“Kalau kalian menyentuh Ibu, aku akan datang ke sana dan memastikan kalian menyesal.”Nadira mencengkeram ponselnya sampai telapak tangannya sakit. Dari seberang, terdengar napas ibunya yang tertahan, lalu suara benda diseret. Sambungan itu masih aktif, tetapi tidak ada yang menjawab. Arsen mengangkat telunjuk ke bibir, meminta Nadira tetap diam sambil meraih ponselnya sendiri.“Siapa pun kamu, dengarkan,” kata Arsen, suaranya rendah dan terkendali. “Kalau kamu ingin bertemu denganku, jangan libatkan dia.”Tawa pendek terdengar dari telepon. “Kau masih suka mengatur keadaan, Arsen. Datang ke Dermaga Sembilan. Sendirian.”“Biarkan ibu Nadira pergi.”“Bawa Nadira bersamamu, atau ibunya tidak akan pulang.”Nadira merasakan tengkuknya menegang. Arsen menatapnya sejenak, lalu memberi isyarat agar ia tidak menyahut. Namun, ia tak sanggup membiarkan pria itu mengambil alih percakapan seperti semua hal lain dalam hidupnya.“Aku ikut,” katanya keras. “Pastikan Ibu tetap hidup.”Hening sejenak.
Huling Na-update : 2026-10-22 Magbasa pa