Membedakan novel dan buku nonfiksi sebenarnya cukup straightforward kalau kita tahu ciri-ciri utamanya. Novel biasanya adalah karya fiksi yang menceritakan kisah imajinatif dengan karakter, plot, dan setting yang dibangun oleh penulis. Contohnya, 'Laskar Pelangi' atau '
bumi manusia'—meski terinspirasi dari realitas, mereka tetap mengandung unsur kreativitas dan dramatisasi. Sementara itu, buku nonfiksi lebih berfokus pada fakta, data, atau informasi yang bisa diverifikasi, seperti biografi, buku self-help, atau panduan teknis. Misalnya, 'Atomic Habits' atau 'Sapiens' jelas beda banget sama novel karena basisnya adalah riset dan realita.
Hal lain yang bisa jadi pembeda adalah gaya penulisannya. Novel seringkali punya narasi yang lebih ekspresif, deskriptif, dan penuh dengan dialog atau monolog untuk membangun emosi pembaca. Di sisi lain, nonfiksi cenderung lebih straightforward, sistematis, dan to the point karena tujuannya adalah menyampaikan informasi atau argumen. Contohnya, novel seperti '
pulang' karya Tere Liye bakal penuh dengan deskripsi suasana dan pergolakan batin tokoh, sementara 'Filosofi Teras' karya Henry Manampiring langsung masuk ke pembahasan konsep stoikisme dengan struktur yang jelas.
Satu lagi yang sering membantu adalah melihat bagian belakang buku atau deskripsi penerbit. Novel biasanya dikategorikan sebagai 'fiksi sastra' atau 'fiksi populer,' sementara nonfiksi sering diberi label sesuai topiknya, seperti 'sejarah,' 'psikologi,' atau 'bisnis.' Kadang, novel juga memakai cover yang lebih artistic atau simbolis, sedangkan nonfiksi sering tampil dengan desain yang lebih informatif—misalnya foto orang (untuk biografi) atau grafis sederhana (untuk buku panduan).
Yang menarik, ada juga genre yang blur the line antara fiksi dan nonfiksi, seperti historical fiction atau creative nonfiction. Di sini, penulis mungkin memakai fakta sejarah tapi menyelipkan narasi fiktif, atau sebaliknya—menulis pengalaman nyata dengan gaya bercerita ala novel. Tapi selama kita peka dengan tujuan utama bukunya, biasanya bisa ketahuan deh ini lebih condong ke mana. Intinya, kalau buku itu bikin kita terbawa emosi dan khayalan, kemungkinan besar itu novel. Kalau lebih banyak dapat insight atau pengetahuan baru, ya nonfiksi.