Share

Bab 8

Hampir seminggu Kasto tak pulang ke rumah, namun sepulang dari bekerja, Mila terkejut saat Riska mengatakan bahwa Paman Kasto baru saja pulang. 

"Kamu gak kenapa-napa kan Ris?" tanya Mila khawatir. 

"Gak kak, Paman bawa banyak makanan enak lhoh kak, tumben. Kata Paman semua untuk kita. Bahkan Paman beliin juga kebutuhan dapur, tu ada mie instan dalam kardus dan beras di karung. Apa Paman menang judi ya kak? Berarti haram dong ... , gimana kak?" tanya Riska kebingungan pada kakaknya. 

"Sudah, tak usah kau pikir Paman dapat uang darimana, syukurlah kalau Paman tak lagi berbuat kasar." 

Mila tahu pasti, uang Paman banyak karena ia baru saja mendapatkan tiga ratus juta dari Rafin. Uang sialan yang kini ditanggungnya dan entah hingga kapan akan lunas. Keningnya terasa berdenyut saat memikirkan hutangnya. 

***

Hubungan Pram dan Mila belum ada kemajuan sama sekali. Pram bahkan sering kehabisan kata-kata jika berhadapan dengan gadis pujaannya. Seperti saat toko telah hampir tutup, menyisakan karyawan yang beberes toko sebelum tutup. Pram terlihat keluar dari ruangannya, bukannya menyapa Mila yang sebenarnya ia tahu sedang berada di hadapannya, ia malah pura-pura tidak melihat gadis itu. Kesannya malah seperti Pram yang dingin dan angkuh. Mila sebenarnya merasa kecewa karena ternyata Pram seperti menganggapnya tak ada. 

Sesampai di mobil, Pram mengutuk kebodohannya. Karenanya ia ingin hari itu ia berniat untuk segera mengungkapkan perasaannya. 

Tak berapa lama, ia melihat Mila yang telah keluar dari toko dan langsung pergi dengan Risma. Pemuda itu terlihat kecewa. Ia bahkan memukul stir kemudi mobilnya, hingga tanpa sengaja ia menekan klakson.  

"Sial !" sungutnya dengan raut wajah marah karena kaget sendiri akibat ulahnya. 

Akhirnya ia pergi dari tempat itu, mencoba menyusun kembali waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya, padahal esok hingga tiga hari kedepan ia harus mengadakan pengecekan di toko kue cabang yang lainnya. 

***

"Mereka berdua telah mati! Aku tak pernah menemukan mereka dimanapun. Aku yakin, bahkan di tempat persembunyianmu sekalipun, kau pasti tak ketinggalan berita kan? Gedung kantor mu kebakaran dan tak menyisakan apapun. Apa kau tak berpikiran bahwa kemungkinan anak-anakmu ikut hangus terbakar?" Kasto menjawab pertanyaan seseorang yang berada di seberang panggilan sana. 

Kasto, diselingi dengan tawa yang terdengar mengejek, menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan. 

"... "

"Sudah kukatakan, aku tak memiliki urusan dengan mereka. Untuk apa aku harus menghabiskan masa tuaku dengan mencari masalah baru? Sedari dulu aku hidup sendirian, jadi aku tak akan menderita jika kini aku juga hidup sendiri. Tak perlu kau selalu menanyakan hal itu padaku, karena jawabanku akan tetap sama." Kasto sama sekali tak menyadari bahwa saat itu ada Mila yang berada di belakangnya. 

"Paman! Apakah itu Papa?" Mila sengaja mengeraskan volume suaranya agar seseorang yang berada di seberang panggilan sana ikut mendengarkan kata-katanya. 

"... "

"BUKAN SIAPA-SIAPA!" Kasto mengatakannya dengan berteriak dan kemudian memutuskan sambungan telepon.  

Mila mendadak menjadi kalap dan mencengkeram lengan baju Pamannya, menuntut jawaban yang pasti atas pertanyaannya tadi. Ia yakin benar bahwa panggilan itu adalah dari Papa nya. Orang yang selama bertahun-tahun ini tunggu kabar dan kedatangannya. Dan saat kesempatan itu tiba, Pamannya malah mengatakan bahwa ia dan adiknya telah meninggal. Betapa bertambah murka dirinya saat dengan mudahnya Paman Kasto menyarankan agar Papanya tak perlu mencari mereka. 

"Jawab Paman! Itu pasti Papa kan? Kenapa Paman tega berbuat seperti ini pada kami?" Mila mulai terlihat kalap dan berteriak, membuat Kasto terpancing emosinya. 

"Sudah berkali-kali kukatakan, bukan siapa-siapa!"

Kali ini Kasto bahkan mendorong Mila ke tumpukan botol miras yang masih teronggok di sudut ruangan. 

