Short
Saat Salju Turun, Kebencianku pun Berakhir

Saat Salju Turun, Kebencianku pun Berakhir

By:  DenseerKumpleto
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Mga Kabanata
88views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Setelah seluruh keluargaku dihukum mati dengan cara mengenaskan, aku berubah menjadi istri yang bijaksana dan pengertian di mata Adika Suryadi. Aku tak lagi menanyakan ke mana dia pergi, juga tak lagi menuntut dengan histeris agar dia mengusir istri mendiang kakaknya, Elyani Lukardi. Ketika Adika mengutarakan niatnya untuk bertanggung jawab atas kedua keluarga dan menikahi kakak iparnya, aku juga mengangguk setuju dengan tenang. Pada hari pernikahan Adika dan Elyani, setelah menerima secangkir teh dari Elyani, aku tersenyum dan menyerahkan sebuah jimat jodoh kepadanya. Tiba-tiba, Adika mencengkeram leherku dan meraung murka, "Rania Kuncoro, kamu tahu betul jimat ini kudapatkan dengan bersujud sepanjang perjalanan demi memohonkannya untukmu. Kenapa kamu malah berikan pada orang lain? Apa kamu masih salahkan aku karena aku menolak selamatkan ayah dan kakakmu? Ini caramu menghukumku? Sampai kapan kamu mau terus buat masalah?" Matanya dipenuhi rasa sakit hati, tetapi aku hanya tersenyum tenang. Jelas-jelas, dia yang menggunakan nyawa seluruh keluargaku untuk memaksaku tunduk. Aku hanya melakukan apa yang dia inginkan. Namun, Adika tidak tahu bahwa aku sedang menunggu. Saat ini, jasad seluruh anggota Keluarga Kuncoro sedang digantung di gerbang kota sebagai tontonan. Tiga hari lagi, aku bisa mengambil jasad mereka. Pada hari itu, aku juga akan berkumpul kembali dengan ayah dan kakakku yang mati difitnah.

view more

Kabanata 1

Bab 1

Cengkeraman Adika begitu kuat hingga rasa amis darah memenuhi tenggorokanku. Tubuhku gemetar karena menahan sakit, tetapi aku hanya memejamkan mata tanpa melawan. Setelah melihat darah mulai mengalir dari sudut bibirku, dia baru melepaskanku.

Mata Adika sangat merah. Suaranya dipenuhi rasa sakit hati.

"Nia, aku mau bertanggung jawab atas kedua keluarga semata-mata agar Kakak Ipar lahirkan seorang pewaris sah! Jangan khawatir, meski kalian berdua sama-sama menyandang status sebagai istri utama, aku tidak akan biarkan kedudukannya lebih tinggi dari kamu."

"Di rumah ini, kamu akan jadi istri utama dan dia jadi istri kedua. Aku janji padamu. Begitu dia mengandung, aku tidak akan pernah lagi injakkan kaki di kamarnya. Bagaimana menurutmu?"

Adika menatapku dengan penuh harap. Namun, aku hanya merasa menyesal. Sedikit saja lagi, dia bisa mematahkan leherku. Dengan begitu, keinginanku akhirnya akan terkabul. Aku bisa bersatu kembali dengan ayah dan kakakku yang mati mengenaskan.

Mungkin karena tersinggung oleh sikapku yang acuh, ekspresi Adika tiba-tiba berubah menjadi dingin.

"Rania, berapa kali aku harus mengatakannya agar kamu mengerti? Ayah dan kakakmu sudah melakukan kejahatan besar karena bersekongkol dengan musuh dan mengkhianati negeri. Meski aku bersedia turun tangan, aku juga tidak akan bisa selamatkan mereka!"

"Aku tahu kamu salahkan aku karena hal itu, tapi aku sudah berusaha yang terbaik untuk jaga martabatmu. Kamu mau ribut sampai kapan baru puas? Kita itu teman sejak kecil. Pernikahan kita juga dilandasi cinta yang mendalam dan tulus. Apa kamu benar-benar mau hancurkan semuanya?"

Aku menyeka darah dari sudut bibirku. Senyum sinis tersungging di wajahku. Meskipun kami adalah teman sejak kecil, aku masih tak mampu menandingi kakak iparnya yang baru menjanda. Dia mengatakan cinta kami mendalam dan tulus, tetapi tetap berpangku tangan saat seluruh keluargaku difitnah dan dibantai.

