantian menatap Agus dan Permaisuri.Permaisuri berdiri tegak di depan saudaranya dengan dagu terangkat. Senyum tipis nan licik terkembang di bibir indahnya ketika melihat sang pengawal tak berkutik. Selama bertahun-tahun, cengkeraman pengaruh keluarganya telah mengakar hingga ke sumsum tulang para prajurit. Bagi mereka, membangkang perintah Permaisuri sama saja dengan menjemput maut."Pengawal! Kenapa kau tidak mematuhi perintahku?!" bentak Agus, dadanya bergemuruh menahan amarah yang meluap.Pengawal itu seketika menjatuhkan diri, berlutut gemetar di atas marmer. "A-ampun, Paduka Raja! Hamba... hamba bingung harus mematuhi perintah siapa. Paduka atau Yang Mulia Permaisuri..."Kata-kata itu merobek harga diri Agus bagai sembilu. Di atas kertas ia adalah penguasa tertinggi, namun kekuasaannya diger
Pukulan bertubi-tubi di dada Permaisuri terasa makin menyesakkan. Hentakan kakinya yang keras menggema di sepanjang koridor menuju Kediaman Keuangan Istana. Langkahnya begitu cepat, hingga tusuk konde berhias batu permata yang menyanggul rambut indahnya terlepas dan jatuh membentur marmer. Namun, ia tak memperdulikannya. Di dalam benaknya, hanya ada satu misi: menyelamatkan saudara kandungnya dari murka Raja.Begitu melintasi ambang pintu, mata Permaisuri menangkap pemandangan yang membuat dadanya bergemuruh. Saudaranya sang Kepala Keuangan sedang berlutut pasrah di hadapan Agus, menatapnya dengan pandangan memohon belas kasihan.Tanpa ragu, Permaisuri melangkah cepat, mengabaikan ujung gaun mewahnya yang menyapu lantai. Ia memegang kedua pundak saudaranya, mencoba mengangkat tubuh itu berdiri."Siapa yang memintamu berdiri?!"Suara berat Agus memotong udara seperti tebasan pedang. Permaisuri membeku. Pertanyaan itu bukan sekadar teuran, melainkan tamparan keras yang meruntuhkan harga
Mata sang Permaisuri membeku. Jemari lentiknya yang hendak memetik sekuntum bunga mawar merah mendadak berhenti di udara. Berita yang baru saja diantarkan oleh staf keuangan yang merayap ketakutan di kakinya bukan sekadar gangguan kecil—ini adalah deklarasi perang terbuka dari sang Raja. Aroma mawar yang lembut di taman istana seketika menguap, berganti aura tegang yang mencekam. Para dayang yang mengiringi Permaisuri merapat ketakutan, menahan napas menyaksikan raut pualam junjungan mereka perlahan berubah menjadi topeng kemarahan yang amat pekat. "Mengobrak-abrik?" bisik Permaisuri, suaranya tenang namun begitu dingin menembus tulang. "Paduka Raja berani menyentuh Wilayah Keuangan Istana... tanpa izin dariku?" "B-benar, Yang Mulia Permaisuri!" jawab staf itu dengan suara gemetar hebat, dahinya menempel rapat di atas tanah. "Beliau menampar Kepala Keuangan, menyita seluruh berkas pembukuan, dan hendak menyeret semuanya ke Pusat Hukum!" Di saat yang sama, di dalam kediaman keuanga












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.