Kali ini Mila tak ingin bersikap lemah, amarahnya memuncak kalau ia ingat dengan jutaan rupiah yang kini menjadi hutangnya. 

"Katakan, apa maksud Paman meminta uang sebanyak tiga ratus juta pada Rafin!" tanya Mila pada Pamannya. 

"Oh, jadi namanya Rafin?"

"Aku tak pernah meminta uang, tapi dia sendiri yang menawarkannya padaku. Dan kurasa uang segitu bukanlah nominal yang besar baginya, apa kau tau, waktu pria itu memberiku uang, sisa yang berada di kopernya bahkan seperti tak berkurang. Itu tandanya bahwa uang bukan masalah besar baginya." Kasto mengatakannya dengan enteng. 

"Apa paman tau, uang itu dianggap hutang olehnya, dan akhirnya aku yang harus membayar semuanya!" kata Mila sambil kembali mengguncang tubuh Pamannya. Seakan berusaha merontokkan keburukan hati sangat Paman. 

"Bukan urusanku, seharusnya waktu itu kau memberiku tiga juta, maka kau tak akan kehilangan yang lebih besar. Lagipula bukanlah sebuah hal sulit untuk membayar hutang itu jika kau tau caranya. Tidurlah dengannya, andai kau masih perawan mungkin cukup sekali kau melakukannya, jika sudah jebol ya mungkin bisa beberapa kali. Kalau itu tergantung bagaimana servicemu." Kasto bahkan mengatakannya seolah tanpa beban. Tanpa menimbang rasa bahwa omongannya bisa saja menyakiti hati keponakannya. 

Mila bahkan tak mengira bahwa Pamannya bisa dengan entengnya berkata seperti itu kepadanya. Sungguh harga dirinya begitu terluka. Ia bahkan kini merasa sulit untuk bernafas, betapa amarahnya telah memuncak. Ia begitu ingin melenyapkan lelaki itu dari hidupnya." Maka ia melempar sebuah botol yang berada di dekatnya, namun rupanya Kantor lebih sigap dan mampu menangkap lemparan itu kemudian balas melemparnya ke arah Mila. Jika saja gadis itu telat sedikit dalam menggeser tubuhnya, mungkin kepalanya telah rusak terkena lemparan. 

PYAAARRR! 

Nyatanya, serpihan botol kaca berhasil melukai keningnya. Kasto yang mengetahui itu mendadak teringat kembali akan perjanjiannya dengan pemuda di dalam gudang tempo hari. Ia lantas memilih pergi berlari meninggalkan Mila yang terluka. Riska yang saat itu tengah mengikuti kegiatan berkemah selama tiga hari, jelas tak ada disana untuk dapat menolongnya. Mila hanya mampu menutup lukanya dengan sebelah telapak tangan. Entah apa yang ia pikirkan, karena menurutnya saat ini yang dapat membantunya hanyalah pria yang waktu itu. Hanya dia yang mampu mempertemukannya dengan Papanya. Hanya dia.  

Mila memilih untuk menyetop tukang ojek yang kebetulan melewatinya saat Mila telah berada di pinggiran sebuah jalan raya. Sambil terus menahan rasa perih dari lukanya, ia meminta kepada abang ojek untuk lebih mempercepat laju kendaraannya. Sebenarnya pengemudi ojek telah menyarankan penumpangnya untuk berhenti di sebuah klinik untuk memberi pertolongan pada lukanya yang terus mengeluarkan darah. Namun Mila menolak. Ia hanya meminta untuk segera mengantarkannya ke tempat tujuan. Maka tak berselang lama Mila telah sampai di tempat tujuannya. Suasana yang lebih dari tengah malam membuat apartemen itu lengang.  

Mila mencoba untuk tetap bertahan diantara pandangannya yang mulai kabur. Hingga ia merasa yakin bahwa ia telah memencet bel pada pintu yang benar. Dan betapa terkejutnya sang penghuni saat ia mendapati seorang gadis yang selama beberapa hari ini selalu nongkrong di otaknya, kini terkulai lemah setelah mata keduanya sempat bertemu. 

***

"Gila kamu Fin, enak aja minta kawin kontrak sama anak orang. Kamu gak mikirin bakal gimana hancurnya dia nanti setelah ia melahirkan dan harus kehilangan anaknya?!" Deri, sang asisten pribadi merasa terkejut dengan rencana bosnya. Mereka sedang makan siang di sebuah restoran dekat kantor. 

"Ia mendapatkan banyak uang dariku. Bukan hanya fasilitas mewah, tapi aku juga berencana untuk memberinya tanah dan bangunan untuk hidupnya selepasnya berpisah dariku." Rafin merasa yakin bahwa keinginannya akan segera terwujud. 

