Masuk
"Celia!" Teriak seorang gadis di koridor sekolah menengah atas.
Gadis berambut sepinggang itu menepuk pundak sahabatnya begitu tiba di dekat gadis bernama Celia tersebut. "Kemana aja sih? Aku cari dari tadi malah ketemu di sini." "Toilet, emang ada apa?" Celia merangkul bahu Siska, sahabatnya. "Aku butuh bantuan kamu, Cel." Kening Celia mengkerut. "Bantuan?" Siska mengangguk. "Aku bikin novel baru, dan niatnya mau aku terbitin bulan ini. Cuma aku butuh pendapat kamu sebagai pembaca." Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari sekolah, saat tiba di parkiran Siska mendadak berhenti dan membuka ranselnya kemudian mengeluarkan sebuah tumpukan kertas berisi novel yang akan dia cetak bulan depan. "Nih, tolong di baca, ya." Ujarnya sambil menyerahkan tumpukan kertas itu. Celia menatap horor tumpukan kertas yang ada di tangan sahabatnya. "Serius? Kamu mau aku baca sebanyak ini?" "Cuma dikit kok, paling dua ratus halaman." "Cuma?" Celia tertawa hambar. "Halaman segitu bisa ngabisin waktu satu minggu, Sis. Yang benar aja dong, ini namanya bukan minta tolong lagi tapi maksa." Tanpa ada niat mengelak, Siska tersenyum ceria. "Emang, makanya bantuin aku biar bisa lolos pas terbit cetak. Nanti kalo ada komisi aku traktir kamu makan sepuasnya deh." Celia memicingkan mata, menatap Siska penuh curiga. "Sejak kapan kamu dermawan gini?" Siska terkekeh pelan, lalu menyenggol lengan Celia. "Sejak aku butuh kamu." "Enak aja," balas Celia cepat, tapi sudut bibirnya mulai terangkat. "Traktir doang? Nggak ada bonus lain?" Siska berpura-pura berpikir, jari telunjuknya menyentuh dagu. "Hmm... aku tambahin minuman bebas refill." Celia menghela napas panjang, lalu menatap tumpukan kertas di tangannya lagi. "Ini bukan novel, ini skripsi berkedok cerita cinta." "Hei! Jangan ngerendahin karyaku dong," protes Siska. "Aku serius kali ini. Aku pengen ini bener-bener bagus sebelum diterbitin." Ekspresi Celia perlahan berubah. Candaan di wajahnya memudar, digantikan dengan tatapan yang lebih lembut. Dia tahu betul, di balik sikap santai Siska, sahabatnya itu sedang mengejar sesuatu yang penting. "Ada deadline?" tanya Celia akhirnya. Siska mengangguk cepat. "Minggu depan harus masuk ke percetakan." "Minggu depan?!" Celia hampir menjatuhkan kertas itu. "Kamu gila, ya? Dua ratus halaman dalam seminggu?" "Aku yakin kamu bisa," sahut Siska tanpa ragu. Celia mendengus pelan. "Kamu terlalu percaya sama aku." "Bukan terlalu percaya," Siska tersenyum, menatapnya lurus. "Aku cuma tahu kamu nggak pernah setengah-setengah kalau udah bantuin orang." Kalimat itu membuat Celia terdiam sejenak. Dia menatap tumpukan naskah di tangannya sekali lagi, lalu menghela napas panjang seolah sedang membuat keputusan besar dalam hidupnya. "Oke," ucapnya akhirnya. Mata Siska langsung berbinar. "Serius?!" "Tapi ada syaratnya," lanjut Celia cepat sebelum Siska terlalu senang. "Apa aja! Mau aku jadi pembantu kamu seminggu juga oke!" Celia tersenyum tipis. "Nggak usah lebay. Cuma satu." "Apa?" Celia mengangkat naskah itu sedikit. "Kalau ceritanya jelek, aku bakal jujur. Kamu nggak boleh marah." Siska terdiam sebentar, lalu mengangkat kedua tangannya. "Deal." "Dan satu lagi," tambah Celia. Siska mengernyit. "Lah, katanya cuma satu?" "Ini bonus," jawab Celia santai. "Aku mau tahu... cerita kamu ini tentang apa?" Siska