Wayang Karna

Ku nikahi kau karna ayahku
Ku nikahi kau karna ayahku
Aku tak menyangka ayahku akan menjodohkan aku dengan lelaki yg bahkan tak ku kenali sama sekali ,bagaimana bisa aku menikahi seseorang yg aku tak kenal, apakah hubungan kami akan berhasil?mengapa ayah ku percaya dengan lelaki ini?apa yg akan terjadi dengan rmh tangga kami. Tapi karna ayah ku sakit dia bersikeras untuk menikahkan ku dengan lelaki ini,agar ketika dia tiada ada lelaki yg disamping ku menggantikannya Penasaran dengan pernikahan kami?akankah berjalan dengan lancar?maka bacalah kisah ku
10
|
19 Chapters
Dipoligami Karna Tak Kunjung Hamil
Dipoligami Karna Tak Kunjung Hamil
Cerita ini mengisahkan sepasang suami isteri yang sudah dua tahun lamanya menikah namun tidak kunjung diberikan momongan. Mereka adalah Ayana dan Zulfahmi. Namun karena desakan sang ibu yang sudah sangat mendambakan seorang cucu dari keturunan anak lelakinya, akhirnya sang ibu menyarankan untuk menjodohkan Fahmi oleh anak dari sahabat lamanya yang memiliki anak bernama Sarah agar bisa berpoligami untuk menjadi isteri keduanya Rencana poligami menimbulkan pro dan kontra antara banyak pihak. Terutama bagi Ayana dan Fahmi sendiri. Ayana yang notabenenya anak yatim piatu dan tidak memiliki saudara sama sekali, harus berbesar hati dengan rencana yang mampu mengguncangkan jiwanya yang ia rasakan seorang diri. Bagaimanakah kelanjutan kisah Ayana dan Fahmi? Apakah Ayana akan menerima dipoligami dan menerima dengan ikhlas karena di madu dan tinggal bersama madunya? Ikuti kisahnya..
10
|
58 Chapters
Reinkarnasi Dewa Terkuat
Reinkarnasi Dewa Terkuat
Dewa Benua Tian Yuan, Qin Yun, terjatuh dari puncak kekuasaan. Kekasihnya, Ling Xi, menusuknya dari belakang. Namun, kematian bukanlah akhir bagi Qin Yun. Jiwanya bereinkarnasi ke tubuh muda dan lemah dengan nama yang sama. Dengan ingatan masa lalu yang masih terjaga, Qin Yun kini ber tekad membalas dendam dan merebut kembali kejayaannya. Pertarungan pamungkas antara cinta, dendam, dan kekuasaan dimulai!
9.7
|
1960 Chapters
REINKARNASI
REINKARNASI
Kerajaan Kahuripan dibuat panik oleh hilangnya gadis-gadis setiap bulan purnama. Gadis- gadis itu selalu ditemukan di hari ketiga dalam kondisi tidak bernyawa dan darah yang kering. Semua itu adalah perbuatan dari Fajar Kelana yang ingin hidup abadi selamanya. Hingga akhirnya ia harus berhadapan dengan Pangeran Kamandraka tunangan dari putri Gayatri, gadis ke 100 yang ia incar sebagai gadis terakhir dari semua ritual yang ia lakukan. Namun, usahanya gagal. 600 tahun kemudian sesuai dengan sumpah Fajar Kelana, ketiganya dipertemukan kembali setelah mereka reinkarnasi. Akankah kali ini Fajar Kelana berhasil dalam menggapai ambisinya atau akan kembali gagal seperti 600 tahun yang lalu?
9.9
|
126 Chapters
Penyesalan Cinta yang Disadari Setelah Reinkarnasi
Penyesalan Cinta yang Disadari Setelah Reinkarnasi
Naomi rela menjadi penjilat Owen selama tiga tahun hingga tidak punya harga diri lagi dan mencintainya tanpa batas. Namun, dalam hati Owen, Naomi hanyalah sebuah pilihan cadangan yang tidak penting. Semua orang di Kota Lordus tahu kalau wanita yang dicintai Owen adalah Rochelle, sementara Naomi hanyalah pengganti murahan saja. Di saat malam pernikahan mereka, Naomi diculik dan disiksa selama tiga hari tiga malam, Owen tidak hanya menolak untuk membayar tebusan, bahkan berbahagia dengan mantannya di pesta pernikahan mereka. Di detik itulah Naomi baru sadar akan semuanya. Naomi terlahir kembali di pesta pertunangan tiga tahun lalu, di mana Owen meninggalkannya untuk menemui mantan terindah yang mau bunuh diri. Semua orang mentertawakan Naomi. Akan tetapi, Naomi tidak mempermasalahkannya, dia malah langsung mengumumkan untuk batal tunangan dengan alasan Owen disfungsi seksual. Seluruh dunia maya menjadi sangat heboh. Owen yang membenci Naomi pun langsung menahannya di dinding sambil berkata, "Naomi, apakah munafik itu menyenangkan?" "Pak Owen, apakah ada yang pernah mengataimu nggak tahu malu?"
9.1
|
404 Chapters
REINKARNASI PENDEKAR PEDANG
REINKARNASI PENDEKAR PEDANG
Seon, salah satu kandidat terbaik dari 10 Pewaris, ditangkap oleh Sekte Iblis dan dipaksa menjalani pelatihan Neraka. Namun, dia justru menemukan bakatnya dalam Pedang, hingga dikenal sebagai Pendekar Iblis Pedang. Hal ini membuat 9 Pewaris bekerjasama untuk membunuhnya. Hanya saja, di penghujung kematiannya, seorang Biksu dari Sekte Kebenaran mendoakan dirinya. Seon pun bereinkarnasi sebagai Raul dan dikenal sebagai sampah yang tidak berguna dari Keluarga Earl. Dia harus berjuang di dunia di mana Kesatria dan Penyihir hebat hidup .... Mampukah dia?
9.6
|
153 Chapters

