Dicintai Ugal - Ugalan Oleh Cowok Posesif

Dicintai Ugal - Ugalan Oleh Cowok Posesif

last updateLast Updated : 2026-10-22
By:  qiaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
14views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat Nadira akhirnya berani mencintai lagi, ia mengetahui bahwa Arsen telah mengatur pertemuan, pekerjaan, bahkan rumah barunya demi melindunginya dari orang-orang di balik kematian kakaknya. Pria yang menyembuhkan luka pengkhianatannya ternyata memberinya cinta yang lahir dari kebohongan baru.

View More

Chapter 1

Bab 1 : Tetangga Nomor 17

"Truknya nggak bisa masuk, Mbak. Mobil hitam itu nutup setengah jalan," keluh sopir truk sewaan itu seraya mengusap peluh di lehernya dengan handuk kecil.

Nadira Maheswari mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan rasa pening yang sejak tadi berdenyut di pelipisnya. Ia menatap kendaraan SUV hitam yang terparkir seenaknya memakan separuh jalan akses, lalu memeriksa alamat pada layar ponselnya untuk ketiga kalinya.

Nomor 16. Rumah bercat putih pudar dengan pagar besi pendek dan halaman yang nyatanya jauh lebih sempit daripada foto iklan yang ia lihat di internet.

Belum genap satu menit ia tiba di kota baru ini demi mencari ketenangan, seseorang sudah berhasil memancing emosinya.

"Bisa ditunggu sebentar, Pak?" pinta Nadira, memaksakan seulas senyum tipis. "Biar saya coba panggil pemilik mobilnya dulu."

Sopir truk itu menggeleng tegas, menunjuk ke arah bodi kendaraannya. "Kalau dipaksa lewat, sisi truk saya bisa baret kena pagar rumah orang. Mending pemilik mobilnya disuruh pindah dulu, Mbak," gerutunya tak sabar.

Mau tidak mau, Nadira melangkah ke arah rumah sebelah. Ia melirik rumah bernomor 17 itu dengan kening berkerut. Semua tirai jendelanya tertutup rapat berlapis-lapis, seolah rumah itu tak berpenghuni, padahal matahari masih bersinar sangat terik pada pukul tiga sore. Sebuah pot tanaman keramik yang cukup tinggi berdiri angkuh di samping pintu, seakan sengaja diletakkan di sana sebagai barikade untuk memberi tahu tamu bahwa mereka sama sekali tidak diharapkan datang.

"Bagus," gumam Nadira sinis, menyeka keringat di dahinya. "Tetangga pertama yang sangat menyenangkan."

Dengan langkah pasti, ia menekan bel rumah nomor 17. Hening. Tidak ada suara langkah kaki dari dalam. Nadira menunggu beberapa detik sebelum kembali menekan bel, kali ini menahan telunjuknya di sana lebih lama.

Baru saja ia hendak menekan untuk ketiga kalinya, pintu kayu jati itu tersentak terbuka.

"Belnya tidak rusak." Suara bariton yang berat dan dingin itu terdengar sebelum Nadira sempat menurunkan tangannya.

Nadira menahan jarinya di udara, sedikit terkejut. Seorang pria berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan raut wajah tanpa ekspresi. Pria itu hanya mengenakan kaus abu-abu sederhana dan celana panjang hitam, seolah ia baru saja menghentikan sebuah pekerjaan penting hanya untuk menghadapi gangguan yang sangat tidak berarti. Wajahnya kaku, tetapi tatapan matanya yang setajam elang menelusuri Nadira dari atas ke bawah, membuat perempuan itu merasa seolah sedang menjalani interogasi.

Menolak terintimidasi, Nadira melipat tangan di depan dada. "Mobil hitam di luar itu punya kamu?"

Pria itu membalas tatapannya tanpa berkedip sedikit pun. "Kalau saya bilang bukan, apa kamu akan pergi dari depan pintu saya?"

"Kalau kamu bilang bukan, aku bakal cari pemiliknya sampai ketemu. Tapi kalau itu punyamu, tolong pindahkan sekarang." Nadira menunjuk dengan dagunya ke arah jalan. "Truk pindahanku nggak bisa masuk."

Pria itu melongok sedikit, melirik truk kuning di belakang Nadira dengan pandangan malas. "Truk itu akan menghalangi jalan keluar saya," tukasnya pelan.

"Dan mobilmu sudah menghalangi jalan masukku," balas Nadira tak mau kalah.

"Itu bukan jalan masuk." Pria itu menyandarkan sebelah bahunya di kusen pintu, tampak sama sekali tidak peduli.

Habis kesabaran, Nadira menunjuk rumah mungil bernomor 16 dengan tegas. "Dengar ya, Mas. Aku tinggal di sana, dan aku butuh truk itu masuk sekarang."