tersenyum pelan. Kali ini bukan senyum ceria seperti biasanya, melainkan senyum yang sedikit misterius. "Tentang seorang cewek," ujarnya pelan, "yang hidupnya berubah gara-gara satu cowok yang nggak bisa dia dapatin." Celia mengangguk pelan. "Oke, tunggu seminggu lagi nanti aku ke rumahmu." "Makasih, Cel." *** Brak! Celia membanting naskah ke atas meja belajarnya, seminggu telah berlalu dan dia baru saja membaca setengah dari naskah tersebut. Bukan tanpa alasan, tapi Celia tidak menyukai karakter ciptaan sahabatnya yang berperan sebagai antagonis dan memiliki hidup tragis. "Kenapa Siska bikin karakter antagonisnya naas begini sih? Apa nggak kasihan dia sama karakter itu sendiri?" Lelah dengan semua kekesalan yang ingin di luapkan, Celia meraih ransel biru dan memasukan naskah tersebut ke dalam ransel itu. "Aku harus minta Siska revisi beberapa bab, biar si antagonis nggak terlalu tersiksa hidupnya." Setelah memasukan semua naskah ke dalam ransel, Celia bergegas keluar dari kamar. Saat dia membuka pintu, Celia terkejut melihat sosok kakaknya yang baru pulang kerja berdiri di depannya. "Loh, tumben jam segini sudah pulang, Bang?" Tanya Celia heran. Samuel mengangguk. "Kamu mau ke mana bawa tas segala?" "Aku mau ke rumah Siska." "Jangan lama-lama, kalau lewat jam sebelas kamu belum pulang... Kamu tahu sendiri akibatnya." Ancam Samuel. Celia mengangguk patuh, di dalam rumah itu hanya ada dua hal yang Celia takutkan. Pertama adalah orang tuanya, dan kedua Samuel. Pria itu terlalu protektif tapi Celia paham sebab Samuel menyayanginya. "Aku pergi dulu, Bang." Pamit Celia. Samuel mengangguk. "Hati-hati, jangan ngebut." Celia mengangkat jempolnya sebagai tanda setuju, lalu berlari keluar dari kediaman tersebut. Celia mengambil kunci motor dan bergegas meninggalkan rumah tersebut setelah menyalakan kendaraannya. *** Semilir angin malam menerpa wajah Celia di balik helm full face yang dia kenakan, dalam pikirannya berbagai omelan sudah dia siapkan untuk membuat Siska merevisi naskahnya. Hingga, tanpa di duga dari arah berlawanan tampak sebuah mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Celia tersadar dari lamunannya, saat dia hendak menghindar jarak mobil itu dengan motornya sudah tidak jauh. Celia memelototi kendaraan roda empat itu, hanya dalam hitungan detik tabrakan tak bisa di hindari. Brak! Tubuh Celia terlempar cukup jauh dan menghantam aspal yang keras, helm yang dia kenakan retak dan darah merembes keluar dari sela-sela helm tersebut. "Ugh... sakit," rintih Celia di sela-sela kesadarannya yang tersisa. Saat dia hendak meminta tolong, suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Celia menatap langit malam yang gelap gulita tanpa ada bulan sebagai penerang. "Apa akhirnya aku mati seperti...i-ini?" Gumam Celia sebelum kegelapan menelan seluruh kesadarannya."Apa yang kepala sekolah kamu ucapkan itu benar, Jennifer?" tanya Mikail dengan suara tertahan kepada putrinya. Saat ini, Jennifer sedang berada di ruang kepala sekolah setelah ia melakukan pembalasan pada Anna tadi. Tanpa ada rasa takut sedikit pun pada tatapan ayahnya, Jennifer mengangguk santai. "Ya. Aku memang melakukannya." Jawab Jennifer tanpa beban. "Saya benar-benar nggak terima anak saya diperlakukan seperti ini oleh putri kamu, Pak Mikail." Seorang wanita paruh baya yang duduk di sebelah Gina menatap tajam Mikail dan Jennifer secara bergantian. Mikail terdiam dengan tangan mengepal. Ingin sekali ia menegur Jennifer, akan tetapi ia tidak mungkin melakukannya saat ini. "Lihat, putri saya sampai seperti ini karena dipukuli oleh putri kamu! Inikah hasil didikan kamu? Pak Mikail, kamu benar-benar nggak becus mendidik anak. Saya nggak mau tahu, pembully seperti dia harus dikeluarkan dari sekolah. Kalau nggak, terpaksa saya harus membawa ini ke jalur hukum agar Gina men