Siapa Dalang Terkenal Yang Menceritakan Wayang Dongeng Saat Festival?

3 Answers2025-10-27 20:29:37

Aku selalu merasa bulu kuduk kebayang tiap kali ingat dalang-dalang besar yang suka tampil di festival; mereka bukan sekadar pementas, melainkan penjaga cerita yang bikin suasana hidup.

Di antara nama-nama yang sering disebut oleh penonton adalah Ki Manteb Soedharsono — sosok yang kerap diasosiasikan dengan wayang kulit dalam skala besar. Gayanya dramatis, vokalnya tegas, dan kemampuan mengolah lakon membuat cerita-cerita lama terasa segar, bahkan di tengah hiruk-pikuk festival. Pernah aku menonton malam penuh, lampu panggung redup, dan suaranya menyelimuti kerumunan sampai semua ikut terhanyut. Selain Ki Manteb, ada juga Ki Asep Sunandar Sunarya yang lebih melekat dengan wayang golek; dia punya sentuhan humor Sunda dan interaksi dengan penonton yang ramah, jadi festival terasa lebih hangat dan personal.

Kalau kamu datang ke festival wayang, biasanya kamu bakal mendengar nama-nama klasik lain seperti Ki Narto Sabdo atau Ki Anom Suroto — masing-masing punya ciri khas dan cara membawakan dongeng yang berbeda. Bagiku, yang membuat festival seru bukan cuma lakonnya, tapi bagaimana dalang itu menghubungkan cerita tradisional dengan momen sekarang; itu terasa seperti percakapan panjang antara generasi. Aku pulang selalu bawa pulang bukan cuma kenangan, tapi juga rasa kagum sama cara mereka merawat tradisi lewat panggung yang ramai.

Siapa Dalang Terkenal Yang Mengangkat Cerita Pewayangan?

4 Answers2025-12-07 08:26:45

Ada banyak dalang legendaris yang menghidupkan dunia pewayangan dengan caranya masing-masing. Ki Nartosabdo adalah salah satu nama besar yang langsung terlintas—kreativitasnya dalam mengolah cerita dan menggubah musik pengiring wayang benar-benar revolutionary. Ia bukan sekadar menyampaikan lakon tradisional, tapi juga menciptakan banyak karya orisinal seperti 'Lahirnya Gatotkaca' yang melekat di ingatan penikmat wayang.

