LOGIN"Mantan suamiku yang jahat. Jika kau meminta rujuk, maka memohonlah, Arthur Von Eisenberg!" Selama tiga tahun menikah atas dasar perjodohan. Annette Theresa selalu diabaikan dan dibenci oleh suaminya. Sebab, Arthur Von Eisenberg, seorang CEO sekaligus pewaris dari keluarga ternama yang disegani itu, tidak mencintai Annette sedikitpun. Karena cinta yang Arthur miliki hanyalah untuk adik angkat Annette yang sudah lama menjadi simpanan Arthur. Hingga hari di mana Annette divonis menderita kanker nasofaring stadium empat dan usianya sudah tak lama lagi. Annette sadar ia tidak mampu lagi mempertahankan pernikahannya. Annette memilih bercerai dengan Arthur. Melepaskan pria itu menikahi adik angkatnya. Tapi apa yang terjadi? Arthur tak bahagia dengan istri barunya. Arthur sadar dan menyesal telah menyia-nyiakan Annette. Pria itu berusaha menebus kesalahannya mendapatkan hati Annette kembali!
View More"Nona Annette, Anda mengidap kanker nasofaring stadium empat yang sudah menyebar ke sumsum tulang dan otak. Bila tidak segera ditangani, usia Anda tidak akan lama lagi."
Napas Annette tercekat, wajahnya semakin memucat mendengar penjelasan dokter di hadapannya. "A-apa, dok? Sa-saya mengidap kanker dan su-sudah stadium empat?" tanyanya dengan suara gemetar. "Benar," jawab dokter berjas putih itu pelan. Air mata mulai berdesakan di sudut mata Annette. Ekspresinya seketika kosong, namun juga terlihat jelas betapa terpukulnya wanita itu. "Mengapa Anda baru berobat setelah separah ini, Nona Annette?" Annette menelan ludah dan menjawab dengan lirih, "Saya tidak tahu, dokter. Saya pikir… saya hanya kelelahan." Dokter itu menghela napas panjang. "Anda harus menjalani pengobatan intensif seperti rangkaian kemoterapi, karena penyakit ini cukup langka. Saya juga akan meresepkan beberapa obat yang harus Anda konsumsi tanpa jeda." Ia menatap Annette prihatin. "Dan tolong, jangan merahasiakan penyakit ini pada keluarga Anda." Ucapan pria itu seolah berdengung di telinga Annette. Dadanya terasa sesak. Hidungnya masih terasa pedih karena banyaknya darah yang keluar semalaman. Tadi malam, Annette pergi seorang diri saat mengalami pusing hebat dan mimisan yang tak kunjung berhenti. Sesampainya di rumah sakit, ia langsung tak sadarkan diri. Ternyata, tanpa sepengetahuannya, tubuhnya tengah berperang dengan penyakit ganas. "Bila Anda ingin pulang, hubungi keluarga untuk menjemput. Saya khawatir Anda drop lagi," ujar sang dokter seraya menyerahkan lembaran kertas. "Ini resep obatnya. Setelah ini, Anda bisa berkonsultasi langsung dengan saya untuk tindakan lebih lanjut." Annette mengangguk lemah. "Baik, dok. Terima kasih," ucapnya. Setelah dokter keluar, Annette mengambil ponsel di atas nakas. Jemarinya ragu sebelum akhirnya menekan nomor suaminya—Arthur Von Eisenberg. Namun, pria yang tiga tahun ini berstatus sebagai suaminya itu tak kunjung menjawab. Annette mencoba beberapa kali hingga akhirnya terdengar suara bariton dingin dari seberang telepon. "Ada apa?" sahut pria itu dengan nada ketus. "Ha-halo, Arthur," ujar Annette pelan sambil menggigit bibir bawahnya. "Bisakah kau menjemputku? A-aku..." "Jangan manja! Aku sedang sibuk!" potong Arthur kasar. Tut. Panggilan itu diputus secara sepihak. Meski sudah menduga Arthur akan menolak, namun sepasang mata Annette tetap berkaca-kaca. Ia meremas ponselnya dan menengadahkan kepalanya. Bahkan di saat ia sekarat pun, suaminya tidak peduli. “Apa yang kau harapkan, Annette?” bisiknya pada diri sendiri. Ia bukanlah istri yang Arthur inginkan selama ini. Annette tahu Arthur tidak sibuk bekerja, melainkan sedang bersama Luna—adik angkat Annette sekaligus wanita yang dicintai suaminya. Semua bermula saat Annette kembali ke Keluarga Martenez tiga tahun yang lalu. Saat masih bayi, Annette pernah hilang karena kelalaian pihak rumah sakit. Beberapa tahun melakukan pencarian, namun Annette tidak kunjung ditemukan. Putus asa, orangnya akhirnya mengadopsi anak perempuan dari panti asuhan. Anak itu adalah Luna. Ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan begitu dimanjakan. Ketika Luna beranjak dewasa, ia dijodohkan dengan pewaris sekaligus pemimpin perusahaan besar milik keluarga Eisenberg dan Martenez untuk memenuhi wasiat dari leluhur. Dari perjodohan itu, Arthur dan Luna saling mengenal, bahkan saling menyukai satu sama lain. Sampai akhirnya Annette datang. Sesuai wasiat, hanya keturunan sah keluarga Martenez yang bisa menikah dengan cucu Keluarga Eisenberg. Mau tidak mau, Annette menikah dengan Arthur, menggantikan Luna. Namun, pernikahan mereka tidak bahagia. Arthur tidak pernah mencintai Annette sedikit pun. Menganggap kehadirannya pun tidak. Pria itu sangat dingin dan tidak acuh padanya. Segala perhatian dan cintanya hanya dicurahkan pada Luna. Sedangkan pada Annette, ia hanya melemparkan tatapan penuh kebencian. Waktu sudah berada tepat siang hari, kondisi Annette berangsur membaik. Ia memutuskan untuk pulang karena khawatir orang-orang di rumah akan mencarinya. Begitu sampai di kediaman mewah Keluarga Martenez, Annette yang berjalan tertatih disambut oleh pembantunya. "Nona Annette, Anda dari mana saja?" tanya wanita setelah baya itu cemas. Annette yang tampak pucat, hanya menggeleng kecil. Yang ada di pikirannya kini hanyalah kehampaan. "Di mana suamiku, Bi?" tanya Annette dengan suara lirih. "Tuan ada di ruangan kerjanya, Nona," jawab sang pembantu. Dengan langkah pelan, wanita berambut cokelat panjang bergelombang itu, berjalan menuju ruangan kerja suaminya. Annette ingin memberitahu Arthur tentang penyakitnya. Saat hendak menarik membuka pintu di depannya, terdengar suara yang familier dari dalam sana. "Ah, Kak Arthur! Jangan begitu, aku kan jadi malu. Kak Arthur terus memujiku. Apa iya, aku lebih cantik dari Kak Annette?" Suara manja itu... suara Luna. "Ya, Sayang. Kau jauh lebih cantik darinya," balas Arthur dengan nada lembut. Nada yang tak pernah ia tujukan kepada istrinya sendiri. "Ka-Kak Annette," sapa Luna ketika melihat kedatangan Annette. Ia tampak sedikit gugup. Dengan wajah pucat bak tembok, Annette menatap suaminya yang berubah dingin dan risih saat melihatnya. "Kak Annette dari mana? Sejak semalam kok tidak terlihat?" tanya Luna. "Emmm... aku sangat khawatir pada Kakak." Annette tidak menjawab pertanyaan Luna, melainkan ia menatap Arthur yang tampak tak peduli padanya. Pria itu justru menarik pinggang Luna dengan posesif untuk mendekat padanya. "Abaikan dia, Sayang," ujar Arthur pada Luna. "Ahh, Kak Arthur jangan begini. Ada Kak Annette, Luna malu!" cicit gadis itu, tapi suaranya genit dan menggoda. Ia mendarat dan duduk di pangkuan Arthur. Sambil memangku Luna, pria berparas tampan itu menatap Annette dengan jengah. Ia bahkan tak repot-repot bertanya maksud kedatangan istrinya di sana. Sementara itu, Annette menatap mereka sedih. Ia tertunduk berusaha menekan rasa jeri di hatinya untuk tidak menangis. Bukankah ia sudah terbiasa menyaksikan ini? "Arthur, ada yang ingin aku katakan padamu. Semalam aku—" Belum sempat Annette mengungkapkan kejadian yang menimpanya semalam, Arthur sudah menyela lebih dulu dengan decakan sinis. “Kau tidak lihat kami sedang sibuk?” Arthur menatapnya tajam. “Aku tidak ingin mendengar apapun darimu!” Sepasang mata Annette bergetar dan terasa memanas. Jemari tangannya spontan meremas rok hitam yang ia pakai. “Tapi ini—” “Keluar! Jangan menggangguku dengan Luna!”Usai kondisinya drop beberapa jam lalu, Annette pingsan di ruang kesehatan hingga berjam-jam. Ia baru terbangun dengan sendirinya saat hari sudah siang. Tubuhnya masih sangat lemas, bergetar, dan menggigil. "Bagaimana aku bisa sampai ke