"Dasar polos-polos bangsat!" hardik Sinta. "Berani banget kamu ngunciin sahabat aku!"Mata Anna berkobar panik, wajahnya memucat begitu mengetahui bahwa rekaman CCTV sudah menyebar ke seluruh sekolah. Berbeda dengan Anna, gadis yang berada di sebelahnya terlihat sudah pasrah.Gina sudah benar-benar pasrah menerima fakta bahwa kejahatan yang mereka lakukan pada Jennifer terbongkar hanya dalam waktu singkat."B-bukan aku yang lakuin, Kak!" teriak Anna yang langsung bersimpuh di bawah kaki Jennifer. "Aku terpaksa lakuin itu. Gina yang nyuruh aku. Dia bilang kalau aku nggak mau bantu dia menjebak Kak Jennifer, dia bakal ikut bully aku. Tolong maafin aku, Kak. Aku nggak mungkin lakuin itu secara sengaja."Jawaban Anna membuat semua orang ternganga tidak percaya, begitu pula dengan Gina yang langsung menoleh ke arah Anna dan menatapnya penuh kekecewaan."Gina selama ini selalu benci sama Kak Jennifer. Maka dari itu, dia membuat rencana itu untuk menjebak Kak Jennifer. Aku udah berusaha kera
"Aku nggak tahu, intinya itu bukan aku, Kak!" Jennifer tertawa sinis. "Kamu pikir ruang penyimpanan olahraga nggak ada CCTV seperti toilet, hah?"Mendengar itu, Anna langsung pucat."Kalau mau berbuat jahat, makanya pikir pakai otak. Mentang-mentang bego, kamu malah bertindak ceroboh. Dasar tolol!" sentak Jennifer dengan tatapan penuh penghinaan.Tangan Anna mengepal. Meski matanya berkaca-kaca, hatinya justru meradang karena tidak terima diperlakukan seperti ini.Sial! Sial! Kenapa dia bisa sebegitu cerobohnya sampai tidak memperhatikan CCTV saat mengunci gadis sialan ini?"Kak Jennifer salah paham. Itu... itu bukan aku," kilah Anna dengan air mata yang terus mengalir.Jennifer kembali menarik rambut Anna dan mencengkeram rahangnya."Bacot! Sudah seperti ini masih bisa mengelak juga! Aku punya rekamannya. Apa perlu aku sebarkan sekarang?"Anna mengerang ketika tubuhnya didorong hingga kehilangan keseimbangan."Anna!"Tatapan Jennifer berkilat dingin mendengar suara itu.Ia berbalik,
Keesokan paginya, Jennifer sudah siap dengan seragam sekolahnya. Raut wajahnya tampak sumringah saat keluar dari rumah bak neraka itu. Tidak ada Mikail ataupun Ratih yang duduk di meja makan seperti biasanya. Jennifer yakin ayahnya sedang menemani Ratih memeriksakan matanya yang bengkak akibat kejadian semalam."Ah, andai setiap hari kayak gini. Pasti hidup gue bakal sejahtera terus," ujarnya santai. "Saatnya memberi pelajaran buat orang-orang nggak tahu diri itu."Jennifer menyeringai samar. Ia memasuki mobil dan mengendarai mobil berwarna putih itu dengan kecepatan sedang menuju sekolah. Untuk pertama kalinya, ia kembali mengendarai benda roda empat tersebut setelah kecelakaan nahas itu.Meskipun sedikit kaku, akhirnya ia berhasil sampai di sekolah dengan selamat. Pagi ini, ia ingin memberikan hadiah kecil untuk adik tirinya.Gerbang sekolah sudah ditutup. Karena itu, Jennifer membunyikan klakson berkali-kali hingga menimbulkan suara bising.Seorang satpam sekolah bertubuh tambun ak