Selain itu, Ki Anom Suroto juga punya tempat istimewa. Gaya mendalangnya yang dinamis dan kemampuan improvisasinya bikin pertunjukan wayang jadi hidup. Aku pernah nonton langsung salah satu pagelarannya, dan aura panggungnya benar-benar hypnotic. Ia berhasil memadukan pakem tradisi dengan sentuhan modern tanpa kehilangan esensi wayang sebagai seni tutur.

Bagaimana Cara Merawat Wayang Dewi Kunti Agar Tahan Lama?

3 Answers2025-10-28 21:30:10

Koleksi wayang kulit di rumahku selalu jadi pusat perhatian tamu, dan Dewi Kunti itu seolah punya karakter sendiri—makanya aku belajar merawatnya dengan telaten.

Pertama, kenali bahan yang dipakai. Kalau wayangmu terbuat dari kulit (wayang kulit), perlakuannya beda dengan wayang golek (kayu). Untuk kulit: jangan basahi permukaan kecuali sangat perlu. Bersihkan debu dengan kuas halus atau kuas make-up yang bersih, sapukan pelan mengikuti permukaan. Hindari kain basah karena bisa merusak cat dan membuat kulit mengerut. Untuk bagian yang terkelupas catnya, jangan gosok; cat yang retak lebih aman ditangani oleh orang yang paham restorasi. Jika ada kotoran membandel, gunakan kain mikrofiber sedikit lembap (air mineral saja) dan uji dulu di bagian tak terlihat.

Suhu dan kelembapan ruang sangat penting. Idealnya simpan di tempat sejuk, jauh dari sinar matahari langsung dan sumber panas; fluktuasi kelembapan bikin kulit retak dan kayu melengkung. Pakai silica gel di kotak penyimpanan bila perlu, atau lemari dengan sirkulasi udara baik. Untuk serangga, aku lebih suka cedar atau kantong lavender daripada kapur barus yang baunya kuat dan bisa merusak cat. Saat menampilkan wayang, pakai penyangga yang mendukung kepala dan batangnya agar tidak tergantung hanya pada tusukan satu titik—tekanan berlebih menyebabkan sobek.

Kalau wayang golek (kayu), seminggu sekali periksa sambungan dan cat; untuk pemulihan ringan, lapisi dengan lapisan tipis wax khusus kayu atau lilin mikrokrystallin, bukan minyak dapur. Dokumentasikan kondisi tiap kali membersihkan—foto detail membantu mengevaluasi perubahan. Untuk benda antik bernilai, konsultasikan dengan konservator profesional agar restorasi tidak mengurangi nilai sejarah. Merawatnya memang butuh waktu, tapi setiap kali membersihkan, rasanya seperti merawat cerita lama yang hidup lagi.

Apa Saja Jenis-Jenis Wayang Purwa Yang Paling Populer?

5 Answers2025-11-21 09:40:07

Wayang purwa itu kayak lautan cerita yang nggak ada habisnya! Yang paling sering dimainin pasti wayang kulit Jawa klasik dengan tokoh-tokoh ikonik kayak Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) yang selalu bikin ketawa. Ada juga Mahabharata series dengan perang Bharatayuddha-nya yang epik banget – Bima sama Arjuna tuh selalu jadi favorit penonton.

Kalau mau yang lebih filosofis, kisah Ramayana dengan Rama-Sinta dan Rahwana itu selalu bikin merinding. Wayang purwa juga punya banyak versi daerah, kayak wayang gedhog dari Madura atau wayang golek Sunda yang ceritanya mirip tapi punya karakteristik unik. Seni wayang tuh kaya gado-gado budaya, tiap daerah punya bumbu rasanya sendiri!

Apa Perbedaan Wayang Purwa Dengan Wayang Kulit Lainnya?

1 Answers2025-11-21 13:10:30

Membahas wayang kulit selalu seru karena tiap jenis punya karakter unik yang bikin penasaran. Wayang Purwa itu spesial banget karena dianggap sebagai bentuk paling klasik dan jadi dasar banyak varian wayang kulit di Jawa. Dibandingin sama wayang kulit lain seperti Wayang Gedog atau Wayang Krucil, Purwa punya ciri khas yang langsung bisa dikenalin dari bentuk fisik dan ceritanya yang kebanyakan adaptasi dari epos Mahabharata dan Ramayana. Sosok-sosok seperti Arjuna, Bima, atau Rahwana di Purwa punya proporsi tubuh dan ornamen yang sangat detail, sementara wayang lain mungkin lebih sederhana atau fokus pada cerita lokal.