"Kau selalu mengira bahwa apapun akan dapat diselesaikan dengan uang." Deri benar-benar geram dengan atasannya itu. Jika sedang berada di luar kantor dan tak ada karyawan lain, bahasa mereka memang lebih mirip dengan bahasa teman. 

"Tentunya. Apapun akan terjadi jika ada uang," ujar Rafin merasa benar. 

"Kau yakin? Tak akan melibatkan hati selama kalian berumah tangga. Dia adalah gadis cantik dengan tubuh proporsional, belum lagi kemampuannya dalam memasak, yang katamu sangat enak. Apalagi jika kalian tiap hari hidup seatap, tidur bareng, melakukan "itu", dan melakukan banyak aktivitas bersama, kamu yakin gak akan membekas dihati gitu?" tanya Deri yang kini membuat bos sekaligus sahabatnya itu menjadi galau. 

***

Pagi ini, Pras menjalani aktivitas rutinnya dengan hati galau. Mengutuk dirinya sendiri, betapa kebodohannya telah membuatnya tidak merasakan ketenangan. 

"Shell, tolong sampaikan ke Mila nanti jangan pulang duluan. Aku ada perlu. Suruh dia menungguku ya," ujar Pras pada sepupunya. 

" ... "

"Apa Mila sakit? Tak biasanya ia tak masuk kerja tanpa izin terlebih dahulu."

"... "

"Ok, gak papa." Pram terlihat bertanya-tanya, apa yang saat ini sedang terjadi pada gadis pujaannya, Mila seperti sedang menyimpan sesuatu yang besar. Ada terselip rasa sedih saat gadis itu memilih untuk tidak menceritakan beban itu kepadanya. 

***

"Siapa lagi ini Fin? Mainan baru lagi? Ketahuan sama Anggita baru tau rasa kamu." Seorang Dokter muda nan cantik terlihat sedang merawat luka-luka di tubuh gadis yang kini terkulai lemah dan belum sadarkan diri. Sementara Rafin hanya mengedikkan bahunya, tak ingin membahas perihal gadis ini pada Dokter pribadinya itu. 

"Ia telah mengalami kekerasan fisik yang terus menerus dan lama. Lihatlah, betapa banyak luka-luka yang ada di tubuhnya. Lihat yang ini, memar pada tulang kering ini akan sembuh lama, apalagi sampai membiru." Dokter cantik itu bernama Diandra, ia menunjukkan banyak luka pada bagian-bagian tubuh terbuka Mila. Rafin yakin, pasti ada lebih banyak luka di sekujur tubuh gadis malang ini. 

Hatinya makin miris kala Dokter muda itu mencabut serpihan kaca dari dahi Mila, lelehan darah membuat hatinya berdesir. Dengan sigap, Diandra menutup luka itu dengan kapas. Menahannya dan memberi obat. Sepertinya luka itu cukup dalam, dan Dokter memutuskan untuk memberinya dua jahitan. 

Kini Diandra membersihkan lelehan darah yang hampir menutupi sebagian besar wajah ayu Mila. 

"Tebus segera obatnya, jangan sampai besok muncul kabar ada mayat wanita di apartemenmu," pemuda itu hanya menerima selembar kertas resep dan setelahnya Dokter cantik itu pergi. 

***

Pagi ini Mila terbangun di sebuah kamar yang sangat asing baginya, ruangan dengan tembok bercat ungu muda. Sebagian lainnya berwarna pink dan putih. Dejavu. Ia seperti pernah menempati kamar itu sebelumnya. Kepalanya mendadak berdenyut saat ia mencoba untuk mengingat. 

Ia terkejut saat menemukan kapas di dahinya, mengapa rasanya sangat sakit? Sungguh ia mencoba untuk merangkai peristiwa demi peristiwa yang terjadi semalam. 

Tenggorokan yang kering membuatnya mengedarkan pandangan, dan tiga gelas minuman telah tersaji diatas sebuah meja kecil dekat tempat tidur. Berisi susu, teh, dan air putih. Bahkan saat ia menyentuhnya, semuanya masih dalam keadaan hangat. 

Mila segera mengambil air putih, dan membasahi tenggorokannya. Setelahnya, ia baru merasakan bahwa tubuhnya sangat lengket. Perlahan ia kembali mengingat, bahwa ini adalah kamar di dalam apartemen pria itu. Ia tersenyum kembali saat ia mengingat ada gumpalan kapas di dahinya. Berarti benar dugaannya bahwa pria itu adalah orang baik. Hanya bahasa dan sikapnya saja yang kasar dan arogan. 

***

Mila hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar, ia sama sekali tidak keluar dari kamar, persis dengan pesan tertulis pria itu yang ditinggalkan pada sepiring roti bakar isi telur mata sapi.

-TBC

By. Rinto Amicha

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status