Untuk pertama kalinya, ada pergeseran emosi di wajah pria itu. Hanya sedikit, tetapi Nadira bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang pria itu mengeras.

"Rumah itu disewakan?" tanyanya, nada suaranya berubah lebih rendah.

Nadira mendengus pelan, merasa pertanyaannya konyol. "Sepertinya begitu. Aku sudah bayar lunas untuk enam bulan ke depan."

"Batalkan."

Kening Nadira berkerut tajam. Ia nyaris tertawa saking tidak percayanya. "Apa kamu bilang?"

"Cari rumah lain." Pria itu berkata datar, seolah ia sedang memberi instruksi sederhana yang tak boleh dibantah.

"Terima kasih atas sambutan dan saran luar biasamu," desis Nadira sinis, "tapi aku nggak meminta rekomendasi tempat tinggal dari orang asing."

Pria itu mengembuskan napas pendek, lalu merogoh saku celananya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Kunci mobil berputar sekali di jari telunjuknya sebelum ia melangkah keluar, berjalan melewati Nadira begitu saja dengan aroma maskulin yang tertinggal di udara.

"Tunggu, nama kamu siapa?" kejar Nadira, memutar tubuhnya.

Langkah pria itu terhenti di samping mobil. "Kenapa?"

"Supaya aku tahu harus ngadu ke siapa kalau besok-besok mobil itu masih menghalangi jalan." Nadira menatapnya menantang.

Pria itu membuka pintu kemudi, menopangkan satu lengannya di atap mobil, lalu menatap Nadira dari seberang kendaraan. "Arsen."

"Aku Nadira."

"Saya tahu."

Jantung Nadira seakan melompat satu ketukan. Gerakannya terhenti. "Tahu dari mana?"

"Bu Mira memberi tahu ada penyewa baru bernama Nadira." Arsen menjawab dengan tenang.

Jawaban itu memang terdengar sangat masuk akal, tetapi insting Nadira menangkap sesuatu yang ganjil. Ia tidak menyukai jeda singkat sebelum Arsen mengucapkan kalimat tersebut.

Tanpa membuang waktu lagi, Arsen menghidupkan mesin dan memundurkan mobilnya tanpa menjelaskan apa pun. Saat truk akhirnya bisa masuk ke pelataran, Arsen tidak kembali ke dalam rumahnya. Pria itu justru berdiri bersandar di pilar teras, memperhatikan para kuli pangkut yang mulai menurunkan kardus satu per satu dengan tatapan mengawasi yang membuat Nadira risi.

"Kalau cuma mau nonton dan nggak niat bantu, jangan berdiri di situ," sindir Nadira sambil mengangkat satu kardus kecil. "Bikin sumpek."

"Saya sedang memastikan mereka tidak merusak tanaman saya." Arsen menunjuk pot tingginya dengan dagu.

Seolah ucapan Arsen adalah sebuah kutukan, bagian ujung kardus besar yang dibawa pekerja menyenggol keras pot keramik di dekat pintu. Pot itu oleng. Namun, dengan refleks yang luar biasa cepat, Arsen melangkah maju dan menangkap benda berat itu sebelum menghantam lantai.

Tanah hitam tumpah mengenai sepatu ketsnya, tetapi perhatian pria itu justru tidak tertuju pada kotoran di kakinya. Mata Arsen terpaku pada sebuah bingkai foto yang terlepas jatuh dari dalam kardus yang dibawa Nadira.

Dada Nadira berdesir panik. Ia segera meletakkan kardusnya dan merampas foto itu dari lantai. "Jangan sentuh barangku," desisnya posesif.

"Saya menyelamatkannya," sahut Arsen tenang, matanya masih tak lepas dari bingkai di tangan Nadira.

"Sama seperti kamu menyuruhku membatalkan rumah yang sudah kubayar lunas? Maaf kalau aku sulit melihat niat baikmu."

Tatapan Arsen jatuh pada foto di balik kaca bingkai yang kini didekap Nadira. Dalam gambar tersebut, Nadira tersenyum lebar berdiri di sebelah kakaknya yang mengenakan toga. Itu adalah foto kelulusan—foto terakhir mereka sebelum sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa lelaki itu enam tahun yang lalu.

Mata Arsen menyipit perlahan. Udara di sekitar mereka mendadak terasa lebih berat. "Kardus itu sebaiknya dibawa sendiri," katanya dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan.

Nadira merapatkan dekapannya pada bingkai tersebut. "Aku nggak butuh instruksi darimu."

"Itu bukan instruksi." Arsen mundur selangkah, menatap tepat ke manik mata Nadira. "Itu peringatan."

Tanpa menunggu balasan, Arsen berbalik masuk ke rumahnya dan menutup pintu rapat-rapat. Nadira berdiri mematung selama beberapa detik di halaman, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman yang tiba-tiba merayap di tengkuknya. Ia datang ke kota ini untuk memulai ulang hidupnya, melarikan diri dari masa lalu, bukan untuk mencari masalah baru dengan lelaki asing yang bersikap sok misterius.