Yang bikin Wayang Purwa beda lagi adalah filosofi di balik pembuatannya. Setiap lekuk dan ukiran di wayang ini bukan cuma buat hiasan, tapi punya makna simbolis tentang sifat tokohnya. Misalnya, bentuk mata yang melotok biasanya buat tokoh berwatak keras, sementara garis wajah yang halus menggambarkan kecerdasan. Kalau wayang kulit lain kadang nggak serumit ini dalam hal detail simbolis, karena lebih fokus pada narasi atau fungsi hiburan semata. Dulu waktu masih kecil, aku sering banget dibelain nenek buat nonton wayang semalam suntuk, dan sampai sekarang masih inget betapa hypnotic-nya gerakan wayang yang dimainin dalang berpengalaman.

Satu hal menarik lain adalah soal pewarnaan. Wayang Purwa tradisional cuma pake warna dasar hitam, putih, dan emas, yang sebenarnya mewakili konsep Tri Guna dalam Hindu. Sementara beberapa jenis wayang kulit lain kayak Wayang Sadat atau Wayang Suluh udah pakai warna lebih beragam karena penyesuaian zaman. Aku pernah diskusi sama seorang dalang tua di Solo, dan dia bilang justru kesederhanaan warna inilah yang bikin Wayang Purwa terasa lebih sakral dan timeless. Nggak heran kalau sampai sekarang masih jadi primadona di berbagai pertunjukan, bahkan buat yang bukan penikmat wayang sekalipun bakal kagum lihat keindahannya.

Apa Perbedaan Komik Wayang Dengan Cerita Wayang Tradisional?

3 Answers2025-11-04 22:25:42

Melihat komik wayang versi modern sering bikin aku mikir ulang soal apa yang hilang dan apa yang justru jadi lebih hidup dibanding cerita wayang tradisional.

Komik sebagai medium visual dan sekuensial memaksa cerita untuk dipadatkan—adegan panjang di panggung dalang bisa disingkat jadi beberapa panel yang padat gambar dan dialog. Ini membuat ritme berubah: momen-momen filosofis yang di pentas bisa hilang atau disampaikan lewat gambar simbolik, sementara aksi dan desain karakter mendapat porsi lebih besar. Gaya visual komik juga nggak selalu setia pada bentuk wayang kulit: kadang tokoh dibuat bergaya manga, kadang di-set dalam latar urban modern, sehingga pesan moral tradisional ikut bergeser atau ditafsir ulang.

Di sisi lain, cerita wayang tradisional hidup oleh performa dalang, musik gamelan, dan interaksi dengan penonton. Improvisasi dalang, sindiran sosial, dan permainan vokal memberi nuansa yang sulit ditiru komik. Tradisi itu punya ritme, jeda, dan nuansa lokal yang melekat—sesuatu yang terasa sakral dan kolektif. Komik lebih individual: dibaca sendiri, bisa diwarnai ulang oleh imajinasi pembaca, atau dipakai sebagai gerak masuk bagi generasi muda yang mungkin kurang dekat dengan pementasan.

Kalau aku harus menyimpulkan perasaanku, komik wayang itu seperti reinterpretasi cinta—mempermudah dan mempercantik supaya bisa menjangkau lebih banyak orang, tapi kadang juga membuat elemen ritual dan improvisasi kehilangan ruang. Yang penting, keduanya saling melengkapi: komik membantu menjaga relevansi cerita, sementara pertunjukan tradisional menjaga keaslian dan kedalaman pengalaman budaya.

Judul Komik Wayang Mana Yang Cocok Untuk Koleksi Penggemar?

3 Answers2025-11-04 05:06:57

Rak komikku selalu kebagian sudut khusus buat adaptasi wayang, dan kalau ditanya mana yang harus masuk koleksi, aku biasanya mulai dari klasik yang solid: karya R.A. Kosasih.

