INICIAR SESIÓNDikhianati tunangan dan sepupunya sendiri, Zanaya melampiaskan rasa sakitnya di bar hotel hingga berakhir menghabiskan malam bersama seorang pria asing yang bernasib sama. Pelarian satu malam yang dipicu pengkhianatan itu seketika mengubah seluruh arah hidup dan masa depannya.
Ver más“Uhh ….”
Zanaya Rasyid berdiri mematung di ambang pintu ruangan. Matanya membelalak menyaksikan Austin, tunangannya itu tengah saling bergelut di atas meja inventaris yang ia beli dari hasil tabungan skripsinya. Rahang Zanaya mengeras kala mendengar desahan Rania, sepupunya, terdengar memekakkan telinga. “Ahh … enak, Sayang,” bisik Rania di dekat telinga Austin. Membuat pria yang sudah dikuasai nafsu itu semakin mempercepat gerakan, mencumbu liar Rania dari wajah hingga turun di antara tulang selangka wanita itu. “Austin!” pekik Zanaya. Ia membuka kasar pintu yang tak ditutup rapat. Buket bunga untuk merayakan anniversary pertunangannya dengan Austin luruh dari genggaman, jatuh ke lantai keramik yang dingin. Austin dan Rania yang tengah mereguk kenikmatan dunia seketika menoleh bersama karena terkejut. “Za-zanaya?!” ucap Austin sambil menelan ludah. Pria itu buru-buru menarik diri dan melepas dekapan tangan yang sejak tadi melingkar di pinggang ramping Rania. “Kak Zanaya?” lirih Rania. Rania turun dari meja sambil membenarkan kancing bajunya dengan gerakan pelan. Sorot matanya tak menunjukan kegugupan. Rania justru menatap Zanaya dengan berani, seolah yang baru saja terjadi bukanlah masalah besar. “Apa-apaan kalian berdua ini?!” bentak Zanaya yang menatap tajam antara kekasih dan sepupunya. Tak pernah terbayangkan sekalipun dalam benaknya, tunangan yang begitu ia percayai tega berbuat keji. Bercumbu dengan adik sepupu Zanaya sendiri. “Sayang. Dengerin dulu, aku bisa jelasin,” mohon Austin yang kini melangkah mendekati Zanaya. Namun, Zanaya mundur untuk menghindar. Sorot matanya tak sehangat biasanya, tersisa tatapan dingin dan juga kecewa yang terpampang nyata dalam raut wajahnya. “Nggak ada yang perlu kamu jelasin, Austin! Setelah apa yang baru saja aku lihat dengan kedua mataku sendiri. Kamu mau ngelak apalagi? Hah!” “Zanaya. Kamu salah paham. Ini nggak seburuk yang kamu bayangin,” kilah Austin. Austin berusaha mengendalikan situasi. Namun, metode piciknya tak lagi mempan untuk memanipulasi keadaan. Zanaya sudah tak mau lagi mempercayai kekasih yang sudah cukup sering menipunya itu. Sebenarnya, Zanaya sudah cukup lama menaruh rasa curiga antara Austin dan Rania memiliki hubungan lebih dari sekadar partner kerja. Tetapi, sejauh ini dia belum bisa menemukan bukti kuat sampai akhirnya Zanaya berada di titik ini. Ia memergoki dengan kedua matanya sendiri. “Ternyata benar dugaanku selama ini. Kalian berdua … bener-bener brengsek!” umpat Zanaya dengan sinis. “Zanaya. Kamu tenang dulu, dengerin penjelasanku,” tekan Austin dengan tajam. Tatapan menusuknya sempat membuat Zanaya sejenak terintimidasi. “Kamu tuh, ya, selalu kayak gini,” kata Austin sambil membuang napas jengah. “Bisa nggak sih, menghadapi masalah dengan kepala dingin? Jangan dikit-dikit emosi, curiga, berspekulasi liar nggak jelas.” “Spekulasi liar nggak jelas?” Zanaya tersenyum miring. Austin memungut pakaian yang berserakan di lantai, lalu memakai kemeja hitam polosnya. “Oke. Aku akui. Aku memang punya perasaan sama Rania. Tapi, Zanaya … apa kamu pernah mikir kenapa aku bisa jadi segila ini?” “Apa maksudmu?” Zanaya mengerutkan keningnya. “Kamu itu terlalu kolot, Zanaya. Kamu selalu sibuk dengan duniamu sampai melupakan keberadaan kekasihmu. Kamu bahkan nggak