Menjelang malam, ruang tamu masih dipenuhi tumpukan kardus. Nadira sedang membuka isolasi kardus pakaian ketika ponselnya bergetar panjang. Nama mantan tunangannya berkedip di layar.

Rasa mual seketika mengaduk perutnya. Nadira membiarkan ponsel itu berdering hingga mati sendiri, tetapi panggilan kedua langsung menyusul dengan gigih.

Dengan kasar, ia menggeser tombol hijau. "Apa?" jawabnya dingin.

"Kamu di mana, Ra?" Suara pria di seberang sana terdengar panik.

"Bukan urusanmu."

"Aku datang ke apartemenmu, tapi kosong. Barang-barangmu hilang semua."

Nadira mendengus meremehkan. "Hebat. Setidaknya penglihatanmu masih berfungsi dengan baik."

"Nadira, please. Kita perlu bicara."

"Kita sudah bicara, tepat di detik aku menemukan kamu di atas ranjang bersama sahabatku sendiri." Suara Nadira bergetar oleh amarah yang belum sepenuhnya padam.

"Itu... itu cuma kesalahan, Ra. Kekhilafan."

"Kesalahan?" Nadira tertawa hambar. "Kalian bahkan sempat memesan makanan lewat ojek online setelahnya. Kedengarannya cukup terencana untuk sebuah kekhilafan."

Suara di seberang menghilang selama beberapa detik. Tanpa menunggu pria brengsek itu menyusun kebohongan baru, Nadira menekan tombol merah dengan tenaga berlebih.

Tangannya gemetar hebat saat meletakkan ponsel ke atas meja. Matanya memanas, tetapi ia menolak menangis. Air mata tidak akan memasangkan tirai jendelanya, tidak akan merapikan pakaiannya, dan jelas tidak akan mengembalikan hidupnya yang hancur dalam sebulan terakhir. Ia kembali melanjutkan membongkar kardus dengan gerakan kasar.

Pukul 23.55. Nadira baru saja mengikat rambutnya yang berantakan dan bersiap mematikan lampu ruang tamu ketika ponselnya berdenting. Sebuah pesan singkat dari Bu Mira.

[Satu hal yang lupa Ibu sampaikan tadi siang, Nak. Jangan pernah mengetuk pintu rumah nomor 17 setelah pukul dua belas malam.]

Nadira menatap deretan kalimat di layar itu dengan kening berlipat, lalu melirik jam digital di sudut ponselnya.

23.59.

"Memangnya kenapa? Dia berubah jadi vampir?" bisiknya sarkas.

Tepat saat angka di layar berubah menjadi 00.00, terdengar bunyi klik yang keras dari arah meteran listrik. Lampu ruang tamu, dapur, hingga kamar mandi padam seketika. Gelap gulita.

Nadira tersentak mundur. Jantungnya berdebar kencang. Ia meraba-raba mencari dinding, pandangannya terarah ke luar jendela. Anehnya, rumah nomor 17 masih terang benderang di balik tirainya.

Baru saja ia melangkah mendekati jendela untuk memeriksa kondisi luar, ponsel di genggamannya kembali bergetar. Kali ini, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan di kontaknya.

Jangan berdiri di depan jendela.

Langkah Nadira membeku di tempat. Tubuhnya mendadak kaku. Pesan kedua masuk sebelum otaknya sempat mencerna apa yang terjadi.

Matikan layar ponselmu. Sekarang.

Dengan napas tertahan, ia mundur perlahan ke sudut yang tak terjangkau pandangan dari luar, lalu mengetik balasan dengan jari yang mulai sedingin es.

Siapa ini?

Jawabannya muncul dalam hitungan detik.

Arsen.

Nadira menelan ludah. Ia memandang rumah nomor 17 melalui celah kecil tirainya yang terbuka.

Bagaimana kamu bisa dapat nomorku?

Tiga titik animasi mengetik muncul di layar. Hilang. Lalu muncul lagi.

Saya akan menjelaskannya nanti. Masuk ke kamar dan kunci pintunya rapat-rapat.

Nadira mengetik dengan frustrasi. [Kenapa?!]

Seiring pesannya terkirim, sudut mata Nadira menangkap sebuah pergerakan di luar sana. Sebuah mobil perlahan berhenti di ujung jalan yang remang. Lampu utamanya dimatikan. Di balik kemudi, siluet seorang pria terlihat duduk diam, menghadapkan kendaraannya tepat ke arah rumah nomor 16.

Pesan terakhir Arsen masuk, membuat seluruh tenaga di lutut Nadira menguap tak bersisa.

Karena lelaki di luar itu mengikuti kamu sampai ke sini.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status