Kosasih itu semacam patokan—karyanya mengemas 'Mahabharata' dan 'Ramayana' dengan gaya gambar yang mudah dibaca tapi kaya detail, ditambah alur yang disesuaikan agar cocok untuk pembaca komik. Bagi kolektor, seri-seri komiknya seperti 'Pandawa Lima' dan edisi tentang 'Gatotkaca' sering jadi incaran karena mudah dikenali dan punya nilai nostalgia tinggi. Cari edisi lengkap dan kondisi halaman yang terawat; ada perbedaan harga signifikan antara cetakan pertama dan reprint yang sudah banyak kotoran.

Di luar itu, aku juga suka melengkapi koleksi dengan artbook atau kompilasi wayang modern—kadang ada reinterpretasi grafis yang menambahkan perspektif kontemporer pada tokoh klasik. Jika kamu memang serius mengoleksi, perhatikan detail seperti apakah covernya original, ada tandatangan pengarang/ilustrator, serta apakah ada lampiran seperti peta keluarga tokoh atau catatan budaya. Koleksi yang baik itu bukan sekadar judul, tapi cerita di balik cetakan dan kondisi fisiknya — itu yang bikin tiap buku punya jiwa ketika kubuka lagi di malam yang hujan.

Apa Perbedaan Karna Salibmu Lyrics Versi Asli Dan Versi Cover?

2 Answers2025-10-22 16:29:45

Aku selalu merasa ada dua jiwa berbeda dalam setiap lagu yang di-cover—dan 'Karna Salibmu' sering menonjol karena itu. Versi asli biasanya menaruh fokus pada teks dan pesan spiritual; hampir selalu mempertahankan semua bait dan susunan chorus yang lengkap sehingga jemaat atau pendengar bisa ikut doa lewat liriknya. Dalam versi orisinal, pilihan kata, susunan bait, serta pengulangan chorus cenderung dibuat untuk kemudahan ibadah: nada yang tidak terlalu ekstrem, ritme yang stabil, dan kunci yang aman untuk vokal umum. Aransemen instrumen umumnya sederhana—piano, gitar akustik, bass, dan kadang kordor—agar suara vokal dan pesan lirik tetap jadi pusat perhatian.

Kalau kamu dengar cover, yang berubah bukan cuma warna suara penyanyinya. Banyak cover memotong atau menambah bagian untuk efek dramatis: ada yang memangkas satu bait agar durasi lebih pendek, ada pula yang menambahkan jembatan baru (bridge) atau harmoni vokal untuk memberi nuansa segar. Beberapa cover juga mengubah kata-kata sedikit—bukan merombak makna, tapi menyesuaikan kosakata supaya lebih puitis atau lebih pas dengan gaya penyanyi. Ada juga perbedaan teknis seperti penggantian kunci supaya nyaman untuk range vokal si cover artist, atau memperlama bagian instrumental untuk solo gitar atau piano yang menonjol.

Dari sisi emosional dan konteks, versi asli sering terasa lebih khusyuk dan komunitatif, sedangkan cover bisa jadi lebih personal, teatrikal, atau bahkan modern—bergantung produksi. Misalnya, cover akustik intimate bakal menonjolkan getar emosi vokal, sementara cover bernuansa rock atau elektronik bisa menambah energi dan membuat lagu terasa seperti pengalaman konser. Hal-hal kecil juga penting: pelafalan, penggunaan huruf kapital seperti 'Mu' di lirik (yang menandakan penyebutan Tuhan), serta adopsi gaya lokal atau dialek bisa mengubah nuansa spiritual dan kedekatan lagu. Intinya, perbedaan antara versi asli dan cover bukan cuma soal kata-kata yang berubah, tapi tentang bagaimana lirik itu diinterpretasikan, dikemas, dan untuk audiens seperti apa ia ingin berbicara. Aku suka mendengarkan kedua versi karena masing-masing membawa arti yang berbeda buatku—ada waktu untuk khusyuk, ada waktu untuk tersentak tersentuh oleh aransemen baru.

Siapa Dalang Terbaik Yang Sering Mementaskan Wayang Dewi Kunti?

2 Answers2025-10-28 00:12:58

Ada satu dalang yang selalu bikin bulu kuduk merinding tiap kali ia menirukan suara Dewi Kunti: bagiku itu Ki Manteb Soedharsono. Aku masih ingat suasana panggung waktu melihat videonya—lampu temaram, gamelan menyisip, lalu vokal dalang yang berubah jadi lirih, penuh penyesalan ketika menyuarakan monolog Kunti tentang ibu dan pengorbanan. Gaya Ki Manteb terasa modern tapi tetap malu-malu pada tradisi; dia pintar menyeimbangkan gerak tangan yang halus dengan ekspresi vokal yang dramatis, sehingga tokoh Kunti nggak sekadar boneka di balik layar, melainkan sosok hidup yang kita bisa rasakan hatinya.