Adika memang telah memberiku kehormatan yang layak. Dengan maskawin melimpah dan iring-iringan pengantin yang meriah, aku menikah dengannya, pewaris Keluarga Bangsawan Agung Suryadi, dengan penuh kemegahan.

Di malam pertama kami, Adika memelukku dengan tangan gemetar dan bersumpah bahwa dia hanya akan memiliki satu istri sepanjang hidupnya. Namun, baru dua tahun menikah, dia juga yang mulai terus-menerus memihak istri mendiang kakaknya.

Awalnya, aku mengira Adika begitu perhatian kepada Elyani karena iba pada nasibnya. Kemudian, aku tidak sengaja memergoki mereka sedang melakukan hal tak senonoh di kamar Elyani. Aku langsung masuk ke kamar itu tanpa pikir panjang dan menampar wajah Elyani dengan kuat.

Melihat wajah Elyani yang bengkak dan merah, Adika pun murka. Dia menendangku hingga aku tersungkur di lantai, lalu mendekap Elyani dengan penuh kesedihan. Namun, saat menatapku, tatapannya terlihat sedingin es.

"Rania, dengan sifat pencemburu seperti itu, bagaimana mungkin kamu bisa jadi Nyonya Utama di kediaman ini!"

Meskipun mulutku penuh dengan darah, aku tetap menggertakkan gigi dengan marah.

"Adika, kamu yang melakukan perbuatan tak tahu malu dengan istri mendiang kakakmu! Apa kamu tidak malu mengataiku punya sifat pencemburu?"

Adika hanya melirikku dengan acuh tak acuh. "Rania, sudah lumrah bagi pria untuk punya banyak istri. Lagi pula, aku tak pernah berniat mengambil selir. Aku hanya mau berikan anak kepada Kakak Ipar demi menjamin masa depannya. Apa salahnya itu?"

Setiap kata terasa bagaikan belati yang menghunjam jantungku. Dengan tubuh gemetar menahan amarah, aku kembali ke kamarku. Aku menggigit jariku, lalu menulis surat menggunakan darah, berharap ayah dan kakakku akan menuntut keadilan bagiku.

Namun, keadilan yang kuharapkan tak pernah datang. Sebaliknya, aku justru mendengar kabar bahwa mereka telah difitnah dan dipenjarakan.

Malam sebelum eksekusi mereka, aku berlutut di depan pintu kamar Elyani dan bersujud berulang kali. Aku menangis dan memohon hingga suaraku serak agar Adika menyelamatkan nyawa mereka. Akan tetapi, satu-satunya tanggapan yang kudapatkan hanyalah suara kemesraan mereka yang tanpa sungkan sedikit pun.

Setelah dahiku berlumuran darah, Adika akhirnya muncul di hadapanku sambil memeluk Elyani. Dia menatapku dengan sorot mata penuh ejekan.

"Nia, dulu, kamu itu putri sah keluarga jenderal yang boleh bersikap keras kepala dan semena-mena. Sekarang, kamu hanyalah putri dari seorang pejabat yang bersalah! Mungkin ini yang terbaik. Setidaknya, kamu tak bisa lagi pakai statusmu untuk menindas dan mempermalukan Kakak Ipar!"

Tanpa peduli pada tangisanku, Adika memerintahkan anak buahnya untuk membuatku pingsan dan membawaku kembali ke kamar. Saat aku sadar kembali, hari sudah terang.

Aku berlari sempoyongan menuju tempat eksekusi. Namun, yang kulihat hanyalah potongan daging yang berserakan di lantai. Seluruh anggota Keluarga Kuncoro telah dihukum mati dengan tubuh disayat sedikit demi sedikit.

Setelah hari itu, jiwaku sudah hancur. Seperti keinginan Adika, aku berubah menjadi orang yang bijaksana dan penurut. Dia mungkin tak pernah membayangkan bahwa diriku yang sekarang hanya ingin mati.

Tiga hari lagi, aku bisa pergi mengumpulkan jasad anggota Keluarga Kuncoro. Begitu ayah dan kakakku dimakamkan, aku akan menghilang dari kehidupan Adika untuk selamanya.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
8 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status