Keesokan harinya, Annette berdiri di depan cermin kamar mandi sebelum berangkat. Wajahnya yang pucat pasi ia poles dengan perona pipi dan lipstik yang sedikit lebih tebal agar tidak terlihat seperti mayat hidup. Ia tidak boleh terlihat lemah, terutama di depan orang-orang di rumah ini. Pukul delapan pagi, Annette sudah tiba di kantor. Beberapa rekan pria di sana seperti biasa menyapanya dengan ramah. Tak satu pun dari mereka tahu bahwa Annette adalah istri dari pemilik perusahaan raksasa tersebut, sebab pernikahan mereka digelar secara rahasia. Di mata publik, Annette hanyalah asisten pribadi Arthur. "Selamat pagi, Annette," sapa salah seorang rekan kerjanya. Annette menoleh dan tersenyum samar. "Pagi." "Tumben berangkat agak siang?" tanya pria itu lagi sembari tersenyum hangat. "Aku ketinggalan bus," jawab Annette singkat. "Oh, pantas saja. Lain kali kalau butuh tumpangan, hubungi aku saja, ya," ujarnya ramah sebelum berpamitan. "Kalau begitu, aku ke atas dulu. Sampai n
Última actualización : 2026-10-26 Leer más