Tekanan mental yang bertubi-tubi membuat pandangan Zanaya mendadak berkunang-kunang di tengah penjelasan garis besar materi yang Bisma bacakan.Sampai cubitan kecil dari Amira membuatnya terhenyak.“Ditunjuk pak Bisma, tuh,” kata Amira.“Apa? Saya?” Zanaya spontan mengangkat wajah dan tak sengaja tatapannya bertemu dengan Bisma.‘Astaga! Dia lihat gue. Dia sadar nggak, ya, kalau ini gue yang udah tidur sama dia malam itu?’ batin Zanaya berisik sekali.Bila diberi pilihan, dirinya ingin sekali menghilang dan lenyap detik itu juga. Zanaya belum memiliki keberanian untuk berhadapan dengan Bisma, pria yang ia tinggalkan setelah menghabiskan malam panas mereguk surga dunia.Fokus Bisma teralihkan sesaat. Namun, ia kembali menatap lurus dengan sorot mata setajam ujung belati.“Iya. Kamu,” ucap Bisma seraya melempar tatapan dingin.Zanaya menelan ludah, masih menunduk, suaranya terbata saat menyebutkan dasar prinsip investigasi yang ia pelajari.“Angkat wajahmu. Saya tidak bisa mendengar su
Última actualización : 2026-10-07 Leer más