pernah mau untuk disentuh, sementara aku butuh seseorang yang bisa memenuhi hasratku!” Bukan meminta maaf atau menyesali perbuatannya. Austin justru melontarkan kata-kata yang tidak masuk akal. “Kak Austin benar, Kak Naya. Seharusnya Kak Zanaya bisa lebih perhatian lagi, karena kakak terlalu kaku dan nggak bisa ngasih kepuasan … makanya Kak Austin nyari kenyamanan ke aku yang bisa bikin dia puas,” ujar Rania pelan, namun terdengar seperti sebuah ejekan. Zanaya tertawa sumbang, sorot matanya berkaca-kaca. Namun, ia berusaha untuk menahan agar buliran air mata tak jatuh di hadapan Austin dan Rania. Bila itu terjadi, harga dirinya benar-benar sudah hancur. “Diam kamu. Gundik dilarang ikut campur,” ucap Zanaya tajam. Membuat Rania seketika bungkam. Lalu Zanaya kembali menatap berani tunangannya. “Dasar laki-laki nggak tahu diri,” ucap Zanaya dengan sinis. “Kamu pikir aku sibuk bekerja untuk memuaskan diri sendiri? Apa kamu nggak nyadar selama ini aku mati-matian kerja siang dan malam buat nutup kerugian cafe ini, Austin!” Brak! Zanaya melempar map coklat berisi laporan keuangan yang banyak merugi ke arah tunangannya. Austin memutar bola matanya, kemudian menatap muak ke arah wanita yang sudah sering dimanfaatkannya itu. Bagi Austin, Zanaya adalah gadis polos yang mudah dimanipulasi untuk dijadikan mesin penghasil uang. Austin memanfaatkan ketulusan Zanaya yang rela melakukan apapun demi dirinya. Pun ketika Austin mengatakan ingin memiliki usaha sendiri, Zanaya bersedia untuk membantu dana. Bahkan rela menunda sidang skripsinya dan menyerahkan seluruh tabungan untuk membuka cafe yang kini sudah berdiri hampir dua tahun lamanya. Usaha Austin nyaris bangkrut. Akhirnya Zanaya meminta bantuan Rania untuk mengelola keuangan, sementara dirinya bekerja magang di sebuah perusahaan hiburan sebagai penerjemah bahasa asing. Karena ia bercita-cita menjadi jurnalis nasional, kemampuan bahasa asingnya membuka peluang pekerjaan meski belum menyelesaikan pendidikan sarjana. “Aku nggak habis pikir kamu bisa ngomong kayak gitu di depanku. Di depan orang yang sudah mempertaruhkan masa depannya … demi mewujudkan impianmu!” sinisnya dingin. Zanaya lalu melepas cincin yang melingkar di jari manisnya, kemudian melemparnya kasar ke arah tunangannya. “Kita putus!” Zanaya berbalik keluar dari ruangan. Melangkah tanpa menoleh, menembus derai hujan yang cukup deras meski sekujur tubuhnya menggigil. Di tengah aspal yang basah, ia memeluk tubuhnya sendiri, dadanya terasa remuk sekali. Zanaya menoleh perlahan, menatap tajam sebuah bangunan di ujung jalan. “Aku bersumpah, Austin. Rania. Tak akan kubiarkan hasil dari setiap tetes keringatku bisa kalian nikmati!” *** Zanaya tak mau pulang ke kamar kost sempit yang terasa menyesakkan. Ia memutuskan datang ke sebuah bar hotel elite terdekat dengan pakaian setengah basah. Zanaya memesan alkohol demi membuang ingatan menjijikan yang memenuhi kepalanya. Namun, saat hendak menenggak gelas ketiga, tatapan pria asing mengenakan kemeja kusut di kursi sebelah menghentikan gerakannya. “Pemandangan orang yang putus asa … hanya merusak selera minum saja.”“Pak Bisma … tolong bantu saya.”Zanaya menatapnya dengan mata berkaca-kaca kala suara Austin terdengar kian meraung, sumpah serapah menggema di lorong fakultas ditujukan untuk Zanaya.Tatapan Bisma melunak melihat perempuan yang tengah mengandung darah dagingnya itu kini tampak lemah, memohon untuk diselamatkan.Tetapi, di lain sisi, isi kepala Bisma masih bergelut dengan keputusan yang gamang. Proposal pernikahan siri, citra keluarganya, masa depan Zanaya dan buah hati yang tak lama lagi hadir di dunia.“Zanaya,” panggil Bisma dengan suara beratnya.Tubuhnya kian mencondong ke depan, membuat Zanaya yang berdiri di hadapannya mundur dua langkah hingga terpojok di pintu ruangan. Perbedaan tinggi badan keduanya yang begitu mencolok justru menciptakan ketegangan manis yang mendebarkan di antara mereka.Zanaya memegang erat tali tas selempangnya, mengatur ritme detak jantungnya yang berpacu lebih cepat dari biasanya.“Saya akan membantumu dan mengusir pembuat onar itu. Tapi … tandatangan