Dari sudut pandang penikmat, yang bikin Ki Manteb unggul adalah kemampuannya membangun suasana emosional yang intens tanpa kehilangan ritme cerita. Dia sering memanjangkan bagian-bagian suluk atau dialog batin, memberi ruang bagi sinden dan gamelan untuk menjiwai adegan, jadi penonton bisa larut bukan hanya mendengar, tapi merasakan setiap patah kata Kunti. Selain itu, dia nggak takut bereksperimen—adaptasi musik, pengaturan tempo, dan integrasi elemen visual modern—tapi selalu terasa hormat pada akar wayang itu sendiri.

Kalau kusebut ‘‘terbaik’’, itu subjektif pasti, tapi menurutku untuk representasi Dewi Kunti yang penuh nuansa, yang mampu menghadirkan kerapuhan sekaligus kewibawaan ibu, Ki Manteb sering kali jadi pilihan paling mengena. Di antara tawa dan jenaka para ksatria, adegan Kunti yang dibawakan olehnya selalu bikin ruang acara mendadak sunyi penuh haru. Aku senang kalau ada pagelaran yang menampilkan sisi emosional Mahabharata seperti ini; rasanya wayang bukan cuma tontonan, tapi pengalaman batin—dan Ki Manteb tahu caranya membuat pengalaman itu terjadi.

Mengapa Tokoh Wayang Disebut Nama Lain Bima Di Jawa Timur?

2 Answers2025-10-13 07:13:44

Seketika nama 'Bima' muncul di obrolan soal wayang, aku langsung kebayang karakter yang kuat, blak-blakan, dan mudah dikenali—itulah inti dari nama itu di banyak daerah, termasuk Jawa Timur. Aku sering nonton pagelaran wayang kulit dan wayang orang di kampung-kampung, dan yang menarik: penyebutan tokoh kadang berbeda antara pentas keraton dan pentas rakyat. Di kraton atau dalam tradisi Jawa Tengah yang more formal, kamu sering dengar nama seperti 'Werkudara' atau 'Bratasena'—nama-nama yang berbau Kawi/Sanskrit dan membawa nuansa halus, sementara di Jawa Timur nama 'Bima' dipakai karena lebih langsung dan akrab di lidah masyarakat luas.

Selain soal gaya bahasa, ada unsur sejarah dan penyebaran cerita yang bikin perbedaan itu makin jelas. Versi-versi 'Mahabharata' yang sampai ke desa-desa Jawa sering lewat jalur lisan, wayang beber, dan adaptasi lokal; saat kisah dikisahkan berulang kali, nama-nama yang pendek dan mudah diucapkan cenderung bertahan. Di Jawa Timur pengaruh dialek, kosakata setempat, serta campuran budaya Madura-Surabaya dan tradisi pelabuhan membuat nama 'Bima' jadi bentuk paling umum. Ditambah lagi, pentas rakyat biasanya mencari keterhubungan emosional cepat—panggilan 'Bima' terasa lebih akrab dan “berbadan” untuk tokoh yang memang digambarkan sebagai orang yang kuat dan lugas.

Kalau dari sisi dalang, pemilihan nama juga strategis. Dalang akan menyesuaikan penyebutan dengan audiens: kalau penonton lebih tradisional/keraton, istilah klasik muncul; kalau penonton pasar malam atau rakyat biasa, nama populer seperti 'Bima' dipakai supaya lelucon, renungan moral, dan adegan baku bisa langsung nyantol. Jadi singkatnya, penyebutan 'Bima' di Jawa Timur itu perpaduan antara kebiasaan lisan, kemudahan fonetik, pengaruh lokal, dan strategi panggung. Buat aku, itu justru bagian paling menarik dari wayang: fleksibilitasnya membuat kisah kuno ini tetap hidup di berbagai lapisan masyarakat, dan setiap nama membawa rasa dan warna yang sedikit berbeda saat pertunjukan dimulai.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status