Aku terkulai lemas di lantai dan perlahan-lahan kehilangan kesadaran. Dalam kesadaran yang samar, aku merasa seolah telah kembali ke masa-masa awal pernikahan kami.Dulu, hati dan perhatian Adika hanya tertuju padaku. Dia menyematkan bunga di rambutku dan merias alisku. Setiap kali ibu mertuaku mempersulitku, dia selalu mengadang di depanku, meyakinkanku bahwa aku tidak perlu takut pada siapa pun. Aku tak pernah meragukan ketulusan hatinya.Namun, ketulusan memang bisa berubah dalam sekejap mata.Saat terbangun, wajahku dibasahi oleh air mata, tetapi hatiku terasa luar biasa tenang, bagaikan air yang tak lagi beriak. Di genggamanku, masih terdapat jimat jodoh itu. Aku bangkit dan membuka kotak riasku. Di dalamnya, tergeletak kuas yang dulu dia gunakan ketika melukis alisku untuk yang pertama kalinya. Di samping kuas itu, terdapat tusuk konde kayu yang dia ukir sendiri untukku.Hanya akan memiliki seorang istri seumur hidup? Kini, janji itu terasa sangat ironis.Aku mengumpulkan semua
Leer más