Bola mata Zanaya kembali membelalak mendengar kalimat yang baru saja Bisma ucapkan.“Apa, Pak?” Ia memastikan bahwa tidak salah dengar barusan. “Bapak nggak lagi bercanda, ‘kan?”“Apa menurutmu saat ini … saya terlihat sedang bercanda, Zanaya?” balas Bisma dengan tatapan lebih serius dari biasanya.Zanaya mengatupkan bibirnya. Matanya menelisik raut wajah dosen muda yang baru saja mengajaknya menikah.Ya. Menikah.‘Dia nggak lagi ngelawak, ‘kan?’ batinnya masih belum percaya.Tidak seperti yang Zanaya bayangkan. Ia sudah bersiap untuk menghadapi amarah Bisma, termasuk konsekuensi yang mungkin harus diterimanya atas kejadian dua bulan lalu.Namun, Bisma justru bersikap sebaliknya. Tak ada amarah sedikitpun dalam dirinya. Sorot mata dingin yang biasanya sulit ditebak itu berubah teduh setiap kali menatap Zanaya. Dan yang paling tidak pernah Zanaya duga, pria itu kini menawarkan diri untuk menikahinya.“Pak Bisma. Tapi saya ….”“Besok di ruang kerja saya,” potong Bisma tiba-tiba. “Datang
Zanaya spontan membelalak tak percaya.“Apa, Dokter?! Saya … nggak salah dengar, ‘kan?”Bisma pun tak kalah terkejut. Kedua alis tebalnya menukik tajam.Dokter Kamal menghembuskan napas perlahan. Ia memahami betul bahwa dari sudut pandang Zanaya, berita kehamilan di luar ikatan pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa disambut dengan bahagia, ataupun kabar yang harus dirayakan."Saya tidak bercanda, Bisma, Zanaya," ucap dokter Kamal tenang, berusaha menetralisir ketegangan. Ia lalu menyodorkan hasil lab pemeriksaan ke arah mereka.Bisma meraih kertas itu lebih dulu. Matanya menyusuri baris demi baris, hingga gerakannya terhenti pada barisan paling akhir; hasil lab uji urine yang menyatakan bahwa pasien atas nama Zanaya Rasyid positif hamil delapan minggu.Melihat kebisuan sahabatnya, Dokter Kamal berdeham pelan. "Saya akan meresepkan beberapa vitamin dan suplemen penguat kandungan untuk Zanaya. Kalian sepertinya butuh waktu untuk bicara berdua."Setelah meletakkan secarik kertas resep di
Zanaya menoleh perlahan, menatap sisi samping Bisma yang memperlihatkan proporsi wajah nyaris sempurna. Hidung runcing bertengger tegas, garis rahang yang terpahat bak karya seni yang sukses menarik perhatian.“Pak Bisma … saya nggak bermaksud—”“Apapun alasanmu. Kamu tetap meninggalkanku hari itu,” potong Bisma, suara seraknya terdengar dingin.Zanaya menunduk dalam-dalam sambil meremas bagian perut terasa nyeri luar biasa. Keringat dingin membasahi pelipisnya, membuat rona pipinya semakin terlihat memucat.Tanpa meminta izin, Bisma mengulurkan tangan dan menempelkannya pada kening Zanaya untuk memeriksa suhu tubuhnya.Tentu saja Zanaya terkejut dan reflek menghindar. Namun, Bisma kembali tak mempedulikan sebuah penolakan.“Kamu juga demam,” ucap pria itu seraya menghembuskan napas berat.Bisma lalu menambah kecepatan laju mobilnya menembus kemacetan kota yang cukup padat siang itu, tatapannya lurus ke depan, namun sesekali melirik ke samping untuk memastikan keadaan mahasiswinya.Za












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.