Jennifer baru saja menutup pintu ketika aroma rumah itu menyergap indra penciumannya, aroma yang selalu membuat dadanya terasa berat setiap kali menginjakan kaki di rumahnya sendiri.Beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti di ruang keluarga, ia melihat dua sosok telah menunggunya dan Jennifer yakin mereka menunggu bukan untuk menanyakan kondisinya melainkan memberikan omelan seperti biasa.Mikail duduk di sofa utama dengan postur tegak dan rahang mengeras. Di sampingnya berdiri sang istri, kedua lengannya terlipat di dada, dengan senyum tipis yang sama sekali tidak ramah. Tatapan wanita itu menyapu Jennifer dari ujung rambut hingga ujung kaki, penuh penilaian dan rasa superior.Jennifer menarik napas dalam-dalam. Ia melepas sepatunya, lalu melangkah melewati ruang keluarga tanpa sedikit pun melirik mereka, seolah dua orang itu tidak ada."Jennifer."Suara Mikail terdengar dingin dan menekan.Jennifer tetap berjalan tanpa memberikan jawaban pada panggilan ayahnya."Jennifer, duduk.
Mata Samuel mengerjap. "Serius?" Dia tidak ingin kesenangan sendiri sebelum memastikan bahwa pendengarannya tidak salah, namun jawaban Jennifer selanjutnya meruntuhkan imajinasinya. "Bercanda, elah. Serius amat kamu." Jennifer tertawa lebar dengan mata berbinar cerah. Hal itu membuat Samuel terdiam dengan napas tertahan, hingga akhirnya Samuel segera membuang muka. "Nggak usah kebanyakan ketawa, nanti gigi kamu rontok," gumamnya sedikit ketus. Samuel kemudian berbalik. Sebelum pergi dari ruangan itu, ia sempat melirik Karina. "Titip Jennifer." Setelahnya, Samuel benar-benar pergi. Keheningan terjadi selama beberapa saat setelah kepergian Samuel. "Karina," panggil Jennifer pelan. "Aku belum bilang ini sama kamu. Makasih banyak, ya." Jennifer tersenyum tipis ketika melihat binar terkejut di balik kacamata gadis itu. "I-iya, Kak," jawab Karina tergagap. "Aku juga mau mengucapkan makasih karena Kak Jennifer sudah mau meminjamkan soal olimpiade kepada aku." Jennifer mengangguk
Segerombolan siswa laki-laki masuk ke dalam kelas dan di antara mereka ada satu orang yang cukup menonjol. Jennifer tersenyum tipis, aura pemeran utama memang tidak bisa berbohong meski dia belum melihatnya secara langsung sebelumnya.Rafka berjalan paling depan, wajahnya datar tanpa ekspresi, terk
Jennifer tertawa pelan bukan tawa bahagia, melainkan tawa dingin yang sarat ejekan. Sorot matanya menajam, menatap lurus ke arah Mikail tanpa sedikit pun gentar."Aku ulang ya, Pi," ucapnya pelan, namun setiap katanya terasa seperti tamparan. "Papi barusan nyalahin Mami aku yang sudah meninggal?"R
Celia meringis, adegan jatuh dari tangga itu memang ada, tapi dia tidak menyangka malah dirinya yang bakal ada di tubuh Jennifer. Mengingat kejadian tersebut, berarti cerita ini belum berjalan jauh.Cerita dimulai dari seorang lelaki bernama Rafka yang memiliki sifat dingin, tidak berperasaan, dan
Jennifer berharap wanita itu akan menatapnya dengan wajah kebingungan karena dia salah menyebutkan nama. Namun..."Iya, Non?"What the fuck!Jennifer memejamkan mata dengan bibir menipis, napasnya naik turun. Bagaimana bisa? Ini sangat tidak masuk akal dan sulit dipercaya. Apakah dia benar-benar ma