rumah sakit dalam keadaan seperti ini?" bisiknya gemetar seraya berjalan berpegangan pada dinding. Annette melangkah perlahan menuju lift untuk pergi ke ruang kerja Arthur. Setibanya di sana, terlihat sosok Arthur duduk di kursi kebesarannya sembari memeriksa berkas-berkas penting. Pandangan pria itu seketika tertuju pada sosok Annette yang berdiri lemah di depannya. "Arthur," panggil Annette lirih. "A-apa kau masih sibuk?" Arthur menutup berkas di tangannya dengan cepat tanpa menjawab pertanyaan itu. Annette kembali berkata, "Kalau kau tidak sibuk, bisakah kau mengantarku? Aku kurang enak badan sekarang." Pria dengan setelan jas hitam itu menatapnya tajam dan penuh keangkuhan. Arthur beranjak dari duduknya dengan tegas, melangkah mendekati A
Selama perjalanan menuju kantor, Annette tidak bisa berhenti terbatuk. Beberapa orang di sekitarnya sampai menawarkan air minum karena iba. Denyut nyeri di kepalanya pun kian mencengkeram. Satu setengah jam waktu terbuang di jalan karena bus kota yang ditumpanginya sempat bermasalah, membuatnya terlambat sampai di kantor. Annette berusaha mempercepat langkahnya karena pagi ini ada rapat penting. Namun, kakinya terasa berat dan gemetar. Sekujur tubuhnya seolah tak bertulang. Pandangannya sayu, diselingi batuk yang tak kunjung mereda. "Padahal pagi tadi aku sudah minum obat, tapi kenapa tidak ada reaksinya?" lirihnya seraya menatap noda darah di sapu tangannya. Annette melangkah tertunduk sambil memeluk erat berkas-berkas rapat. Saat melewati anak tangga, tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang teman kantornya. Dokumen di tangannya seketika terlempar dan berceceran di lantai. "Ehh, ya ampun! Maaf, aku tidak sengaja," ucap Annette panik. "Hati-hati, Annette. Masih pagi kau sud
Akibat kehujanan sore tadi, kondisi Annette kian memburuk. Berulang kali ia terbatuk-batuk hingga tangan yang digunakannya untuk menutup mulut ternoda bercak darah. Rasa sakit yang menyiksa membuat Annette tidak bisa memejamkan mata hingga pukul satu dini hari. Dengan tubuh lemah, Annette memutuskan keluar kamar untuk mengambil air minum. Saat itulah ia tersadar bahwa Arthur dan Luna belum juga kembali. Pandangan matanya kian sayu dan pilu. “Ke mana mereka pergi tengah malam begini?” Baru saja Annette hendak melangkah, suara bel pintu terdengar dari luar. Annette bergegas membukakannya. Pemandangan pertama yang menyambut matanya adalah Luna yang berada dalam dekapan Arthur, digendong penuh kehati-hatian. "Astaga. Apa yang terjadi, Arthur?" tanya Annette cemas. Arthur tidak menjawab. Pria itu melewatinya begitu saja, melangkah lebar menuju kamar Luna dan merebahkan gadis itu di atas ranjang. "Kak Arthur, jangan pergi..." Luna merintih manja seraya menahan jemari Arthur. "Luna
Keesokan harinya, Annette berdiri di depan cermin kamar mandi sebelum berangkat. Wajahnya yang pucat pasi ia poles dengan perona pipi dan lipstik yang sedikit lebih tebal agar tidak terlihat seperti mayat hidup. Ia tidak boleh terlihat lemah, terutama di depan orang-orang di rumah ini. Pukul delapan pagi, Annette sudah tiba di kantor. Beberapa rekan pria di sana seperti biasa menyapanya dengan ramah. Tak satu pun dari mereka tahu bahwa Annette adalah istri dari pemilik perusahaan raksasa tersebut, sebab pernikahan mereka digelar secara rahasia. Di mata publik, Annette hanyalah asisten pribadi Arthur. "Selamat pagi, Annette," sapa salah seorang rekan kerjanya. Annette menoleh dan tersenyum samar. "Pagi." "Tumben berangkat agak siang?" tanya pria itu lagi sembari tersenyum hangat. "Aku ketinggalan bus," jawab Annette singkat. "Oh, pantas saja. Lain kali kalau butuh tumpangan, hubungi aku saja, ya," ujarnya ramah sebelum berpamitan. "Kalau begitu, aku ke atas dulu. Sampai n












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.